Sabtu, 06/12/25 | 23:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home DAERAH

Gempuran Hiburan Modern, Dendang Saluang Kian Terlupakan

Jumat, 03/3/23 | 10:49 WIB

Padang, Scientia.id – Sumatera Barat dikenal dengan kekayaan seni budayanya, salah satunya dendang saluang—sebuah bentuk kesenian tradisional yang memadukan tiupan alat musik saluang dengan lantunan syair panjang penuh makna. Kesenian ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau selama ratusan tahun. Namun kini, gaung dendang saluang kian sayup, tergerus oleh perkembangan zaman dan gempuran hiburan-hiburan modern yang lebih populer di kalangan generasi muda.

Dulu, dendang saluang mengisi malam-malam masyarakat Minang dengan suara khas dan alunan syair mendalam yang menyentuh jiwa. Acara-acara seperti “malam saluang” atau “baralek dendang” menjadi ajang berkumpulnya warga dari berbagai usia untuk menikmati cerita yang disampaikan dalam irama yang mendayu. Kini, kegiatan semacam itu makin jarang ditemukan. Tempat-tempat yang dulu menjadi pusat pentas dendang saluang mulai sepi, bahkan banyak yang berhenti menyelenggarakan acara secara rutin.

Peneliti sejarah dan seni, Yose Hendra mengatakan dendang saluang dahulu bukan semata alat hiburan bagi warga. Dendang saluang dulunya menjadi pengantar malam yang sakral dan penuh makna. Lagu-lagu dendang saluang tak hanya meninabobokan, tapi juga menyampaikan petuah, sejarah, dan kritik sosial secara halus.

BACAJUGA

Prabowo Tinjau Lokasi Bencana di Sumbar Hari Ini, Pastikan Penanganan Berjalan Cepat

Prabowo Tinjau Lokasi Bencana di Sumbar Hari Ini, Pastikan Penanganan Berjalan Cepat

Senin, 01/12/25 | 13:22 WIB
Dalam 3 Hari, BNNP Sumbar Bongkar Dua Kasus Narkoba Besar

Dalam 3 Hari, BNNP Sumbar Bongkar Dua Kasus Narkoba Besar

Jumat, 12/9/25 | 22:40 WIB

“Ada petuah, sejarah dan kritik sosial yang melekat di dalamnya,” katanya kepada Scientia, Jumat (3/3/2023).

Namun menurutnya, semua itu sekarang telah bergeser. Kondisi ini tak lepas dari berubahnya cara masyarakat, khususnya anak muda, dalam menikmati hiburan. Dunia digital menawarkan beragam konten instan, cepat, dan visual yang dianggap lebih menarik. Musik pop, hip-hop, K-Pop, dan konten hiburan daring seperti TikTok dan YouTube telah menjadi konsumsi utama.

“Akibatnya, kesenian tradisional seperti dendang saluang dianggap “jadul” atau tidak relevan dengan selera zaman sekarang,” tambahnya.

Padahal, dendang saluang bukan hanya sekadar hiburan. Ia menyimpan nilai-nilai lokal, petuah-petuah hidup, hingga kritik sosial yang dibalut dalam syair panjang. Dalam satu sesi pertunjukan, pendendang bisa menyampaikan cerita tentang cinta, perjuangan, sejarah nagari, bahkan peringatan moral bagi pendengar. Namun karakter ini justru menjadi tantangan tersendiri di era digital, ketika perhatian orang mudah teralihkan dan durasi konsumsi konten makin pendek.

Tak hanya dari segi penikmat, tantangan juga datang dari segi pelaku seni. Semakin sedikit generasi muda yang tertarik mempelajari saluang dan seni berdendang. Dendang saluang memerlukan waktu belajar yang panjang, kemampuan menghafal syair, serta teknik pernapasan khusus untuk meniup saluang tanpa henti. Proses ini tentu tak semudah membuat konten viral dalam 15 detik. Akibatnya, regenerasi pelaku seni hampir mandek. Banyak grup kesenian tradisional yang kini beranggotakan orang-orang tua, tanpa penerus yang siap melanjutkan estafet budaya.

Lingkungan Tak Mendukung

Di sisi lain, lingkungan sekitar pun tak selalu mendukung upaya pelestarian. Minimnya ruang tampil, keterbatasan dukungan dari pemerintah, hingga kurangnya apresiasi masyarakat membuat posisi dendang saluang makin terpinggirkan. Bahkan di beberapa daerah, anak-anak muda yang mencoba belajar saluang dianggap aneh atau tidak keren oleh teman sebayanya. Stigma ini tentu menjadi penghalang besar dalam menumbuhkan minat terhadap kesenian warisan leluhur.

Jika tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan dendang saluang akan benar-benar lenyap dari peradaban. Kesenian yang dahulu menjadi jantung budaya Minangkabau, perlahan hanya akan menjadi catatan dalam buku sejarah, dikenang namun tidak lagi hidup. Sebuah ironi, mengingat Minangkabau adalah salah satu daerah dengan kebudayaan lisan yang kuat dan sarat makna.

“Ini harus kita waspadai, jangan sampai seni tradisi lisan ini hilang tergerus zaman dan cuma menjadi sejarah,” ujar Yose.

Meski begitu, masih ada secercah harapan. Digitalisasi dan media sosial yang selama ini dianggap sebagai penyebab lunturnya tradisi, sebenarnya bisa menjadi jembatan pelestarian. Jika dikemas dengan pendekatan baru, dendang saluang berpotensi menjangkau audiens yang lebih luas, bahkan lintas daerah dan negara. Konten edukatif, pertunjukan daring, atau kolaborasi dengan genre musik modern bisa menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kesenian ini kepada generasi muda.

Namun langkah tersebut tentu memerlukan komitmen bersama. Mulai dari komunitas seni, lembaga pendidikan, hingga pemerintah daerah harus saling bersinergi. Dendang saluang perlu diberikan ruang hidup baru, baik secara fisik maupun digital. Tanpa itu, dendang saluang hanya akan menjadi gema sunyi di kampung-kampung yang perlahan dilupakan, kehilangan makna dan pendengarnya.

“Perlu upaya yang kuat baik dari pemerintah, pegiat seni dan budaya dan juga generasi muda untuk kembali menghidupkan kesenian dendang saluang agar bisa terus hidup dan bertumbuh,” pungkasnya.

Kesenian tradisional seperti dendang saluang bukan sekadar hiburan tempo dulu. Ia adalah bagian dari jati diri dan kearifan lokal yang seharusnya tetap hidup di tengah kemajuan zaman. Saat dunia bergerak cepat, mungkin sudah waktunya kita melambat sejenak—dan kembali mendengar dendang yang pernah membentuk jiwa budaya kita. (Ram)

Tags: Dendang saluangKesenianSumbar
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pajak Jadian

Berita Sesudah

Eksistensi Perempuan dalam Film Dear David (2023)

Berita Terkait

PKDP Sumbar Salurkan 1.000 Paket Sembako untuk Korban Banjir, Longsor dan Galodo Padang Pariaman

PKDP Sumbar Salurkan 1.000 Paket Sembako untuk Korban Banjir, Longsor dan Galodo Padang Pariaman

Sabtu, 06/12/25 | 17:47 WIB

Padang Pariaman, Scientia - Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) Sumatera Barat menyalurkan 1.000 paket sembako untuk masyarakat terdampak banjir di...

Zalmadi Puji Respons Cepat Dinas Pertanian Padang Tangani Lahan Terdampak Bencana

Zalmadi Puji Respons Cepat Dinas Pertanian Padang Tangani Lahan Terdampak Bencana

Jumat, 05/12/25 | 22:49 WIB

Padang, Scientia - Upaya cepat Dinas Pertanian Kota Padang dalam memulihkan lahan pertanian yang terdampak banjir dan longsor mendapat apresiasi...

191 Ribu Liter Solar Disiapkan untuk Penanganan Bencana di Sumbar

191 Ribu Liter Solar Disiapkan untuk Penanganan Bencana di Sumbar

Kamis, 04/12/25 | 22:03 WIB

Padang, Scientia - Upaya percepatan penanganan bencana hidrometeorologis di Sumatera Barat (Sumbar) mendapat dorongan besar dari pemerintah pusat. Usulan Gubernur...

Mahyeldi Minta Pemotongan TKD 2026 untuk Sumbar Dibatalkan, Pemulihan Pascabencana Terancam Terganggu

Mahyeldi Minta Pemotongan TKD 2026 untuk Sumbar Dibatalkan, Pemulihan Pascabencana Terancam Terganggu

Kamis, 04/12/25 | 21:57 WIB

Agam, Scientia - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah meminta Pemerintah Pusat membatalkan rencana pemotongan anggaran Transfer Ke Daerah (TKD)...

Rico Alviano Turunkan Alat Berat Bersihkan Material Banjir di Gurun Laweh

Rico Alviano Turunkan Alat Berat Bersihkan Material Banjir di Gurun Laweh

Kamis, 04/12/25 | 13:06 WIB

Padang, Scientia - Upaya percepatan pemulihan pascabanjir di Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, terus mendapat dukungan. Sekretaris DPW...

Wapres Gibran Tinjau Agam: Percepatan Pemulihan Jadi Prioritas

Wapres Gibran Tinjau Agam: Percepatan Pemulihan Jadi Prioritas

Kamis, 04/12/25 | 12:40 WIB

Agam, Scientia - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung lokasi terdampak bencana di Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia,...

Berita Sesudah
Peran Latar Tempat dalam Perfileman Horor Indonesia

Eksistensi Perempuan dalam Film Dear David (2023)

POPULER

  • Zalmadi Puji Respons Cepat Dinas Pertanian Padang Tangani Lahan Terdampak Bencana

    Zalmadi Puji Respons Cepat Dinas Pertanian Padang Tangani Lahan Terdampak Bencana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Salurkan 1.000 Paket Sembako untuk Korban Banjir, Longsor dan Galodo Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Folklor dan Pariwisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Budaya Overthinking dan Krisis Makna di Kalangan Gen Z

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024