Senin, 27/7/26 | 10:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Minggu, 25/6/23 | 10:20 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Pada tahun 1326, perempuan penyihir diburu dan dibantai secara sistematis. Hal itu dilakukan selama empat abad hingga korban diperkirakan mencapai 100.000 nyawa. Penyihir di awal Abad Pertengahan sebetulnya berkaitan dengan peramuan obat-obatan dengan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi Raja Clovis di masa itu melarangnya dan memberi hukuman.

Setiap orang yang dicurigai diadili dengan dilempar ke air, dibakar hidup-hidup, dibunuh, atau dipenjara hingga mati. Mereka (perempuan yang dicurigai sebagai penyihir) dianggap lemah sehingga mudah dikuasai oleh iblis. Mereka pun dianggap menjadi penyebab dari setiap bencana dan keburukan yang tejadi di masyarakat.

Barulah pada 2018 lalu citra perempuan penyihir di Abad Pertengahan itu diluruskan. Mona Chollet menjelaskan bahwa penyihir yang dibantai di masa itu adalah mereka yang memiliki kemampuan menyembuhkan orang sakit dengan reramuan tumbuh-tumbuhan. Sebagian dari penyihir itu juga memiliki kemampuan proses persalinan kelahiran bahkan dimungkinkan tanpa rasa sakit. Di masa itu, perempuan penyihir juga melatih perempuan lain untuk melakukan pengobatan yang sama. Sayangnya, perkumpulan mereka dianggap sebagai perkumpulan perempuan-perempuan yang dikendalikan oleh setan.

Ada alasan yang menjengkelkan dan menggelikan mengapa pada akhirnya penyihir-penyihir ini diburu dan dibantai. Di masa itu, pengetahuan, kecerdasan, dan pikiran dianggap hanya domain maskulin. Oleh sebab itulah perempuan yang merambah ketiga hal itu dikucilkan.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Kategori ‘penyihir’ meluas tak karuan. Perempuan yang banyak bicara, tidak memiliki anak, dan memiliki kebebasan seksualitas pun dianggap sebagai penyihir. Para perempuan seperti demikian dianggap tidak sesuai dengan norma perempuan pada masa itu.

Chollet menanggapi peristiwa pembantaian penyihir itu terkait konteks misogini. Perempuan yang menyentuh domain pengetahuan, kecerdasan, dan pikiran sebisa mungkin dikembalikan pada posisi subordinat.

Saat ini, pada abad 21 ini, masihkah perempuan penyihir itu tersisa? Bila masih, tetapkah mereka diburu dan dibantai? Rupanya perempuan penyihir masih ada. Chollet membaginya ke dalam tiga kategori: perempuan tidak menikah, perempuan tak memiliki anak, dan perempuan tua tak menikah dan tak memikili anak. Label ‘penyihir’ disematkan kepada mereka karena tidak memenuhi standar ‘normal’ sebagai perempuan.

Lalu, tetapkah perempuan penyihir abad ini diburu dan dibantai? Jawabannya ialah tetap, tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka diberi label janda, perawan tua, hingga perempuan mandul. Di perguruan tinggi, dosen perempuan yang tidak menikah akan menjadi pembicaraan para mahasiswa. “Eh, ibu itu tidak menikah-menikah, loh!” Bahkan, sikapnya dalam keseharian dan mengajar akan dikait-kaitkan dengan status pernikahannya. Bila ia dosen yang tegas, ia cenderung tak disukai. Label ‘judes’ pun disematkan dan munculah pernyataan, “Judes, sih. Pantas tidak menikah!”

Seorang selebgram perempuan memilih untuk tidak memiliki anak meskipun ia menikah. Ia memaparkan sejumlah alasan atas pilihannya tersebut. Rupanya pilihan yang sangat pribadi ini pun sulit diterima oleh masyarakat. Ia mendapat kecaman bahkan dengan ujaran seperti, “Ah, bilang saja memang mandul dan tidak bisa beranak!” Rupanya, pelabelan dan perburuan perempuan penyihir masih diwarisi hingga abad 21 ini, ya!

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Moza dan Ijah” Karya Hayat Mardhotillah dan Ulasannya oleh M Adioska

Berita Sesudah

Kosakata Bahasa Turki dalam KBBI

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Berita Sesudah
Istilah “Deskriptif” dan “Preskriptif” dalam Ilmu Bahasa

Kosakata Bahasa Turki dalam KBBI

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko-DPRD Bukittinggi Resmi Setujui Revisi Perda Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026