Minggu, 25/10/26 | 16:03 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Minggu, 25/6/23 | 10:20 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Pada tahun 1326, perempuan penyihir diburu dan dibantai secara sistematis. Hal itu dilakukan selama empat abad hingga korban diperkirakan mencapai 100.000 nyawa. Penyihir di awal Abad Pertengahan sebetulnya berkaitan dengan peramuan obat-obatan dengan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi Raja Clovis di masa itu melarangnya dan memberi hukuman.

Setiap orang yang dicurigai diadili dengan dilempar ke air, dibakar hidup-hidup, dibunuh, atau dipenjara hingga mati. Mereka (perempuan yang dicurigai sebagai penyihir) dianggap lemah sehingga mudah dikuasai oleh iblis. Mereka pun dianggap menjadi penyebab dari setiap bencana dan keburukan yang tejadi di masyarakat.

Barulah pada 2018 lalu citra perempuan penyihir di Abad Pertengahan itu diluruskan. Mona Chollet menjelaskan bahwa penyihir yang dibantai di masa itu adalah mereka yang memiliki kemampuan menyembuhkan orang sakit dengan reramuan tumbuh-tumbuhan. Sebagian dari penyihir itu juga memiliki kemampuan proses persalinan kelahiran bahkan dimungkinkan tanpa rasa sakit. Di masa itu, perempuan penyihir juga melatih perempuan lain untuk melakukan pengobatan yang sama. Sayangnya, perkumpulan mereka dianggap sebagai perkumpulan perempuan-perempuan yang dikendalikan oleh setan.

Ada alasan yang menjengkelkan dan menggelikan mengapa pada akhirnya penyihir-penyihir ini diburu dan dibantai. Di masa itu, pengetahuan, kecerdasan, dan pikiran dianggap hanya domain maskulin. Oleh sebab itulah perempuan yang merambah ketiga hal itu dikucilkan.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Kategori ‘penyihir’ meluas tak karuan. Perempuan yang banyak bicara, tidak memiliki anak, dan memiliki kebebasan seksualitas pun dianggap sebagai penyihir. Para perempuan seperti demikian dianggap tidak sesuai dengan norma perempuan pada masa itu.

Chollet menanggapi peristiwa pembantaian penyihir itu terkait konteks misogini. Perempuan yang menyentuh domain pengetahuan, kecerdasan, dan pikiran sebisa mungkin dikembalikan pada posisi subordinat.

Saat ini, pada abad 21 ini, masihkah perempuan penyihir itu tersisa? Bila masih, tetapkah mereka diburu dan dibantai? Rupanya perempuan penyihir masih ada. Chollet membaginya ke dalam tiga kategori: perempuan tidak menikah, perempuan tak memiliki anak, dan perempuan tua tak menikah dan tak memikili anak. Label ‘penyihir’ disematkan kepada mereka karena tidak memenuhi standar ‘normal’ sebagai perempuan.

Lalu, tetapkah perempuan penyihir abad ini diburu dan dibantai? Jawabannya ialah tetap, tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka diberi label janda, perawan tua, hingga perempuan mandul. Di perguruan tinggi, dosen perempuan yang tidak menikah akan menjadi pembicaraan para mahasiswa. “Eh, ibu itu tidak menikah-menikah, loh!” Bahkan, sikapnya dalam keseharian dan mengajar akan dikait-kaitkan dengan status pernikahannya. Bila ia dosen yang tegas, ia cenderung tak disukai. Label ‘judes’ pun disematkan dan munculah pernyataan, “Judes, sih. Pantas tidak menikah!”

Seorang selebgram perempuan memilih untuk tidak memiliki anak meskipun ia menikah. Ia memaparkan sejumlah alasan atas pilihannya tersebut. Rupanya pilihan yang sangat pribadi ini pun sulit diterima oleh masyarakat. Ia mendapat kecaman bahkan dengan ujaran seperti, “Ah, bilang saja memang mandul dan tidak bisa beranak!” Rupanya, pelabelan dan perburuan perempuan penyihir masih diwarisi hingga abad 21 ini, ya!

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Moza dan Ijah” Karya Hayat Mardhotillah dan Ulasannya oleh M Adioska

Berita Sesudah

Kosakata Bahasa Turki dalam KBBI

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah
Istilah “Deskriptif” dan “Preskriptif” dalam Ilmu Bahasa

Kosakata Bahasa Turki dalam KBBI

Discussion about this post

POPULER

  • Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menaker Yassierli Jadi Keynote Speech di Acara Temu Akbar Alumni IKIP Padang/UNP, Ini Pesannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Road Show ke Fakultas, Ketum DPP ILUNI UNP Ajak Alumni Berjejaring dan Saling Dukung Sesama Alumni

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Singgah Sahabat Donizar, Menjaga Harapan Warga Perantauan di Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Apresiasi Kontribusi Alumni IKIP Padang/UNP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026