Rabu, 26/8/26 | 09:27 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Fungsi Kata Ya dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 02/4/23 | 07:00 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies)

Ya adalah kata yang sederhana dan mudah diucapkan dalam bahasa Indonesia. Kata ya disebut juga sebagai ungkapan singkat yang berasal dari kata iya. Kata iya digunakan untuk menjawab pertanyaan dalam konteks “membenarkan” atau “setuju”, seperti apakah Anda orang Indonesia? Untuk membenarkan informasi dari pertanyaan ini, kita bisa menjawabnya dengan kalimat iya, saya orang Indonesia atau iya, benar.

Apakah kata ya hanya berfungsi untuk menjawab pertanyaan? Jawabannya tidak. Dalam perkembangan komunikasi masyarakat Indonesia, baik formal maupun informal, kata ya digunakan dalam berbagai situasi. Pertama, selain sebagai jawaban, kata ya juga bisa digunakan dalam pertanyaan. Pertanyaan secara formal yang bertujuan untuk mengonfirmasi (memastikan) sesuatu, menggunakan kata tanya apakah, seperti apakah Anda mahasiswa saya,  apakah beliau ayah Anda, apakah laki-laki itu seorang penyanyi, dan apakah pertanyaan ini sulit. Di dalam percakapan informal, pertanyaan apakah dengan nuansa serupa bisa digantikan oleh kata ya, seperti:

  1. Anda mahasiswa saya ya?
  2. Beliau ayah Anda ya?
  3. Laki-laki itu penyanyi ya?
  4. Pertanyaan ini sulit ya?

Kata ya di semua akhir kalimat tanya tersebut berfungsi sebagai penegasan untuk mendapatkan konfirmasi “benar” atau “salah” dengan jawaban ya, tidak, bukan atau, belum. Pertanyaan konfirmasi (memastikan) dengan kata apakah dan ya memiliki nuansa yang berbeda di dalam percakapan masyarakat Indonesia. Pertanyaan dengan kata ya yang berfungsi menggantikan kata apakah menciptakan suasana yang lebih santai, akrab, dan ramah. Oleh sebab itu, pertanyaan dengan kata akhir ya juga sering kita temukan dari tuturan seseorang yang lebih dewasa kepada seseorang yang lebih muda, seperti anak-anak. Sebagian besar pertanyaan untuk anak-anak didominasi oleh kata ya, seperti:

  1. Sakit ya?
  2. Laparya?
  3. Panas ya, Nak?

Selain kalimat tanya apakah, kata ya juga bisa menggantikan fungsi partikel –kah di dalam berbagai kata tanya lainnya. Tujuannya juga sama, membuat kalimat tanya itu terkesan lebih santai dan ramah. Berikut adalah contoh penggunaannya:

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Tele- dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Senin, 03/8/26 | 07:33 WIB

1. Siapakah yang datang?
Siapa ya yang datang?

2. Siapakah yang menulis ini?
Siapa ya yang menulis ini?

3. Di manakah ponsel saya?
Di mana ya ponsel saya?

4. Di manakah restorannya?
Di mana ya restorannya?
5. Bagaimanakah cara menggunakan mesin ini?
Bagaimana ya cara menggunakan mesin ini?

6. Berapakah harga baju itu?
Berapa ya harga baju itu?

7. Kapankah kami bisa berlibur ke sana?
Kapan ya kami bisa berlibur ke sana?

8. Kapankah saya bisa datang ke rumahmu?
Kapan ya saya bisa datang ke rumahmu?

Kedua, kata ya berfungsi untuk menciptakan suatu kalimat perintah yang lebih santai. Kalimat perintah di dalam bahasa Indonesia bisa diutarakan secara tegas, biasa saja, dan halus. Kalimat perintah yang diutarakan secara tegas biasanya menggunakan verba dasar di awal kalimat, seperti Masuk!, Mandi sekarang!, Tulis namamu!, Duduk di sini!, dan sebagainya. Kalimat perintah dalam konteks normal atau biasa, bisa menggunakan partikel –lah, seperti Masuklah!, Mandilah sekarang!, Tulislah namamu!, Duduklah di sini!, dan sebagainya. Kalimat perintah halus secara formal bisa ditambahkan dengan kata silakan, tolong, dan mohon, seperti Mohon tunggu sebentar!, Silakan duduk!, Silakan masuk!, Tolong belikan dia makanan!, dan sebagainya.

Berdasarkan tiga situasi kalimat perintah tersebut, kata ya yang disematkan dalam sebuah perintah juga bisa memperhalus situasi seperti:

  1. Tunggu sebentara ya!
  2. Duduk di sini saja ya!
  3. Jangan lupa makan obat ya, Bu!
  4. Nanti kabari saya ya, kalau kamu sudah sampai di rumah!
  5. Saya ambil dulu ya!

Kata ya di dalam kalimat-kalimat perintah ini membuat susananya menjadi lebih santai dan halus karena dituturkan untuk percakapan informal.

Ketiga, kata ya diutarakan sebelum kata sapaan dengan fungsi yang sama, yaitu mencipatakan suasana yang lebih santai dan ramah. Berikut ini adalah contoh kalimatnya:

1. Sampai jumpa lagi, Bu.
Sampai jumpa lagi ya, Bu.

2, Terima kasih, Kak.
Terima kasih ya, Kak.

3. Saya pergi dulu, Nek.
Saya pergi dulu ya, Nek.

Kata ya sebelum kata sapaan Bu (ibu), Kak (kakak), dan Nek (nenek) memberi kesan ramah sebelum menyebutkan sapaan tersebut. Hal ini menciptakan nuansa yang berbeda jika dibandingkan dengan tuturan sebelumnya (tanpa kata ya).

Keempat, kata ya digunakan sebagai rangkaian sebutan atau panggilan. Contoh konteks ini sering kita temukan ketika seseorang menyebut Tuhan, seperti Ya Allah, Ya Tuhanku, Ya Rabb, dan sebagainya. Kata ya dalam konteks ini menyerupai fungsi ya dalam tuturan bahasa Arab.

Kelima, kata ya, baik dengan intonasi yang pendek maupun panjang, digunakan dalam berbagai ekspresi, seperti “berpikir”, “tidak tahu”, “menyerah”, “bingung”, dan sebagainya. Kita bisa melihat pemakaiannya dalam contoh tuturan-tuturan berikut:

  1. Ya… gimana ya?
  2. Ya… gitu
  3. Ya… aku juga bingung.
  4. Ya sudahlah ya.
  5. Ya… mau bagaimana lagi?
  6. Ya sudah!
  7. Ya…

Khusus untuk contoh tuturan nomor 7, perbedaan posisi ya ternyata memberi nuansa yang sangat berbeda pula. Sebagai masyarakat Indonesia, kita bisa memahami betul perbedaan tuturan ya … maaf dengan tuturan maaf ya. Tuturan ya … maaf seolah dituturkan dengan suasana hati yang tidak tulus, bingung, atau terpaksa. Inilah yang membedakannya dengan tuturan maaf ya. Posisi kata ya di belakang kata maaf tidak sama dengan fungsi kata ya yang berada di awal kata maaf. Kata ya yang berada di akhir kata maaf memiliki fungsi sebagai sapaan atau panggilan yang ditujukan kepada seseorang. Selain itu, kata ya di akhir kata maaf juga memiliki fungsi yang sama dengan kata ya di akhir kalimat perintah, seperti maaf ya, Dek. Maaf ya, Bu. Maaf ya, Kak. Akan tetapi, kata ya yang berada di awal kata maaf memiliki fungsi yang sama dengan kategori kelima. Inilah berbagai fungsi kata ya dalam percakapan bahasa Indonesia.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

‘Mudik’ dan ‘Pulang Kampung’ dalam Perspektif Bahasa dan Sosial

Berita Sesudah

Polemik Tuan Rumah Piala Dunia U-20 dan Implikasinya terhadap Kondisi Bangsa

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Universitas Andalas baru saja menyambut...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Tele- dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Senin, 03/8/26 | 07:33 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kali ini, kita akan membahas bentuk terikat...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

Senin, 27/7/26 | 05:28 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Linguistik FIB Universitas Andalas) Ada yang menarik dari konten...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

Minggu, 19/7/26 | 21:01 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Bahasa didefinisikan sebagai...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata bantu dan tolong...

Berita Sesudah
Polemik Tuan Rumah Piala Dunia U-20 dan Implikasinya terhadap Kondisi Bangsa

Polemik Tuan Rumah Piala Dunia U-20 dan Implikasinya terhadap Kondisi Bangsa

Discussion about this post

POPULER

  • Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]

    Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga ASN Pemprov Sumbar Lakukan Perbuatan Asusila di Kantor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masheri Yanda Dilantik Jadi Sekda Kabupaten Solok

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026