Jumat, 19/6/26 | 23:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Antara ‘Betina’ dan Perkara Misoginis Lainnya

Minggu, 05/2/23 | 10:53 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Di media sosial kerap dijumpai kata ‘betina’ untuk menyebut perempuan. Sebutan itu biasanya muncul dalam komentar yang membahas sekelumit persoalan perempuan. Misalnya dalam menanggapi stereotipe perempuan dengan jawaban ‘terserah’ bila ditanya mau makan apa. Ujung dari komentar bisa saja berbunyi, “Maumu apa, sih? Dasar betina!”

Bila merunut arti dalam kamus, ‘betina’ berarti ‘perempuan’ (biasanya dipakai untuk binatang atau benda). Pengertian lainnya dari kata ini ialah ‘pasangan’ (bagi binatang jantan). Berdasarkan arti dari kamus tersebut, keduanya mengarah pada jenis kelamin yang dimiliki oleh binatang maka tidak heran bila sebagian orang tidak berkenan dengan sematan kata ini untuk perempuan.

Penyematan kata ‘betina’ seolah melecehkan dan merendahkan. Kata itu pun kerap muncul dari seseorang yang kurang menyukai sikap atau tindakan tertentu dari perempuan (tanpa memandang sisi positif dan negatifnya). Misalnya untuk mengomentari aktivis yang getol bicara soal kesetaraan gender. Bagi mereka yang menolak kesetaraan, perempuan itu bisa saja dilabeli dengan ‘Betina Ribet’.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Boleh setuju boleh tidak, penyebutan ‘betina’ kepada perempuan agak menjurus pada tindakan misogini. Kata ‘betina’ biasanya digunakan untuk menghujat, menyudutkan, dan meremehkan perempuan. Sebaliknya, jarang ditemukan kata ‘jantan’ untuk menghujat dan menyudutkan laki-laki. Kata ‘jantan’ justru bermakna positif dan berupa pujian dengan arti gagah dan berani.

Misogini merupakan kebencian terhadap perempuan. Seseorang yang berpotensi misogini tidak hanya laki-laki, namun juga perempuan itu sendiri. Oleh sebab itu, dikatakan misogini tidak bias gender. Tindakannya pun tidak melulu berupa pelecehan dan kekerasan fisik, tetapi juga berbentuk verbal seperti penyebutan ‘betina’ pada contoh kasus sebelumnya.

Seseorang yang menganut pemikiran misogini memandang perempuan dengan rendah hingga sampai pada tahap benci, misalnya pendapatnya tidak didengarkan karena di hadapan misoginis perempuan itu lemah akal. Contoh lainnya, perempuan dipandang sebagai objek yang hanya harus manut tanpa boleh membantah karena di hadapan misoginis perempuan itu tulang rusuk yang bengok. Pemikiran serupa inilah yang kemudian dapat berujung pada tindakan yang lebih ekstrem, seperti pelecehan verbal, kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga pembunuhan.

Kajian gender dan Islam pun menyinyalir bahwa hadis-hadir tertentu bernuansa membenci perempuan. Hadis-hadis ini kemudian disebut “hadis-hadis misogini”. Hadis yang dimaksud di antaranya: perempuan yang disebut tulang rusuk laki-laki, kurangnya akal dan agama perempuan, dan perempuan penghuni neraka terbanyak. Tidak jarang pula hadis-hadis tersebut dijadikan senjata untuk menyudutkan perempuan. Pemahaman yang terlanjur keliru soal hadis-hadis itulah yang berusaha diluruskan oleh aktivis gender dan Islam hingga kini.

Akibat dari pandangan misogini tidaklah main-main. Pandangan ini membuat perempuan rentan mengalami pelecehan dan kekerasan. Seorang misoginis menyalurkan kebenciannya dengan cara menghina, memukul, memerkosa, membunuh, dan perbuatan apa saja yang dapat membuat pelaku merasa puas. Menyebut perempuan dengan ‘betina’ adalah salah satu contoh kecil yang tidak bisa dinormalisasi begitu saja.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-Puisi Annisa Berliana

Berita Sesudah

Kenangan di Yogyakarta (2): Sendal Tetangga di Kereta Jogja-Surabaya

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Berita Sesudah

Kenangan di Yogyakarta (2): Sendal Tetangga di Kereta Jogja-Surabaya

Discussion about this post

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cempaka Tanjung Pimpin Perempuan Bangsa Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Minta SPPG se Kota Padang Persiapkan Diri Hadapi Sistem Penilaian atau Grading dari Badan Gizi Nasional (BGN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Muswil Perempuan Bangsa Sumbar: Firdaus Dorong Perempuan Jadi Pelaku Utama Politik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firman Pimpin PKB Padang Pariaman, Bidik Tambah Kursi dan Rebut Kursi Ketua DPRD

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026