Senin, 07/9/26 | 05:14 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Menilik Fungsi Imbuhan –is dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 22/1/23 | 07:23 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Alumnus S-1 Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas)

 

Bahasa Indonesia memiliki banyak imbuhan serapan. Imbuhan serapan adalah imbuhan yang bersumber dari bahasa asing ataupun bahasa daerah (Putrasaya, 2008:9). Pada dasarnya, imbuhan serapan memiliki beberapa jenis dalam bahasa Indonesia, di antaranya ada berupa awalan dan ada berupa akhiran. Imbuhan serapan yang tergolong jenis awalan seperti pra-, tuna-, pramu-, maha-, non-, dan swa-, sedangkan imbuhan serapan yang tergolong jenis akhiran seperti –man, -wan, -wati, -a, -i, -in/at, -ani, –iah, -is dan –isme.

BACAJUGA

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Salah satu imbuhan serapan tersebut ialah imbuhan –is. Menurut Eliastuti dalam artikelnya yang berjudul “Etimologi Sufiks Asing dalam Bahasa Indonesia pada Rubrik Zoom Out dalam Koran Tempo” menyebutkan secara etimologi, imbuhan –is dalam bahasa Indonesia berasal dari –isch, -ist (bahasa Belanda) dan –ic, -teal (bahasa Inggris). Contoh ini dapat dilihat pada penggunaan kata praktis dan kata biologis.

Pada kata praktis terlihat menggunakan imbuhan –is di belakangnya. Secara etimologi, kata praktis berasal dari bahasa Belanda praktisch, yang berarti ‘berdasarkan praktik.’ Dalam Ejaan Yang Disempurnakan V (2022), khusus dalam tata cara penulisan unsur serapan, semestinya telah disebutkan bahwa “gabungan huruf ch yang dilafalkan /s/ atau /sy/ menjadi s”. Oleh sebab itu, kata praktisch (bahasa Belanda) menjadi praktis dalam bahasa Indonesia. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Repbulik Indonesia dalam KBBI V (2016), kata praktis merupakan adjektiva yang memiliki makna 1) ‘berdasarkan praktik’, 2) ‘mudah dan senang memakainya (menjalankan dan sebagainya).’

Selanjutnya, kata biologis. Pada kata biologis juga terlihat menggunakan imbuhan –is di belakangnya. Secara etimologi, kata biologis berasal dari bahasa Inggris biological yang dibentuk dari kata biology dan akhiran –cal, yang berarti ‘berhubungan dengan ilmu hayat’. Kata biologis dalam KBBI V (2016) diartikan ‘bersangkutan dengan biologi.’

Kemudian, Putrasaya dalam Kajian Morfologi: Bentuk Derivasional dan Infleksional (2008:32), menyebutkan bahwa imbuhan –is memiliki makna ‘sifat atau orang’. Untuk lebih jelas, mari  dilihat masing-masing makna tersebut di bawah ini.

(1) Imbuhan –is yang memiliki makna ‘sifat’. Contoh penggunaan makna ini dapat dilihat pada kata berikut:

  • birokratis: ‘bersifat birokrasi’
  • demokratis: ‘bersifat demokrat’
  • dialogis : ‘bersifat terbuka dan komunikatif’
  • diplomatis: ‘bersifat sangat hati-hati dalam mengutarakan pendapat (dengan menggunakan kata-kata atau kalimat yang samar-samar atau terselubung)’
  • filantropis: ‘bersifat filantropis; berdasarkan cinta kasih terhadap sesama manusia’

(2) Imbuhan –is memiliki makna ‘orang’. Contoh penggunaannya dapat dilihat pada kata berikut:

  • kulturalis : ‘orang atau kelompok masyarakat yang berpegang teguh pada kultur’
  • nasionalis: ‘orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya’
  • fatalis: ‘orang yang percaya atau menyerah saja kepada nasib’
  • futuris :‘orang yang mempelajari dan memprediksi masa depan, terutama yang berkaitan dengan tren; atau orang yang menganut futurisme’
  • finalis :‘orang atau tim yang mengikuti final (tentang perlombaan)’

Berdasarkan makna tersebut, terlihat bahwa imbuhan –is ialah berfungsi sebagai pembentuk adjektiva (kata sifat) dan pembentuk nomina (kata benda). Nomina adalah kategori kata dalam bahasa Indonesia yang secara sintaktis memiliki ciri: (1) tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak; (2) tidak dapat didahului oleh keharusan wajib, (3) tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak (paling, sangat, lebih), dan (4) berpotensi didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah sebuah, satu, sebatang dan sebagainya, sedangkan adjektiva adalah kategori kata yang menerangkan nomina dan secara umum memiliki kemampuan bergabung dengan kata lebih dan sangat. Contohnya: sangat egois atau lebih egois.

Jika dilihat pula dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V (2016), imbuhan –is adalah bentuk terikat. Sebagai bentuk terikat, imbuhan –is memiliki tanda hubung (-) di depannya. Salah satu fungsi tanda hubung (-) tersebut ialah digunakan untuk merangkai. Dengan demikian, imbuhan –is memiliki tata cara penulisan yang sama dengan penulisan sufiks/akhiran dan kata ganti –ku, -mu, dan –nya dalam bahasa Indonesia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V (2016), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mendefinisikan bahawa imbuhan –is adalah berfungsi: 1) ‘sufiks pembentuk adjektiva’, 2) ‘sufiks pembentuk nomina’. Sufiks diartikan imbuhan (afiks) yang ditambahkan pada bagian belakang kata dasar. Imbuhan –is berfungsi sebagai pembentuk adjektiva memiliki makna ‘berkaitan dengan.’ Contoh penggunaan makna ini dapat dilihat pada kata audiologis ‘berkaitan dengan audiologi’, predatoris ‘berkaitan dengan predator’, dan anikonis ‘berkaitan dengan simbol atau lambang yang secara tidak langsung menimbulkan pertalian dengan sesuatu yang dilambangkannya.’

Sementara itu, imbuhan –is yang berfungsi sebagai pembentuk nomina memiliki makna ‘orang yang bergerak atau ahli dalam’. Contoh makna ini dapat diihat pada kata kartunis ‘ahli menggambar kartun’, linguis ‘ahli lingustik’, kosmetologis ‘ahli kosmetik’, dan akupunkturis ‘ahli pengobatan tusuk jarum.’

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa imbuhan –is sebagai imbuhan serapan dalam bahasa Indonesia memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai pembentuk nomina (kata benda) dan pembentuk adjektiva (kata sifat). Di samping itu,  imbuhan –is juga memiliki tiga makna, di antaranya makna ‘sifat atau orang’, makna ‘berkaitan dengan’, dan makna ‘orang yang bergerak atau ahli dalam’. Semoga bermanfaat dan mencarahkan pembaca.

 

Tentang Penulis:

Yori Leo Saputra dilahirkan di Pale pada 3 Agustus 1999. Ia beralamat di Pale, Koto VIII Pelangai, Kec. Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Ia adalah alumnus S-1 Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Ia memiliki hobi membaca, menulis, memotret, dan berolaraga dan aktif menulis tulisan tentang kebahasaan.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Melucuti Kerapuhan Maskulinitas

Berita Sesudah

Ibu Kota Nusantara (IKN)

Berita Terkait

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Berita Sesudah
Ibu Kota Nusantara (IKN)

Ibu Kota Nusantara (IKN)

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Apresiasi REMNI Festival 2026 “Wujudkan Padang Juara”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbar Dorong Petani Gambir Naik Kelas Lewat Program “Desa Devisa”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026