Sabtu, 17/1/26 | 20:58 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Bertanam “Si Pedas Merah” dengan Good Agricultural Parctice (GAP)

Minggu, 21/8/22 | 07:00 WIB

Oleh: Silvia Permata Sari
(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

Salah satu komoditas pangan yang sering mengalami fluktuasi harga adalah Capsicum atau dalam kehidupan sehari-hari kita kenal dengan nama “cabai” atau “si pedas merah”. Sayuran yang identik dengan warna merah dan rasa pedas yang luar biasa membuat tanaman ini mudah dikenal oleh semua kalangan masyarakat. Cabai (Capsicum sp.) dapat tumbuh di wilayah Indonesia, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar cabai pun besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai di Indonesia pun sangat tinggi, bahkan 90 persen cabai dikonsumsi dalam bentuk segar. Untuk itu diperlukan informasi dan pengetahuan teknis tentang budi daya cabai dengan Good Agriculture Practice (GAP) yang mengedepankan keamanan pangan dengan mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia, dan beralih ke pupuk kandang/kompos dan pestisida nabati sehingga dapat menurunkan biaya produksi. Good Agricultural Parctice (GAP) adalah salah satu sistem sertifikasi dalam praktik budi daya tanaman yang baik sesuai dengan standar yang ditentukan. Namun, tantangan dalam budi daya tanaman yang pedas ini adalah bagaimana caranya agar produksi cabai terus meningkat agar petani cabai bisa untung ke depannya.

Pada artikel kali ini kita akan mengupas bagaimana budi daya cabai yang baik dan benar. Ada lima tahapan yang perlu diperhatikan dalam budi daya cabai yang baik dan benar tersebut, yaitu: pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan. Berikut penjelasan dari masing-masing tahapan:

BACAJUGA

Kisah Sukses Petani Organik di Bukit Gompong

Belajar Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga

Minggu, 12/2/23 | 07:49 WIB
Pestisida Nabati, Sahabat Baru Pencinta Tanaman di Masa Pandemi Covid-19

Melek Bahaya Pestisida, Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat

Minggu, 04/9/22 | 07:24 WIB

Pertama, Pembibitan

Berbicara pembibitan artinya kita berbicara tentang persemaian. Persemaian dibuat dalam bedengan atau rak yang diberi naungan plastik transparan. Buat campuran media semai 2 dengan komposisi sebagai berikut: 2 ember tanah ditambah 1 ember pupuk kandang dan 80 gram pupuk NPK dihaluskan, lalu tambah 75 gram Karbofuran lalu diayak. Dengan komposisi sebanyak ini, kita bisa dapatkan 300-400 polybag. Benih ditanam dalam polybag atau plastik semai ukuran 4×6 cm, dibuat lubang semai 0.5 cm dan ditutup tanah halus atau abu. Kemudian, bibit dipindah ke lapang setelah berumur 17-21 hari.

Kedua, Persiapan Lahan

Tahapan kedua jauh-jauh hari memang harus anda persiapkan, tepatnya 40 hari sebelum masa tanam. Caranya dengan ukur tingkat keasaman (pH) lahan yang akan anda gunakan, beri kapur sesuai dosis (4-5 ton/ha), bajak dengan traktor/cangkul hingga kedalaman 30-40 cm, gulma/rumput liarnya dibersihkan, taburkan pupuk kandang sebanyak 20-30 ton/ha, buat bedengan dengan lebar 110-120 cm, tinggi 30-40 cm, dan jarak antar bedengan 60-70 cm, dan untuk panjang bedengan itu bisa anda sesuaikan dengan panjang lahan. Untuk mengukur tingkat keasaman tanah, Anda dapat menggunakan pH meter. pH meter ini tersedia di toko-toko tani atau apotek. Setelah itu, beri pupuk dasar Urea/ZA 500, SP36 300, KCl 200, aduk rata, lalu tabur per meter lebih kurang sebanyak 100 gram. Berikut jumlah kapur Dolomit (ton/ha) jika tingkat keasaman (pH) sebelum olah tanah: 6.45 ton/ha (jika pH = 4.8), 5.49 ton/ha ((jika pH = 5.0), 4.54 ton/ha (jika pH = 5.2), 3.6 ton/ha (jika pH = 5.4), dan 2.65 ton/ha (jika pH = 5.6). Kemudian, hal lain yang perlu dilakukan dalam tahapan persiapan lahan adalah pemasangan mulsa (plastik). Pemasangan mulsa plastik sebaiknya dilakukan pada saat terik matahari. Tarik kuat supaya permukaan rapidan tidak kendur. Mulsa dapat mencegah tumbuhnya gulma dan tanaman penganggu, serta menjaga kelembaban tanah.

Ketiga, Penanaman

Jarak tanam yang kita gunakan yaitu 60 x 60 cm. Adapun cara menanam bibit pada bedengan yaitu tanamlah pada pagi dan sore hari, sehari sebelum penananam sebaiknya lahan diairi bersamaan dengan pembuatan lubang tanam pada mulsa plastik tersebut. Lepaskan polybag persemaian dengan hati-hati agar tidak merusak akar cabai, lalu tanam dan siram secukupnya, lalu tutup dengan tanah secukupnya. Ada beberapa syarat lokasi penananam yaitu tersedia sumber air yang cukup, tempatnya terbuka dan bersih, serta mudah dalam pengawasan.

Keempat, Pemeliharaan

Pemeliharaan mencakup pemupukan, pemasangan ajir, serta pengendalian hama dan penyakit. Pemasangan ajir atau lanjaran paling lama dilakukan pada 21 Hari Setelah Tanam (HST). Kemudian untuk pemupukan, pupuk yang digunakan yaitu pupuk NPK (16:16:16) dengan konsentrasi 10 gram/liter, dosis aplikasi 250 cc/tanaman, waktu aplikasi 15 hari setelah tanam dengan cara aplikasi yaitu dikocor (pemupukan pertama). Pemupukan kedua dgn pupuk yang sama (NPK 16:16:16) dengan dosis konsentrasi 250 cc/tanaman, waktu aplikasi 30-35 HST, dikocor. Pemupukan ketiga (NPK 16:16:16) yaitu dengan dosis aplikasi 7.5 gram/tnaman atau sekitar 1 sendok makan per lubang tanam, waktu aplikasi 50-65 HST, 115 HST, dengan cara ditugal. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan lahan, monitoring (pengamatan) perkembangan hama dan penyakit secara rutin, identifikasi hama dan penyakit jika terserang, buang bagian tanaman yang terserang penyakit, dan jika populasi hama dan penyakit tinggi maka gunakan pestisida yang selektif secara bijak artinya jika menurut pengamatan anda tidak ada hama, maka tidak perlu dilakukan penyemprotan pestisida. Pemeliharaan lainnya yaitu perempelan (buang tunas di ketiak daun di bawah cabang Y). Untuk dataran rendah, perempelan dimulai pada hari 8-12 setelah tanam, sedangkan untuk dataran tinggi perempelan dimulai pada hari ke 15-20 setelah tanam. Lakukan perempelan kembali pada 75 hari setelah tanam pada dataran rendah dan 90 hari setelah tanam pada dataran tinggi. Untuk pengairan dan drainase gunanakan ketersediaan air yang tepat guna.

Kelima, Pemananen

Cara panen dilakukan dengan dipetik buahnya. Cabai dipanen pada saat buah berwarna merah 100% jika digunakan untuk dijual ke industri pengolahan cabai namun jika untuk dijual ke pasar maka cabai dipakek pada saat buah berwarna merah 80% guna menghindari pembusukan yang cepat.

Jadi, itulah trik budi daya cabai yang baik dan benar sesuai Good Agricultural Parctice (GAP). Bagi Anda yang tertarik bertanam cabai di lahan atau areal perkarangan rumahnya sendiri, silahkan mencoba. Salam pertanian.

Tags: #Silvia Permata Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Folklor dan Pariwisata

Berita Sesudah

Cerpen “Jilbab” Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Cerpen “Jilbab” Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Cerpen "Jilbab" Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Discussion about this post

POPULER

  • Tanamkan Demokrasi Sehat: Undhari Gelar Kongres Mahasiswa 2025, Widya Ana Putri Pimpin DPM Baru

    Tanamkan Demokrasi Sehat: Undhari Gelar Kongres Mahasiswa 2025, Widya Ana Putri Pimpin DPM Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Salurkan BSTT Pada Korban Kebakaran di Kelurahan Jati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ingin Bahagia, Sering-seringlah Berbagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda Tunggakan Air PDAM Padang Naik Bertahap, Pelanggan Terancam Diputus Tanpa Pemberitahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024