Rabu, 25/2/26 | 07:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI PUISI

Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

Minggu, 20/2/22 | 08:06 WIB

Pudar

Malam, aku bercerita tentang pelangi
yang lama hilang tak jumpa
Aku bertanya kemana
kau habiskan warna merah jalang itu?
Kau jawab ada di dalam diriku
Terpaut bersama nadi-nadiku

Bagaimana dengan kuningmu? tanyaku lagi
Telah kau habiskan untuk bahagiamu
Hijaunya ke mana ?
Bukankah telah kau basuh
Lalu, apa yang tersisa untukmu ?

Warna putih yang tak ingin kugores di atasnya, jawabmu
Karena semua telah pudar bersama perjuangan

Marunggi, Januari 2022

BACAJUGA

Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

Minggu, 01/6/25 | 10:01 WIB
Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

Minggu, 18/5/25 | 08:43 WIB

Akhir Sebuah Cerita

Seperti angin yang berlari mencari tempat menetap
Andalkan segala gumpalan pendirian pada tubuh-tubuh layu
Paksakan tiupan yang menahan arti sebuah keinginan
Berjuang merampas retorika menjajakan bukti ketulusan

Dia merayu lilin yang hapir padam
Menyatakan keserakahan pemiliknya
Sampai-sampai dia lupa irama asap yang telah menenggelamkannya
Di akhir cerita dia tahu kau tak setia

Seperti angin yang mencari tempat menetap
Meraba hari untuk kembali pada tujuan

Marunggi, Februari 2022

 

Bukan Apa-Apa

Sejenak ku tatapi wajah lesu itu
Meski pun malam sudah larut
Masih saja tak kau palingkan muka itu
Aku tentu saja terus menunggu
Membiarkan habis tenangmu

Dalam hati kau simak satu per satu
Urutan duka kau panggil depanku
Serta kau mohonkan pintamu
Katamu tak perlu kutahu
Biarkan semua itu jadi bunga tidurmu

Apa kau tak sadar
Bayangmu terus mengurungku
Hingga susah payah kutelusuri kau lewat hatiku
Masih belum cukup itu bagimu
Tak rasa berdosa kau rasuki tubuhku

Aku tak menyangka kau setega itu
merenggut bahagiaku, merampas ketenanganku
Tetap saja aku bukan apa-apa bagimu.

Marunggi, Februari 2022

 

Biodata:

Yogi Resya Pratama lahir di Pariaman. Alumni SMA Negeri 3 Pariaman ini mempunyai hobi menulis puisi. Saat ini ia sedang merampungkan studi di Jurusan Bimbingan dan Konseling IAIN Batusangkar.

Tags: #Yogi Resya Pratama
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Kesempatan Kedua” oleh Sakura Alvino dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Sesudah

Dikejar Deadline: Kekuatan Untuk Menyelesaikan Pekerjaan

Berita Terkait

Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

Minggu, 25/1/26 | 13:00 WIB

Gambar:GeminiAI Sore di Bulan Juni Aku tidak tahu mengapa semuanya begitu pelan dan bahkan begitu cepat, bulan yang di mana...

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Minggu, 18/1/26 | 19:35 WIB

Sumber gambar: GeminiAI Tanpa Ingin Menjadi Utama Oleh: Arza Kailla Chaerani Kau hadir tanpa gegap gempita Seperti lagu yang tak...

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Minggu, 11/1/26 | 09:26 WIB

  Sumber: Google GeminiAI Di Kota yang Berbeda Oleh: Aliftia Nabila Putri Di sini aku masih sibuk dengan hariku, Sama...

Puisi-puisi Furkon Patani

Puisi-puisi Furkon Patani

Minggu, 28/12/25 | 14:15 WIB

Gambar: Meta AI Jadikanlah Aku Perindu Oleh: Furkon Patani Aku adalah pemabuk cinta Dan aku juga perindu setia Banyak yang...

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Minggu, 07/12/25 | 17:48 WIB

Sumber Gambar: Meta AI Rumah Tanpa Pintu Oleh Indri Rahmadani Di kota ini yang jauh dari ragamu Aku belajar berhitung...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Minggu, 30/11/25 | 15:51 WIB

Sumber: Meta AI Sehangat Kepulan Kopi Oleh Wulan Darma Putri Dalam getaran cinta Kau mengukir hati yang luka Memberiku segala...

Berita Sesudah
Toping Martabak Manis dan Cerita di Baliknya

Dikejar Deadline: Kekuatan Untuk Menyelesaikan Pekerjaan

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Rimbo Nan Tak Luko” Karya Tasya Syafa Kamila dan Ulasannya Oleh Azwar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Istilah-istilah Khusus dalam Mazhab Syafi’i

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bank Nagari Resmikan KCP Baso Agam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024