Sabtu, 24/10/26 | 11:08 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI

Salahnya Dimana❓

Sabtu, 02/5/20 | 07:43 WIB

Wizri Yasir

Oleh:
Wizri Yasir

Salahnya dimana, mungkin itu yang ada dalam pikiran dan benak kepala daerah yang sudah berjibaku, pontang panting, sampai kepalapun kadang-kadang harus kebawah untuk memikirkan bagaimana si virus tidak makan banyak korban.

Namun usaha yang berjibaku tadi seolah bak menambah garam ke laut. Lantaran apa yang sudah dilakukan kepala daerah, dianggap angin lalu oleh sebagian warga.

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

“Emang MUI yang menentukan kita masuk surga atau tidak,” celetuk pak Kirin disudut lapau yang lagi asyik main domino ditengah malam Ramadan, hari ketujuh pelaksanaan PSBB.

Tak mau ketinggalan, si Iman yang memang terkenal rajin ke Masjid (untuk mandi dan buang hajat) ikut menimpali.

“ini konspirasi aseng dan asing mah ini. Kita disuruh jauh dari masjid, nanti bisa jatuh setengah kapir kita nanti,” celetuknya.

Sementara di sebelah kiri si Iman, ada Mak Njang yang biasanya memang rajin ke masjid menyahut, “tadi saja kami masih sholat Jumat, walau cuma belasan orang. Kan fiqih nya banyak,,……..,”.

Lain lagi dengan Mak Inggi, yang berlagak ustadz, celotehan nya agak berbau mujtahid dikit.

“Kapir awak ko sadoe mah, kalau lah 3 kali baturuik-turuik ndak jumat. Dima lo Nabi maajaan mode ko. Kalau ka mati, rancaklah mati di musajik ke,” katanys meninggi, setinggi badannya.

“Kafir kita semua, kalau sudah 3 kali berturut-turut tidak sholat Jum’at. Tak ada Nabi mengajarkan yang seperti ini. Kalau mau milih mati, baguslah kalau matinya di masjid,” katanya meninggi setinggi badannya.

Begitu lah gambaran realitas sebagian umat di penjuru negeri yang katanya beragama dan beradat itu.

Tak peduli situasi dalam keadaan darurat, hujatan demi hujatan, cacian demi cacian tetap mengalir bak air pancuran di musim hujan.

Tetiba, dalam hangatnya celoteh Lapau tadi, disudut yang berlawanan, laki laki biasa, menjawab sambil bertanya, “Kalau situasi sudah separah itu, virus sudah tak terkendali, Kita ni mau apa?,”

“Adakah sebenarnya kita ini merujuk kepada Nabi dan Sahabat dalam persoalan wabah ini?,” Ujarnya.

Tak usahlah djawab pertanyaan itu. Sadari saja bahwa kita manusia akhir masa, Iman kita tak sekuat para Sahabat. Kita ini, jangan kan ulama, alim saja belum, Ustadz pun pas-pasan.

Kita ini hanya penceramah liar, sebelum naik mimbar, lihat dulu buku terjemahan, comot satu hadits, ambil ayat sesuai selera, lantas diterjemahkan sesuai nafsu. Trus berani berkoar “Nabi seperti ini, sahabat begini, dan bila, bla…., blaaa..,”

Sadari sajalah, Tak ada Anjuran pemerintah dan fatwa MUI itu yang melarang sholat di Masjid!.

Hanya memindahkan ibadah kerumah masing-masing UNTUK SEMENTARA WAKTU, agar Sebaran Virus itu bisa dibatasi.

Jangan keluar rumah kalau untuk urusan yang tak penting dan selalu pakai masker.

Dalam Al-Qur’an Allah pun berkata, ” Patuhi Allah, Patuhi Rasulullah dan Patuhi Pemimpin diantara Kamu”.

Kalau persoalan susah mencari penghasilan untuk makan, hampir semua golongan menengah ke bawah mengalami itu. Jualan sepi karena tak ada yang beli, Di PHK hingga kembali ke kampung (kalau tak boleh dibilang mudik), dsb.

Mohon bersabar lah agak sebentar lagi, bantuan akan segera datang, pemerintah dari pusat sampai daerah sudah bekerja.

Untuk ukuran negara berkembang (dari segi sikap warga, budaya menghadapi situasi genting, pola Kepemimpinan, dan indikator lainnya) memang tak mudah mencairkan uang negara walaupun itu untuk rakyatnya.

Dinamika masyarakat waktu PSBB.(*)

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Jangan Menyerah, tapi Ciptakan Solusi

Berita Sesudah

Satu Capaian Saja, Cukup!

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Pada kolom Klinik...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Berita Sesudah

Satu Capaian Saja, Cukup!

Discussion about this post

POPULER

  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Apresiasi Kontribusi Alumni IKIP Padang/UNP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbaiki Akses Warga, Pemkab Dharmasraya Ganti Lantai Dua Jembatan Bailey dengan Baja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026