Selasa, 26/5/26 | 05:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI

Satu Capaian Saja, Cukup!

Sabtu, 02/5/20 | 10:45 WIB

Indra Jaya Piliang, Infrastruktur Kesehatan

Oleh:
Indra J Piliang
Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

Capaian tertinggi apa yang mampu diraih pemerintah menghadapi keganasan Covid-19?

Butuh kejujuran memberikan jawaban sederhana yang sudah tersedia. Jika sebaliknya, penuh permainan pilihan diksi dan kebohongan, makin rumit dan berbelit-belit jawaban yang diterima publik. Mencla-mencle. Tumpang tindih. Tak seragam. Dusta pun terikut-serta.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Apa jawabannya?

Bagi penulis profesional, tentu jarang yang memberikan jawaban pada awal uraian. Untuk apa dijelaskan, kalau jawaban sudah disebutkan. Hanya menghabiskan waktu. Tak ada misteri. Melunturkan rasa ingin tahu. Hanya cuap-cuap dan titip tampang semata.

Bagi pemilik media, selain habiskan jumlah halaman yang bisa jadi sudah terbayang kesia-siaannya, apalah lagi menyelesaikan pengucuran honorarium. Insan jurnalistik pun terkesan bakal tak bekerja apa-apa, manakala jawaban sudah diberikan pada hulu berita.

Tapi, penulis langgar tabu itu. Ini jawabannya. Hanya satu alinea: memperkuat infrastruktur pelayanan kesehatan publik pada semua tingkat pemerintahan.

Apabila infrastruktur pelayanan kesehatan publik itu berhasil diperkuat, seluruh pengorbanan yang kita lakukan bakal tidak terasa sia-sia. Pengorbanan siapapun, termasuk mereka yang tidak mengerjakan apa-apa, hanya menuruti saja apa himbauan pemerintah.

Apalagi bagi yang bekerja di garda depan, baik di tempat-tempat mahal, hingga kawasan miskin, tentulah terbayar seluruh pengorbanan yang terjadi. Termasuk jumlah nyawa yang melayang.

Sejauh ini, infrastruktur pelayanan kesehatan publik di Indonesia terbukti masih lemah. Sehingga, perlu upaya memperkuat. Upaya memperkuat, bisa juga dalam pemahaman lain, yakni mengadakan yang belum ada, memperbaiki yang kurang baik, hingga memperbarui yang kadaluarsa.

Usaha, dana dan energi sudah dikerahkan untuk hadapi Covid-19. Protokol-protokol disusun, ditetapkan dan dijalankan. Aturan perundang-undangan diperbaiki, direvisi, hingga dibuat baru sama sekali.

Hanya saja, sebelum melebar kemana-mana, terasa penting diingatkan lagi bahwa keseluruhan itu patut dan niscaya terhubung dengan infrastruktur pelayanan kesehatan publik. Sekalipun dalam situasi darurat sektor-sektor diluar kesehatan ikut terpengaruh, masih ada waktu untuk kembali ke jalur awal.

Kenapa hanya capaian infrastruktur pelayanan kesehatan? Kenapa bukan keberhasilan dalam perlombaan mendapatkan obat yang sesuai untuk atasi Covid-19? Atau bisa juga ikut serta dalam “perang ilmu pengetahuan” dalam rangka memperoleh vaksin yang tentu saja yang sesuai dengan penderita Covid-19 Indonesia.

Semua bisa saja diraih bersamaan. Akan tetapi, problematikanya terlalu banyak. Sebagai konsumen berita, tiap hari pembaca Indonesia ikut-ikutan termakan propaganda Tiongkok versus Amerika Serikat, misalnya.

Mana yang lebih banyak, berita sejenis perang kekuatan negara-negara super power itu atau sisi-sisi yang paling terkait dengan Covid-19 sebagai masalah kemanusiaan universal? Tiap negara tentu punya agenda yang berbeda-beda, sekalipun tetap dengan protokol yang sama dalam menghadapi Covid-19.

Amerika Serikat mau menghadapi pemilihan presiden dan wakil presiden, Tiongkok tetap ingin mempertahankan dominasi ekonomi, begitu juga dengan ekonomi India yang jarang tumbuh di atas 6%-7% seperti tahun-tahun lalu.

Indonesia? Masih lama lagi pemilihan presiden dan wakil presiden. Tak bisa dibayangkan, andai Covid-19 itu terjadi pada awal tahun 2019, misalnya. Virus ini datang setelah segala-macam libido dan angkara-murka politik dientaskan dan dituntaskan di arena demokrasi elektoral.

Lebih mudah menemukan persamaan, ketimbang perbedaan, dalam situasi yang daya hantam politisasinya setenang sekarang. Tentu dengan catatan tebal: kejujuran menjadi juru bicara keseluruhan perkara.

Sejauh ini, belum terdapat penerawangan yang jernih terhadap krisis ini. Penerawangan dalam artian, peta jalan yang hendak dituju selama Covid-19 masih menjadi pandemi.

Betul, ada waktu yang mulai ditera. Juli, misalnya, disebut sebagai masa landai pada batas bawah grafik. Tetapi, betulkah Juli adalah saat-saat pelonggaran social distancing and physical distancing dijalankan? Kalau bukan Juli, kapan?

Selama waktu (kuantitatif) belum bisa dipastikan secara akurat, bukankah capaian kinerja (kualitatif) bisa juga menjadi bagian dari terawangan itu? Apa capaian itu?.

Selama protokol Covid-19 masih berjalan, keseluruhan perhatian tertuju kepada bagaimana memperkuat infrastruktur pelayanan kesehatan publik, di seluruh tingkat pemerintahan: pusat, provinsi, kota, kabupaten, kecamatan, kelurahan, hingga desa.

Jika masih lemah, tentu perlu perbaikan supaya menjadi kuat. Tentu, perbaikan dalam artian yang luas, walau dilakukan setahap demi setahap. Bukan hanya dari sisi sarana dan prasarana, tetapi juga sumber daya manusia yang ditempatkan di garda depan.

Tidak boleh lagi terdapat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang terletak di area pekuburan atau tempat jin buang anak. Atau, di lahan yang sangat sempit, susah parkir dan padat penduduk.

Sudah sepatutnya Puskesmas termasuk sebagai ikon penting masyarakat modern. Puskesmas hanya salah satu dari infrastruktur kesehatan yang penting diperbaharui, selama proses penanganan Covid-19.

Di luar Puskesmas, tentu juga mobil ambulance dan peralatan darurat di dalamnya. Jangan sampai mobil ambulance identik dengan mobil jenazah saja.

Meningkat dari Puskesmas, tentu perhatian tertuju kepada Rumah Sakit Umum (RSU) dengan standar Pusat yang tersebar di seluruh ibukota provinsi. Semakin banyak sebutan RSU Daerah diganti menjadi RSU Pusat, walau terletak di ibukota provinsi, semakin baik.

Di luar itu, diperlukan edukasi publik yang lebih bukan hanya terhadap penanganan Covid-19. Tetapi juga terhadap penyakit-penyakit yang lain. Ketersediaan hand sanitizer dan masker, misalnya, jangan sampai hanya berlaku untuk masa penanganan Covid-19.

Puskesmas benar-benar difungsikan sebagai area publik dalam mendapatkan informasi yang sesuai standar ilmu pengetahuan dalam masalah-masalah kesehatan. Kalau perlu, di dalamnya terdapat satu ruangan khusus yang berisi “museum sejarah” yang terkait dengan penyakit-penyakit luar biasa yang pernah melanda dunia.

Bukankah kesehatan termasuk satu dari tiga indikator dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM)? Di luar pendidikan (intelektualitas), dua indikator IPM lain berupa kemampuan ekonomi (lapangan kerja) dan kesehatan publik termasuk dalam indikator fisik.

Artinya, lebih bisa diukur, ketimbang lamanya pendidikan yang ditempuh. IPM selama ini selalu menjadi buah bibir pelayan publik, termasuk penyelenggara negara. Hanya saja, sering dalam adagium yang kurang tepat, ketika disampaikan dalam panggung kampanye.

“Bebas biaya pendidikan! Bebas biaya kesehatan!” adalah contoh dari pilihan pamflet kampanye politik di Indonesia. Padahal, pendidikan dan kesehatan itu mahal.

Dengan pandemi Covid-19, masyarakat semakin paham betapa tidak mudah mendapatkan peralatan-peralatan khusus dunia kesehatan. Kalaupun ada, biayanya mahal. Sejumlah korban meninggal dunia dari penderita Covid-19 ditengarai kesulitan mendapatkan peralatan medis yang sesuai standar.

Jadi, apa artinya satu capaian itu?

Mulailah tata lagi hotel-hotel yang digunakan untuk kepentingan penanganan Covid-19 ini, ke dalam formula infrastruktur kesehatan. Pengusaha hotel bisa menyalurkan bantuan pembangunan satu atau dua kamar khusus di satu atau dua Puskesmas, misalnya, dengan kualitas bintang dua atau tiga.

Ketimbang mencari-cari alat-alat kesehatan via internet, lalu rugi akibat ditipu, baiknya filantropis menjadi bapak asuh keluarga penjahit masker yang tinggal di area yang dekat dengan satu atau dua Puskesmas sebagai area persebaran.

Para anak-anak muda yang kelebihan tenaga, lalu berbondong menyebarkan masker di tempat-tempat yang sepi kendaraan, bisa menyusun agenda ke satu atau dua Puskesmas entah kapan, lalu bergotong royong menjadikan tempat itu nyaman dan santuyyy banget!

Ibarat tanaman yang sedang tumbuh liar, apa yang dinamakan sebagai infrastruktur pelayanan kesehatan itu perlu disiangi gulma-gulma dan hama-hama pengganggunya. Memang, hanya satu yang hendak dicapai. Tetapi perlu bersatu untuk mencapai yang satu itu…

Jakarta, 2 Mei 2020

Tags: Indra Jaya PiliangOpiniSatu Capaian Saja Cukup
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Salahnya Dimana❓

Berita Sesudah

Merajut Hikmah Dibalik Wabah

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Minggu, 24/5/26 | 18:09 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Pesisir Selatan)   Pesisir Selatan merupakan salah satu kabupaten di Sumatera...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Berita Sesudah

Merajut Hikmah Dibalik Wabah

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Duka Cita atau Dukacita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026