
Padang, Scientia.id – Kesenian Talempong Uwaik-uwaik dari Kabupaten Agam akan menjadi salah satu penampilan dalam kegiatan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 yang digelar di Taman Budaya Sumatera Barat, Kota Padang, 28 September hingga 3 Oktober mendatang.
Tak hanya Talempong Uwaik-uwaik, panggung Saraso Fest juga menghadirkan Turuk Lagai dari Kepulauan Mentawai, Tari Piriang Di Ateh Karambia dari Kabupaten Solok, Randai dari Lima Puluh Kota, Tari Ratok Mayik Ka Turun dari Sijunjung, hingga Babiola dari Pesisir Selatan.
Ragam kesenian tersebut memperlihatkan kekayaan tradisi Sumatera Barat yang tidak hanya berasal dari kebudayaan Minangkabau daratan, tetapi juga tradisi masyarakat Mentawai.
Turuk Lagai, misalnya, dikenal melalui gerakan yang menggambarkan perilaku satwa seperti burung dan monyet. Sementara Tari Piriang Di Ateh Karambia menawarkan atraksi keseimbangan yang berbeda karena penarinya bergerak di atas buah kelapa tua.
Kepala Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan keterlibatan berbagai daerah dalam Saraso Fest menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali seni tradisi kepada masyarakat.
“Yang pertama kegiatan ini bertujuan pelestarian nilai-nilai daerah untuk kemajuan daerah. Yang kedua sebagai kegiatan dalam menumbuhkan dan mengasah minat bakat generasi muda,” kata Devid, Senin (28/9/2026).
Menurut dia, festival tersebut tidak hanya diarahkan sebagai pertunjukan seni. Saraso Fest juga menjadi ruang untuk menggerakkan UMKM dan membangun kolaborasi seni budaya lintas daerah.
“Ketiga dalam penggerak UMKM. Yang keempat, kolaborasi seni budaya lintas daerah,” ujarnya.
Seni tradisi bertemu teknologi
Saraso Fest 2026 tidak hanya menampilkan kesenian tradisional dalam bentuk pertunjukan konvensional. Festival ini juga memberi ruang bagi komposer muda untuk mengolah kekayaan tradisi dengan pendekatan musik masa kini.
Melalui Parade Komposer Muda atau Soundenai, sejumlah talenta muda bereksperimen dengan instrumen dan repertoar tradisional menggunakan teknologi musik digital.
Salah satunya karya Dimas Hidayatullah berjudul Pauh in Resonance yang mengolah repertoar Saluang Pauh dengan teknik sampling, looping, delay, dan filtering.
Ada pula karya Rofi Rahmatullah berjudul RASA yang mengangkat memori masyarakat terhadap bencana alam yang terjadi di Sumatera Barat pada Desember 2025.
Asisten I Setdaprov Sumbar sekaligus Plt Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Ahmad Zakri, mengatakan pendekatan semacam itu penting agar seni tradisi tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Menurut Ahmad, kesenian tradisional kini semakin jarang hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan masa lalu ketika pertunjukan seni hampir selalu menjadi bagian dari acara masyarakat.
“Kalau dahulu bapak ibuk, ketika ada acara besar, kita pasti melihat acara kesenian. Kalau sekarang, apapun acara yang dipakai orgen tunggal,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat generasi muda semakin jarang melihat kesenian tradisional secara langsung.
“Karena kesenian yang kita tampilkan merupakan kesenian tradisional dan jarang dilihat generasi muda,” ujarnya.
Ahmad mengatakan kesenian dan tradisi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Tradisi, menurutnya, juga menjadi sarana edukasi dan pendidikan bagi generasi muda.
“Kesenian dan tradisi bukan hanya sekadar hiburan, tapi sarana edukasi, pendidikan. Seperti yang diajar dalam randai, mereka diajarkan beredukasi,” katanya.
Ia juga mengaitkan Saraso Fest dengan nilai raso pareso, yang menurutnya mulai semakin jarang diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
“Kita mengambil tema pekan budaya ini, Saraso Fest. Raso pareso. Ini juga sudah mulai hilang,” ujarnya.
Saraso Fest 2026 mengangkat tema “Menghidupkan Rasa, Menajamkan Makna, Mengasah Talenta Muda”. Festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat pada 1 Oktober sekaligus menyambut Hari Kebudayaan pada 17 Oktober 2026.
Selain seni tradisi dan parade komposer muda, kegiatan juga diisi Panggung Seni Pelajar (Skola Art Fest), Pameran Seni Rupa Rauik Rang Mudo, serta penampilan sejumlah musisi, di antaranya Darak Badarak, Deddy Lisan dari The Backbone, Million Hope, dan Sofie Anastasya.
Rangkaian kegiatan kebudayaan Sumatera Barat juga mencakup Alek Teater 10, Festival Sastra Marah Rusli, pemutaran film pendek Andalasinema, hingga penyerahan Anugerah Kebudayaan Sumatera Barat bagi para pelestari seni.
Saraso Fest 2026 menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik BOP Taman Budaya dari Kementerian Kebudayaan RI melalui program Presentasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. (*)






![Foto bersama klub sepak bola 212 usai juarai liga PHRI 2026.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260923-WA00272-350x250.jpg)

