![Hasil uji BBPOM di Padang soal penyebab keracunan menu BG di Pariaman.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260921-WA0012.jpg)
- Hasil uji BBPOM di Padang soal penyebab keracunan menu BG di Pariaman.[foto:ist]
Padang, Scientia — Hasil pengujian laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Padang menemukan dua sampel makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasir, Desa Pauh Barat, Kota Pariaman, tidak memenuhi persyaratan mikrobiologi.
Temuan tersebut berdasarkan hasil pengujian terhadap enam sampel makanan yang tercantum dalam laporan hasil pengujian BBPOM di Padang dengan nomor LHU.083.M.08.13.26.0001 hingga LHU.083.M.08.13.26.0006.
Dari enam sampel yang diuji, nasi putih dan ayam tepung dinyatakan tidak memenuhi syarat. Sementara empat sampel lainnya, yakni tahu, saus blackpepper, sayur buncis, jagung, serta semangka kuning, dinyatakan memenuhi persyaratan.
Pada sampel nasi putih, BBPOM menemukan cemaran Bacillus cereus sebesar 6,7 x 10⁶/kg dan Staphylococcus aureus sebesar 1,5 x 10⁵/kg. Hasil tersebut membuat sampel nasi putih berstatus tidak memenuhi syarat.
Sedangkan pada sampel ayam tepung, ditemukan Staphylococcus aureus sebesar 1,8 x 10⁵/kg. Sampel tersebut juga dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Berdasarkan hasil pembahasan laporan, BBPOM Padang menyebut pemeriksaan dilakukan terhadap sampel makanan dari Program MBG SPPG Pasir Kota Pariaman. Hasilnya menunjukkan nasi putih tidak memenuhi persyaratan mikrobiologi untuk parameter Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus.
Sementara ayam tepung tidak memenuhi persyaratan untuk parameter Staphylococcus aureus.
Adapun empat sampel lainnya dinyatakan memenuhi seluruh parameter yang diuji. Keempatnya yakni tahu, saus blackpepper, sayur buncis dan jagung, serta semangka kuning.
Temuan ini menunjukkan persoalan keamanan pangan dalam penyelenggaraan MBG tidak hanya berkaitan dengan satu jenis makanan. Dalam satu paket makanan yang diuji, terdapat dua komponen yang terdeteksi tidak memenuhi persyaratan mikrobiologi.
Bacillus cereus merupakan bakteri yang dapat ditemukan pada makanan, termasuk makanan berbasis nasi, sedangkan Staphylococcus aureus dapat berkaitan dengan kontaminasi pangan akibat penanganan makanan yang tidak higienis.
Keracunan B. cereus dapat berlangsung dalam dua pola, pertama tipe muntah (emetic): toksin sudah terbentuk di dalam makanan. Gejala dapat muncul cepat, sekitar 30 menit hingga 6 jam, terutama mual dan muntah.
Kedua, tipe diare (diarrheal): bakteri menghasilkan toksin di saluran pencernaan. Gejala umumnya berupa diare berair dan kram perut, yang dapat muncul sekitar 6–15 jam setelah mengonsumsi makanan tercemar.
Gejala keracunan S. aureus biasanya muncul sangat cepat, sekitar 30 menit sampai 8 jam setelah mengonsumsi makanan tercemar. Gejalanya meliputi, mual, muntah, kram atau nyeri perut dan diare.
Hasil pengujian tersebut menjadi catatan penting dalam pengawasan proses penyediaan makanan MBG, terutama sejak pengolahan, penanganan, penyimpanan hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.(yrp)




![Selebgram sekaligus komika asal Padang, Wahyu Hidayat saat mengikuti rangkaian kegiatan Feders Gathering.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260921-WA0013-350x250.jpg)

![Anggota DPRD Sumbar, Fraksi PKB, Donizar.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_2026-09-21-01-15-18-44_1c337646f29875672b5a61192b9010f92-350x250.jpg)
![Foto kafilah Sumbar pada penutupan MTQN XXXI di Semarang. Sabtu malam, (19/9)[foto: ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260921-WA0001-350x250.jpg)
![Selebgram sekaligus komika asal Padang, Wahyu Hidayat saat mengikuti rangkaian kegiatan Feders Gathering.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260921-WA0013-75x75.jpg)
