Minggu, 30/8/26 | 18:40 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah
(Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)

 

Ketika melihat lengkungan warna-warni yang menghiasi langit setelah hujan, kita tentu akan menyebutnya sebagai pelangi. Tidak banyak yang mungkin langsung teringat pada kata bianglala, meskipun kedua kata tersebut sama-sama digunakan untuk merujuk pada fenomena alam yang sama. Kata bianglala  tidak seakrab pelangi dalam percakapan sehari-hari. Justru lebih menghadirkan nuansa puitis dalam penggunaannya. Itulah sebabnya, kata ini mungkin lebih sering kita temukan dalam karya sastra, seperti puisi, lagu, atau tulisan yang ingin menghadirkan kesan keindahan dan imajinasi.

BACAJUGA

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB
Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Namun, kata yang tampaknya sederhana seperti bianglala ternyata menyimpan banyak hal yang menarik. Kita akan membahas bianglalaI dari banyak perspektif.  Bianglala tidak hanya dari maknanya, tetapi juga dari bentuk, sejarah, dan hubungannya dengan kehidupan dan kebudayaan manusia. Kita juga dapat membahas tentang asal-usul dan penggunaan kata tersebut.

Pembahasan yang paling dekat dengan kata bianglala tentu saja adalah semantik, yaitu cabang linguistik yang mempelajari makna. Dalam kajian semantik, hal pertama yang dapat diperhatikan adalah makna kata tersebut. Berdasarkan KBBI, bianglala bermakna pelangi. Akan tetapi, kata bianglala dan pelangi tidak selalu memberikan kesan yang sama ketika digunakan dalam sebuah kalimat, misalnya kita dapat mengatakan, “Pelangi muncul setelah hujan.” Kalimat tersebut terdengar biasa dan sangat dekat dengan penggunaan bahasa sehari-hari. Namun, jika kalimat itu diubah menjadi, “Bianglala muncul setelah hujan,” suasana yang muncul terasa berbeda. Perbedaan kesan ini dalam semantik dijelaskan lewat konsep denotasi dan konotasi. Denotasi adalah makna dasar atau makna rujukan suatu kata. Dalam hal ini, pelangi dan bianglala punya denotasi yang identik. Namun konotasi, yaitu nilai rasa atau asosiasi yang menyertai sebuah kata, membuat keduanya tidak sepenuhnya bisa saling menggantikan. Bianglala berkonotasi puitis, sementara pelangi berkonotasi netral.

Kata bianglala memberikan kesan yang lebih puitis dan lebih dekat dengan bahasa sastra. Perbedaan inilah yang menunjukkan bahwa makna sebuah kata tidak hanya berkaitan dengan benda atau konsep yang dirujuknya, tetapi juga dengan nuansa yang dibawanya. Dalam kehidupan sehari-hari, kata bianglala juga dikenal luas dengan makna yang berbeda, yaitu kincir ria atau ferris wheel. Menariknya, makna ini bukan berasal dari kemiripan bentuk semata, melainkan dari sebuah proses semantik yang disebut genericisasi merek dagang.

Nama “Bianglala” awalnya adalah nama wahana kincir raksasa di Dunia Fantasi (Dufan), Ancol, yang mulai beroperasi pada 1985. Karena wahana tersebut begitu populer, nama itu lambat laun digunakan masyarakat untuk menyebut semua kincir sejenis di berbagai daerah, mirip dengan bagaimana “Aqua” menjadi sebutan umum untuk air mineral kemasan. Fenomena ini menunjukkan bahwa makna sebuah kata tidak selalu berkembang dari satu jalur historis yang sama; kata bianglala punya dua jalur makna yang berbeda. Satu melalui ragam sastra klasik (pelangi), satu lagi melalui genericisasi nama produk (kincir ria) yang keduanya hidup berdampingan hingga kini.

Secara historis, bianglala diserap dari bahasa Bali bianglalah yang juga berarti pelangi, masuk ke bahasa Indonesia melalui Melayu Betawi. Menariknya, sejarah kata ini juga mencatat adanya upaya penutur lama untuk memaknai kata pinjaman tersebut dengan memecahnya menjadi unsur yang lebih akrab, yaitu “biang” (induk atau asal) dan “lala” atau “laler” (lalat). Sebuah analisis yang kini dipandang sebagai etimologi rakyat, bukan asal kata yang sesungguhnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia secara alami cenderung mencari kembali kejelasan bentuk dan makna dari kata-kata yang terasa asing, meski hasilnya tidak selalu akurat secara historis.

Meski demikian, asal-usul sebuah kata tidak selalu sama dengan cara kata tersebut dipahami oleh penutur modern. Penutur bahasa Indonesia saat ini tidak harus mengetahui sejarah kata bianglala. Baik asalnya maupun etimologi rakyatnya untuk memahami maknanya sebagai pelangi. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah kata dan makna kata pada masa kini merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tetap perlu dibedakan.

Dari sisi leksikologi, bianglala menunjukkan kekayaan kosakata bahasa Indonesia untuk satu konsep yang sama. Selain pelangi dan bianglala, setidaknya ada beberapa bentuk lain yang pernah digunakan untuk merujuk pada fenomena ini, seperti ketumbiri, kuwung-kuwung, layung, hingga ungkapan puitis “tangga nyai putri mandi”. Sebagian bentuk tersebut berakar dari bahasa daerah seperti ketumbiri dari bahasa Sunda, kuwung-kuwung dari bahasa Jawa yang menunjukkan bahwa kekayaan kosakata bahasa Indonesia untuk satu konsep sering kali lahir dari serapan dan variasi bahasa-bahasa daerah di sekitarnya. Namun, di antara sekian banyak pilihan, pelangi dan bianglala tetap yang paling dikenal luas, meski dengan kebiasaan penggunaan yang berbeda. Kata pelangi lebih umum ditemukan dalam percakapan, pendidikan, dan penjelasan ilmiah, sedangkan bianglala lebih sering muncul dalam puisi, lagu, atau tulisan yang ingin menghadirkan kesan estetis. Perbedaan ini bukan sekadar kesan subjektif: KBBI sendiri memberi label “klasik” pada entri bianglala, sementara pelangi berstatus sebagai kata baku dan netral.

Perbedaan penggunaan tersebut dapat dijelaskan melalui sosiolinguistik, yaitu cabang linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat. Salah satu konsep pentingnya adalah ragam bahasa (register), yaitu variasi bahasa yang dipilih berdasarkan situasi dan tujuan pemakaiannya, bukan berdasarkan siapa penuturnya. Pelangi berada pada ragam baku dan ilmiah, sejalan dengan status netralnya dalam KBBI, sedangkan bianglala berada pada ragam sastra atau klasik, sejalan dengan labelnya sebagai kata klasik. Pemilihan ragam ini juga berkaitan dengan konsep ranah pemakaian bahasa (domain), yaitu gagasan bahwa pilihan kata seseorang dipengaruhi oleh ranah sosial tempat komunikasi berlangsung ranah pendidikan, ranah kesenian, ranah keagamaan, dan sebagainya. Seorang guru yang menjelaskan proses terbentuknya pelangi berada dalam ranah pendidikan sehingga kemungkinan besar memilih kata pelangi. Sebaliknya, seorang penyair yang berada dalam ranah kesenian mungkin memilih kata bianglala karena dianggap lebih indah dan memiliki daya imajinatif yang lebih kuat sesuai tujuan ranah tersebut.

Kata bianglala juga dapat dikaitkan dengan antropologi linguistik, yaitu bidang yang melihat hubungan antara bahasa dan kebudayaan. Manusia tidak hanya melihat dan memberi nama pada dunia di sekitarnya, tetapi juga menafsirkan serta memberikan makna terhadapnya. Fenomena alam seperti hujan, bulan, matahari, dan pelangi tidak selalu dipahami sebagai objek fisik semata, melainkan juga dapat hidup dalam cerita rakyat, mitos, simbol, dan imajinasi masyarakat. Pelangi, misalnya, dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai fenomena optik, tetapi dalam berbagai kebudayaan ia juga dapat dimaknai sebagai tanda, harapan, keindahan, bahkan penghubung antara dunia yang berbeda.

Pada akhirnya, bianglala menunjukkan bahwa sebuah kata tidak pernah sesederhana kumpulan huruf. Melalui semantik, kita memahami maknanya sebagai pelangi. Melalui morfologi, kita melihat bentuknya sebagai satu leksem utuh dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini. Melalui etimologi, kita menyadari bahwa kata memiliki sejarah. Melalui leksikologi dan sosiolinguistik, kita memahami perbedaan penggunaan antara bianglala dan pelangi. Sementara itu, melalui antropologi linguistik, kita dapat melihat bagaimana bahasa menyimpan hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya.

Dari satu kata sederhana, kita akhirnya belajar bahwa bahasa bukan hanya alat untuk menyebut sesuatu. Bahasa juga menyimpan sejarah, makna, kebudayaan, dan cara manusia memandang dunia. Dalam satu kata bernama bianglala, semua itu dapat ditemukan.

Tags: #Noor Alifah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Batagak Gala Mudo dalam Adat Minangkabau

Minggu, 16/8/26 | 22:50 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Batagak gala mudo menjadi salah satu tradisi penting...

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB

Oleh: Devi Analia (Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Akses pembiayaan kerap menjadi hambatan utama bagi petani kecil...

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Senin, 10/8/26 | 10:24 WIB

Oleh: Kevin Amnur Jonata (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Buka X sekarang dan hampir dapat dipastikan ada...

POPULER

  • Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]

    Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026