
Oleh: Kevin Amnur Jonata
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Buka X sekarang dan hampir dapat dipastikan ada postingan seperti ini: “Literally gue lagi overthinking banget sama situasi ini no cap, tapi yaudah lah gaspol aja sih bestie, mana yang bisa bantu? šš„”. Kalimat itu terasa hidup dan ekspresif bagi sesama pengguna Generasi Z (Gen Z). Maknanya langsung tersampaikan tanpa perlu berpikir dua kali. Namun, apabila kalimat tersebut dibaca dari sudut pandang linguistik, muncul pertanyaan yang cukup menarik: apakah tulisan Gen Z di platform, seperti X dan Threads masih memiliki struktur sintaksis yang jelas atau justru terlalu longgar hingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman?
Berbicara tentang sintaksis, kita melihat sekilas definisinya. Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji susunan kata, frasa, dan klausa dalam sebuah kalimat sehingga menghasilkan makna yang dapat dipahami. Chaer (2010) menyatakan bahwa sintaksis menguraikan fungsi unsur kalimat seperti subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (Ket). Pola dasar bahasa Indonesia cukup fleksibel S-P, S-P-O dan S-P-Ket. Namun, fleksibel bukan berarti sepenuhnya bebas. Perubahan urutan kata dapat mengubah makna secara signifikan. Contoh sederhana: “Gue suka lu banget” dan “Lu suka gue banget” terlihat serupa secara struktur, tetapi maknanya berbalik 180 derajat. Inilah yang menjadi inti persoalan ketika membahas gaya bahasa GenZ di media sosial.

Fenomena Bahasa GenZ di X dan Threads
Di X dan Threads, Gen Z memiliki kebiasaan berbahasa yang khas, seperti code-mixing (mencampur bahasa Indonesia dan Inggris), singkatan seperti cmiiw (correct me if I’m wrong) atau tbh (to be honest), pengulangan huruf untuk penekanan emosi (lamaaa, parahhh), serta partikel seperti “sih”, “dong”, “no cap”, dan “bestie” yang disisipkan hampir di mana saja dalam kalimat.
Kalimat seperti “Gue literally mager banget hari ini bestie” sebenarnya masih memiliki struktur yang cukup terbaca: subjek “gue” diletakkan di awal, diikuti predikat “mager” dengan penanda intensitas “literally” dan “banget”. Namun, ketika kalimat menjadi lebih kompleks, strukturnya mulai kabur, contohnya “Chaos banget ini, no cap, overthinking parah, send help plis.” Dalam kalimat tersebut, hampir tidak ada struktur S-P-O yang terbentuk. Yang ada hanya rangkaian kesan yang dilempar secara berurutan dan pembaca diharapkan dapat menyusun sendiri maknanya berdasarkan konteks. Kasus yang lebih menarik adalah ambiguitas struktural, seperti pada kalimat “Temen gue bilang yang lagi gabut kuy.” Kalimat ini dapat diartikan dengan dua cara: (1) teman yang sedang gabut mengajak kuy, atau (2) teman mengatakan bahwa siapa pun yang gabut bisa kuy. Tanpa tanda baca yang jelas, pembaca di X atau Threads sering kali harus menebak maksud penulis.
Dua Sisi yang Perlu Dipertimbangkan
Fenomena ini sebenarnya memiliki dua sisi yang sama-sama perlu diakui. Di satu sisi, gaya bahasa Gen Z di media sosial mencerminkan kreativitas linguistik yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pengulangan huruf, bukan sekadar kesalahan ketik, adalah penanda intensitas emosi. Partikel “sih” yang bukan sekadar pengisi kosong. Partikel itu menyampaikan nuansa keraguan atau keakraban yang sulit diungkapkan dengan cara lain. Para ahli sosiolinguistik pun sepakat bahwa bahasa gaul di media sosial merupakan bentuk evolusi bahasa yang wajar di era digital. Di sisi lain, struktur yang terlalu longgar memang berisiko.
Hasan Alwi dkk.(1993) dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menekankan pentingnya pola kalimat yang jelas agar komunikasi berjalan efektif. Ketika gaya bahasa Threads terbawa ke dalam laporan kuliah, atau pesan kerja magang yang penuh “anyway” dan “vibe”, bukan hanya kesan yang tidak profesional yang muncul, tetapi pesannya pun tidak jelas.Berbagai penelitian tentang ragam bahasa Gen Z di media sosial yang juga berbentuk code-mixing dan struktur longgar kerap menyebabkan kalimat menjadi rancu, terutama bagi pembaca di luar komunitas yang sama. Di kalangan sesama Gen Z, hal ini jarang menjadi masalah karena konteks sudah dipahami bersama. Namun, dalam komunikasi yang lebih luas, kejelasan pesan tetap menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan.
Dari uraian di atas, struktur sintaksis kalimat Gen Z di X dan Threads lebih tepat disebut kreatif daripada berantakan selama digunakan dalam konteks yang sesuai dengan situasi danĀ kondisi. Platform media sosial menjadi ruang bagi generasi muda untuk bereksperimen dengan bahasa, membangun identitas, dan menciptakan komunitas. Hal itu sah saja dan tidak perlu dihakimi secara berlebihan. Namun, pemahaman terhadap sintaksis dasar tetap diperlukan. Kemampuan untuk beralih antara gaya bahasa Threads yang santai dan bahasa akademik yang terstruktur justru merupakan tanda kematangan linguistik, bukan kelemahan berbahasa. Bagian penting bukan seberapa baku atau seberapa gaul gaya bahasa seseorang, melainkan seberapa tepat pemilihan register bahasa sesuai konteks dan tujuan komunikasi. Bahasa memang tidak pernah berhenti berkembang. Struktur sintaksis kalimat Gen Z di media sosial adalah bukti nyata bahwa bahasa bersifat dinamis dan adaptif. Selama kreativitas itu diimbangi dengan kesadaran akan kejelasan pesan dalam kalimat, mengetik pesan di X dan Threads dengan bahasa yang lebih santai, tidak hanya terasa bebas, keren, tetapi juga efektif.
Referensi
Alwi, Hasan, dkk. (1993). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. (2009). Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.








