Selasa, 16/6/26 | 16:32 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)

 

Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak sederhana. Kita membacanya sekali, mengangguk, lalu melewatinya begitu saja. Padahal di balik kesederhanaannya tersimpan jebakan yang menunggu dibongkar. “Yang Fana adalah Waktu” karya Sapardi Djoko Damono adalah salah satunya. Hanya tujuh baris, ditulis pada 1978, dengan kata-kata yang seluruhnya kita kenal dalam percakapan sehari-hari. Tidak ada diksi yang asing, tidak ada kalimat yang berbelit. Namun justru di sanalah letak kelicikannya, ia membalik sebuah keyakinan yang selama ini kita anggap sudah pasti.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Sejak kecil ajaran bahwa manusia hanya menumpang sebentar di dunia, sementara waktu terus mengalir tanpa pernah berhenti. Waktu adalah yang abadi dan manusialah yang fana. Akan tetapi, Sapardi datang dengan kalimat pendek yang membongkar logika itu sampai ke akar-akarnya. 

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa.
“Tapi,
Yang fana adalah waktu, bukan?”
Tanyamu. Kita abadi.

(Damono, 1978)

Pernyataan pembuka puisi ini sengaja dibuat untuk mengguncang. “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Bagi pembaca yang terbiasa berpikir lurus, kalimat ini terasa keliru, bahkan terbalik. Bukankah seharusnya manusia yang fana dan waktu yang abadi? Justru di titik inilah Sapardi memancing kita untuk berhenti dan bertanya. Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “kita”? Dan dalam pengertian apa “kita” bisa disebut abadi?

Jika “kita” dibaca semata-mata sebagai tubuh manusia, tentu pernyataan itu tidak masuk akal. Tubuh akan menua, melemah, dan akhirnya berhenti. Tidak ada manusia yang luput dari kematian. Namun “kita” bisa juga menunjuk pada sesuatu yang lebih bertahan daripada tubuh: gagasan, ilmu, karya, dan jejak makna yang ditinggalkan seseorang. Manusia memang pergi, tetapi apa yang ia ciptakan dan wariskan dapat terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam pengertian inilah, “kita” memperoleh keabadiannya dan bukan keabadian jasad, melainkan keabadian makna. Dengan membalik kedudukan antara yang fana dan yang abadi, Sapardi sebenarnya menggeser cara kita memandang waktu. Selama ini perlakuan atas waktu seakan-akan ia tuan yang berkuasa atas hidup kita, sesuatu yang harus dipatuhi dan ditakuti. Sapardi membaliknya: waktu justru rapuh, sekali lewat ia hilang dan tak pernah kembali. Yang menentukan bukanlah waktu itu sendiri, melainkan apa yang kita lakukan terhadapnya.

Gagasan ini menjadi lebih jelas pada baris kedua, baris yang barangkali paling indah dalam seluruh puisi: “Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga.” Sekilas, ungkapan ini membingungkan. Bagaimana mungkin waktu yang tak berwujud dan terus bergerak dapat dipungut dan dirangkai seperti bunga? Tetapi justru lewat metafora inilah Sapardi menyampaikan inti pesannya. Memungut detik demi detik adalah lambang dari kesungguhan menjalani hidup. Waktu tidak datang sekaligus dalam jumlah besar, ia tiba sepotong demi sepotong, satu detik setelah detik yang lain. Sebagaimana orang memungut bunga satu per satu untuk kemudian disusun menjadi rangkaian yang indah, demikian pula manusia diajak menyikapi waktunya dengan teliti, sadar, dan penuh perhatian. Bunga adalah lambang keindahan, tetapi bunga juga benda yang fana dan ia akan layu. Di sinilah letak ketegangan yang halus, keindahan hidup justru lahir dari kesadaran bahwa segala sesuatu tidak kekal.

Pesan yang ingin disampaikan menjadi terang yaitu hidup yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan berbuah indah, seperti rangkaian bunga yang ditata dengan cermat. Sebaliknya, waktu yang dibiarkan berlalu tanpa makna hanya akan menjadi tumpukan detik yang sia-sia. Sapardi tidak sedang berkhotbah melalui puisinya, ia hanya meletakkan sebuah cermin di hadapan pembaca dan membiarkan kita bertanya sendiri. Sudahkah kita merangkai waktu kita atau justru membiarkannya berserakan? Namun, Sapardi tidak berhenti pada nada optimistis. Dua baris berikutnya membawa nada yang lebih getir: “Sampai pada suatu hari / Kita lupa untuk apa.” Inilah peringatan yang tersembunyi di tengah puisi. Manusia bisa saja tekun memungut detik demi detik, sibuk merangkai hari-harinya, tetapi pada satu titik kehilangan kesadaran tentang tujuan dari semua kesibukan itu.

Ungkapan “lupa untuk apa” menggambarkan keadaan yang sangat akrab dengan kehidupan modern. Kita bergegas setiap hari, mengejar satu pencapaian ke pencapaian lain, memenuhi tuntutan demi tuntutan, tetapi sering kali tidak lagi ingat mengapa semua itu dijalani. Mimpi-mimpi masa kecil terkikis, tujuan-tujuan awal memudar, dan yang tersisa hanyalah rutinitas yang berputar tanpa arah. Di sinilah kefanaan yang sesungguhnya mengancam: bukan kematian tubuh, melainkan hilangnya makna ketika manusia masih hidup. Sapardi seakan mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa tujuan. Persoalannya, tujuan itu mudah sekali terlupakan di tengah arus waktu yang tak berhenti. Maka peringatan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan undangan kesadaran untuk berhenti sejenak dan bertanya kembali pada diri sendiri. Untuk apa sebenarnya semua ini dijalani?

Pada bagian penutup, puisi ini mengambil bentuk yang menarik yaitu sebuah dialog. “‘Tapi, / Yang fana adalah waktu, bukan?’ / Tanyamu. Kita abadi.” Muncul suara lain, “tanyamu” yang seakan-akan ragu dan ingin memastikan ulang. Pertanyaan itu mengandung keraguan yang sangat manusiawi. Benarkah waktu yang fana, dan bukan kita? Menariknya, Sapardi tidak menjawab keraguan itu dengan penjelasan panjang. Ia hanya mengulang penegasan yang sama: “Kita abadi.” Pengulangan ini bukan tanpa maksud. Ia mempertegas bahwa pembalikan di awal puisi bukanlah kekeliruan atau permainan kata semata, melainkan keyakinan yang sungguh-sungguh ingin disampaikan. Waktu akan terus berputar dan akhirnya menghilang dari genggaman kita, tetapi makna yang kita rangkai darinya seperti ilmu, gagasan, dan karya itulah yang sesungguhnya akan bertahan. Manusia dalam jejak yang ditinggalkannya, justru lebih abadi daripada waktu yang melahirkannya.

Membaca puisi ini melalui kondisi batin penyairnya membuat maknanya semakin kaya. Sapardi Djoko Damono yang lahir di Surakarta pada 1940 dan tumbuh di tengah suasana revolusi kemerdekaan, dikenal sebagai penyair yang gemar mengolah hal-hal sederhana menjadi renungan yang dalam. Hujan, jarak, kata, dan waktu adalah tema yang berulang dalam karyanya. Ia tidak suka membentak pembaca dengan amarah, ia memilih berbisik, dan justru bisikan itulah yang membekas lama.

Lewat pendekatan ekspresif yang memandang karya sastra sebagai luapan perasaan dan pikiran penciptanya, puisi ini dapat dibaca sebagai cerminan keadaan jiwa Sapardi sendiri. Di balik tujuh baris yang tenang itu terasa adanya kepedulian, kekhawatiran, sekaligus rasa syukur. Kepedulian terhadap sesama manusia yang sering lalai memanfaatkan waktunya. Kekhawatiran bahwa banyak orang berakhir “lupa untuk apa” dan rasa syukur atas kesadaran bahwa hidup yang singkat ini sesungguhnya berharga jika diisi dengan makna. Puisi ini, dengan kata lain, bukan sekadar permainan logika tentang fana dan abadi, melainkan ungkapan batin seorang penyair yang telah lama merenungkan arti keberadaan manusia.

Pada akhirnya, “Yang Fana adalah Waktu” bukanlah puisi yang ingin menggurui. Ia hanya menyodorkan cermin dan membiarkan kita bercermin di dalamnya. Sapardi membalik anggapan lama tentang waktu bukan untuk membingungkan, melainkan untuk mengembalikan tanggung jawab itu ke tangan kita sendiri. Waktu memang akan habis, tetapi apa yang kita lakukan dengannya menentukan apakah kita layak disebut abadi atau sekadar berlalu seperti detik yang terlupakan.

Membaca ulang puisi ini pada masa sekarang terasa semakin relevan, di tengah zaman yang menuntut kita bergerak cepat dan terus-menerus, sampai-sampai kita lupa bertanya untuk apa kita bergerak. Mungkin di situlah kekuatan Sapardi. Dengan tujuh baris yang sederhana, ia berhasil menanam satu pertanyaan yang sukar dipadamkan. Sudahkah kita merangkai detik demi detik menjadi sesuatu yang indah dan bermakna atau diam-diam kita pun telah lama lupa untuk apa.

Tags: #Hilda Septriani#Sapardi
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Berita Sesudah

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Berita Sesudah
Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Ke Hadirat” dan “Kehadiran”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026