Rabu, 14/10/26 | 03:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Seksisme dalam Judul Buku-buku Islami: Analisis Kritis Norman Fairclough

Minggu, 17/5/26 | 15:01 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Seksisme dalam media dan komunikasi massa berasal dari pandangan bias gender terhadap perempuan, baik dalam masyarakat umum, pendidikan, insititusi sosial, hinggal pelaku industri hiburan. Tulisan ini mengungkapkan bagaimana penerapan analisis wacana kritis Norman Fairclough terhadap judul-judul buku panduan agama Amalan-amalan Istri Agar Suami Semakin Sayang, Setia, dan Tidak Selingkuh; Janji-janji Allah kepada Perempuan Salihah; Menjadi Istri yang Mampu Menyelamatkan Suami dan Anak-anak dari Siksa Kubur justru berpotensi mereproduksi narasi patriarki, misoginis, dan seksisme terhadap perempuan.

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Wacana tentang perempuan telah lama diproduksi di berbagai media melalui konstruksi sosial dan pembagian peran gender. Namun, jika wacana tersebut dikaitkan dengan agama dan religiusitas, ia semakin terlegitimasi dan sulit untuk dielakkan. Dalam wacana religusitas terdapat seperangkat nilai tentang ajaran agama, praktik ibadah, hingga panduan berperilaku. Namun, seiring dengan perkembangan komunikasi massa, cara agama diproduksi, didistribusi, dan dipraktikkanpun mengalami pergeseran. Media tidak hanya menjadi saluran penyebaran ajaran agama, tetapi juga mereproduksi konstruksi sosial mengenai posisi perempuan dan peran gender melalui wacana keagamaan.

Dalam kajian gender, media kerap mengonstruksi perempuan saliha melalui seperangkat atribut tertentu, seperti busana syar’i, tutur kata lembut, peran domestik, hingga citra keibuan (Putri, 2025). Selain itu, media juga kerap mengaitkan citra perempuan ideal dengan nilai-nilai seperti kesalihan, kepatuhan, dan kelembutan. Konstruksi ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa dalam media tidak hadir begitu saja, tetapi juga membawa ideologi tertentu. Menggunakan analisis wacana kritis Fairclough, tulisan ini berupaya melihat bagaimana bahasa bekerja dalam relasi kuasa. Dalam analisis wacana kritis Fairclough, bahasa dipandang sebagai arena pertarungan antarkelas sosial; ada pihak yang dimenangkan, ada pula pihak yang dimarjinalkan (Delfia, 2021). Berikut adalah representasi perempuan dalam judul-judul buku panduan agama jika dikaji melalui pendekatan Faiclough.

1. Perempuan sebagai objek yang terus-menerus dibentuk

Judul-judul buku seperti Jadilah Istri yang Disenangi Allah, Rasulullah, dan Suami; Temukan Jodoh yang Saleh, Bukan yang Salah; Kitab Cinta Muslimah merepresentasikan perempuan sebagai sosok yang harus terus diarahkan, diperbaiki, dan dibentuk menjadi perempuan ideal. Penggunakan kata ‘jadilah’ tidak hanya menunjukkan perempuan diposisikan sebagai sosok yang harus terus diarahkan dan dibentuk, tetapi juga merupakan bentuk kalimat perintah yang mengandung relasi kuasa. Kata ‘temukan’ juga seolah menempakatkan perempuan harus secara aktif melakukan tindakan untuk menemukan jodoh yang salih. Perempuan juga dianggap salah, apabila jodoh yang didapat tidak sesuai dengan standar salih yang telah dikonstruki secara sosial. Adapun kata kitab memiliki makna semacam buku panduan bagi perempuan untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan cinta, seolah-olah tugas pemeliharaan hubungan lebih menjadi tanggung jawab perempuan. Hal ini sejalah dengan pandangan Beauvoir bahwa perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan. Dalam hal ini, perempuan bukan dipandang sebagai subjek yang tidak pernah utuh, melainkan dikondisikan sebagai objek yang harus selalu melakukan dan mencapai sesuatu.

2. Konstruksi identitas perempuan salihah

Teori Gender Performativitas Judith Butler memandang bahwa gender bukanlah hal yang melekat pada individu sejak lahir, melainkan sesuatu yang ditampilkan dan dilakukan berulang-ulang, sehingga menciptakan ilusi stabilitas dan kealamiahan (Inayah, dkk., 2024). Dalam konteks ini, judul-judul buku Menjadi Wanita Seindah Bidadari Surga; Wanita yang Dirindukan Surga; dan Janji-janji Allah kepada Perempuan Salihah memperlihatkan identitas perempuan ideal dikonstruksikan melalui berbagai atribut seperti bidadari surga dan saliha. Konsep perempuan saliha dalam judul-judul tersebut dibentuk melalui pengulangan simbol, bahasa, dan standar moral tertentu yang terus direproduksi, sehingga perempuan didorong untuk menampilkan identitas sesuai dengan standar yang telah dibentuk oleh media.

Menariknya, dua dari judul buku tersebut ditulis oleh laki-laki. Dalam perspektif Faiclough, kondisi ini memperlihatkan adanya relasi kuasa dalam produksi wacana, terutama terkait siapa yang berbicara dan yang dibicarakan. Perempuan menjadi objek yang direpresentasikan melalui sudut pandang tertentu, sedangkan laki-laki berada pada posisi sebagai pihak yang mereproduksi narasi mengenai perempuan. Meskipun secara denotatif judul-judul tersebut seolah membawa perempuan kepada nilai kebaikan, narasi yang dibangun tetap menunjukkan adanya ketimpangan karena perempuanlah yang dikadikan sebagai pihak yang ‘diarahkan’.

3. Perempuan sebagai agen perubahan dalam rumah tangga

Judul-judul seperti Amalan-amalan Istri Agar Suami Semakin Sayang, Setia, dan Tidak Selingkuh; Keajaiban Doa Istri Salihah; Menjadi Istri yang Mampu Menyelamatkan Suami dan Anak-anak dari Siksa kubur; Dosa-dosa Istri yang Wajib Dihindari Agar suami dan Anak-anak Sukses Bahagia Dunia Akhirat; dan Seni Merawat Cinta Bagi Istri merepresentasikan perempuan sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam memelihara hubungan emosional sekaligus menjadi agen perubahan dalam rumah tangga. Perempuan seolah dibebani tanggung jawab agar suami setia, rumah tangga selalu harmonis, hingga selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat, sementara laki-laki tidak ditempatkan dalam posisi tanggung jawab yang setara.

Hal ini sejalan dengan pandangan Firminger (2000) bahwa perempuan kerap dibebani sebagai penjaga relasi emosional, tetapi hal yang sama tidak berlaku bagi laki-laki. Akibatnya, perempuan mengalami beban ganda: sebagai penjaga rumah tangga sekaligus penyelamat keluarga dari kegagalan di kehidupan dunia akhirat. Padahal, agama Islam sejatinya mengajarkan bahwa rumah tangga sejatinya dibangun atas dasar kesalingan untuk mencapai sakinah, mawaddah, warahmah melalui kerja sama antara suami dan istri. Dengan demikian, narasi dalam judul-judul tersebut memperlihatkan bahwa praktik keagamaan kemudian bergeser dan bercampur dengan ideologi patriarki dan misoginis yang tidak berpihak pada perempuan.

4. Perempuan sebagai makhluk emosional

Selama ini, konstruksi gender menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai dua entitas yang berlawanan. Laki-laki dipandang sebagai makhluk yang mengedepankan logika, sementara perempuan lebih dilekatkan dengan emosi. Namun, judul-judul seperti La Tahzan untuk Ibu Rumah Tangga dan La Tahzan for Akhwat Tangguh justru memunculkan paradoks ketika perempuan yang telah dilekatkan dengan stereotip emosional tidak diberi ruang untuk memperlihatkan emosinya. Melalui judul-judul tersebut, perempuan didorong untuk terus menjadi sosok yang tegar dan sabar, mengingat frasa la tahzan dalam bahasa Arab memiliki arti “jangan bersedih”.

Dalam perspektif Judith Butler, kondisi ini menunjukkan bahwa perempuan terus diarahkan untuk melakukan performativitas agar tetap dianggap sebagai perempuan yang sesuai dengan standar terentu. Padahal, perasaan seperti sedih maupun senang merupakan pengalaman emosional pasti dialami oleh laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, perempuan tidak hanya dikonstruksikan sebagai makhluk emosional, tetapi juga dituntut untuk menihilkan pengalaman emosionalnya sendiri demi memenuhi standar perempuan ideal yang dibentuk melalui wacana religius.

Dengan demikian, melalui analisis wacana kritis Fairclough diperlihatkan bahwa kesepuluh judul buku tersebut tidak sepenuhnya bebas nilai. Di balik judul-judul yang tampak religius dan membawa nilai-nilai kebaikan, terdapat wacana serta ideologi tertentu yang dipertahankan melalui permainan bahasa. Melalui judul-judul tersebut, perempuan direpresentasikan sebagai sosok yang harus terus diarahkan, dibentuk agar sesuai dengan standar perempuan saliha, menjadi agen perubahan dan pengendali dalam kehidupan rumah tangga, hingga makhluk emosional yang tidak diberi ruang untuk menunjukkan emosinya. Oleh sebab itu, judul-judul semacam ini perlu terus dikritisi masyarakat agar tidak secara berulang mereproduksi wacana yang pada akhirnya kurang memanusiakan perempuan. Terlebih lagi ketika agama ikut dikomodifikasi dan dijadikan legitimasi bagi ideologi patriarki, misoginis, dan ketimpangan gender yang dibangun melalui narasi religiusitas.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Berita Sesudah

Firdaus: Kader PMII Harus Profesional Bergerak dan Hidupkan Semangat Organisasi di Kampus

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Firdaus: Kader PMII Harus Profesional Bergerak dan Hidupkan Semangat Organisasi di Kampus

Firdaus: Kader PMII Harus Profesional Bergerak dan Hidupkan Semangat Organisasi di Kampus

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nurfirmanwansyah Apresiasi Gerakan Literasi Digital bagi Pelajar di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026