
Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)
Banyak orang menganggap bahasa hanyalah alat komunikasi sehari-hari, sesuatu yang kita pakai begitu saja tanpa perlu dipikirkan terlalu dalam. Padahal, di balik setiap pilihan kata yang kita ucapkan atau tuliskan, tersimpan keputusan yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Bahasa bisa menyampaikan perasaan yang tidak sanggup diungkapkan secara langsung, membangun dunia yang tidak pernah ada, bahkan menggerakkan orang untuk berpikir dan merasakan sesuatu yang berbeda. Namun, perhatian terhadap bahasa sebagai alat estetika dan bukan hanya alat komunikasi masih sering luput dari kesadaran banyak orang. Padahal, dalam karya sastra seperti lagu, teater, dan cerpen, cara bahasa digunakan sama pentingnya dengan apa yang ingin disampaikan. Kajian tentang hal ini dikenal dengan istilah stilistika, dan ia membuka pemahaman yang jauh lebih kaya tentang bagaimana bahasa bekerja dalam kehidupan manusia.
Sebelum kita memahami stilistika sebagai kajian, penting untuk melihat bahasa yang sebenarnya telah lama digunakan manusia. Bahasa bukan hanya untuk berkomunikasi, melainkan juga digunakan untuk menciptakan karya sastra. Sejak zaman kuno, manusia sudah merasakan bahwa ada kata-kata tertentu yang terasa lebih kuat, lebih indah, atau lebih menyentuh dibanding kata-kata lain yang bermakna sama. Dari kesadaran itulah lahir puisi, nyanyian, dan cerita sebagai bentuk-bentuk ekspresi yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menciptakan pengalaman bagi yang menerima dan menikmatinya. Bahasa, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar jembatan antara pembicara dan pendengar, tetapi menjadi bahan baku dari sebuah karya sastra.
Dalam perkembangannya, para pengarang mulai menyadari bahwa pilihan kata bukan hal yang bisa dilakukan sembarangan. Sebuah kata bisa membawa nuansa yang sama sekali berbeda dibanding sinonimnya. Kalimat yang panjang dan berliku menciptakan perasaan yang berbeda dari kalimat pendek yang menghantam. Pengulangan bunyi bisa membuat sebuah baris terasa seperti musik. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai gaya bahasa, yaitu cara seorang pengarang mengolah bahasa untuk menciptakan efek tertentu pada pembaca atau pendengarnya. Menurut Keraf (2009), gaya bahasa merupakan cara seseorang menggunakan bahasa untuk memperoleh efek tertentu,sementara Nurgiyantoro (2017) menjelaskan bahwa stilistika berkaitan langsung dengan bagaimana pengarang memanfaatkan unsur bahasa untuk menciptakan nilai estetika dalam karyanya.
Titik penting dalam memahami stilistika adalah menyadari bahwa setiap medium sastra memiliki kebutuhan yang berbeda terhadap bahasa. Lagu, teater, dan cerpen sama-sama menggunakan bahasa sebagai alat utama tetapi cara mereka menggunakannya sangat berlainan. Inilah yang membuat kajian stilistika menjadi begitu kaya: tidak ada satu cara tunggal untuk mengolah bahasa dengan baik, karena “baik” selalu bergantung pada konteks dan tujuan karya itu sendiri.
Dalam lagu, bahasa harus mampu hidup di dua dunia sekaligus: dunia makna dan dunia bunyi. Lirik yang bagus bukan hanya yang bermakna dalam, tetapi juga yang terasa enak ketika dinyanyikan bunyinya ikut berbicara bersama maknanya. Karena itulah banyak lagu menggunakan pengulangan kata, rima, dan metafora yang ringkas tapi kuat. Rajabbani dkk. (2025) mencatat bahwa dalam album Memorandum karya grup band Perunggu, penggunaan majas perbandingan dan citraan menjadi unsur utama yang membangun suasana emosional lagu bukan semata-mata melodinya. Ungkapan seperti “hati yang patah” tidak bermakna harfiah, tetapi justru karena tidak harfiah itulah ia mampu menyentuh perasaan pendengar secara lebih langsung.
Perkembangan penggunaan bahasa dalam sastra semakin menarik ketika kita melihat teater. Di panggung, bahasa tidak sendirian. Ia hadir bersama cahaya, keheningan, gerakan tubuh, dan ekspresi wajah dan semua itu ikut “berbicara” kepada penonton. Afrizal dkk. (2021) mencatat bahwa teater kontemporer atau postdramatik tidak lagi menjadikan teks sebagai satu-satunya pusat pertunjukan, melainkan memanfaatkan simbol-simbol visual untuk membangun makna secara lebih luas. Ini berarti gaya bahasa dalam teater jauh melampaui kata-kata yang diucapkan di panggung.
Kesadaran bahwa bahasa bisa bergerak melampaui kata-kata inilah yang pernah mendorong W.S. Rendra memperkenalkan konsep “Teater Mini Kata”, sebuah bentuk pertunjukan yang sengaja meminimalkan dialog dan membiarkan tubuh pemain menjadi bahasa itu sendiri. Dalam konsep ini, penonton tidak hanya mendengarkan, tetapi juga membaca gerak, membaca jeda, membaca suasana panggung. Bahasa nonverbal menjadi sama kuatnya, bahkan kadang lebih kuat, daripada kata-kata yang diucapkan. Hal ini memperlihatkan bahwa gaya bahasa dalam teater adalah sistem yang jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan.
Berbeda dengan lagu dan teater yang mendapat bantuan dari elemen lain, melodi, visual, dan gerak, cerpen berdiri sepenuhnya di atas kekuatan bahasa tulisan saja. Tidak ada musik yang mengisi kekosongan, tidak ada ekspresi wajah aktor yang menjelaskan perasaan tokoh. Semua harus dilakukan oleh kata-kata. Karena beban itulah, pengarang cerpen yang baik biasanya sangat cermat dalam memilih diksi dan menyusun kalimat.
Nurfadhilah dkk. (2021) menemukan bahwa dalam kumpulan cerpen Metafora Padma karya Bernard Batubara, gaya bahasa retoris digunakan bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai cara untuk mempertajam konflik dan suasana cerita. Satu kalimat yang salah bisa merusak suasana yang sudah dibangun panjang lebar dan satu kalimat yang tepat bisa membuat pembaca berhenti sejenak, diam, dan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Jika kita menelusuri bagaimana gaya bahasa berkembang dalam ketiga medium ini, kita akan menemukan bahwa stilistika sesungguhnya adalah kajian tentang pilihan tentang mengapa seorang pengarang memilih kata ini dan bukan kata itu, mengapa kalimat ini dibuat panjang sementara yang berikutnya pendek, mengapa satu adegan dibiarkan tanpa dialog.
Janub (2005) menjelaskan bahwa gaya bahasa merupakan bentuk ekspresi batin pengarang yang diwujudkan melalui pilihan kata dan cara penyampaian tertentu. Artinya, gaya bahasa bukan sekadar teknik, tetapi cerminan dari cara seorang pengarang melihat dan merasakan dunia. Pemahaman ini semakin relevan ketika kita melihat bagaimana bahasa dalam sastra terus berkembang dari masa ke masa. Dalam lagu, kita bisa melacak bagaimana lirik bergerak dari yang sederhana dan naratif menuju yang lebih metaforis dan puitis. Dalam teater, kita menyaksikan bagaimana dialog berkembang dari yang panjang dan deklaratif menuju yang pendek, simbolik, bahkan sengaja diam. Dalam cerpen, kita melihat bagaimana gaya bercerita bergeser dari yang linear dan deskriptif menuju yang lebih eksperimental dan penuh ambiguitas. Setiap perubahan itu adalah perubahan dalam cara bahasa digunakan dan stilistika adalah alat untuk membaca perubahan tersebut. Dengan demikian, stilistika mengajarkan kita bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang netral atau sekadar fungsional. Setiap pilihan kata membawa konsekuensi.
Setiap cara penyampaian mencerminkan pandangan dan setiap karya sastra, baik lagu, teater, maupun cerpen adalah bukti bahwa manusia tidak pernah puas hanya dengan menyampaikan informasi. Kita selalu ingin menyampaikan sesuatu yang lebih: perasaan, keindahan, kegelisahan, dan pengalaman yang tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata biasa. Di situlah bahasa menemukan fungsinya yang paling dalam dan di situlah stilistika menemukan alasan mengapa ia penting untuk dipelajari.









