Minggu, 03/5/26 | 20:35 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan untuk memulai. Ada kehangatan yang membuat saya sejenak bertahan, sebelum akhirnya bersiap meninggalkannya. Di luar sana, orang-orang melangkah ringan menyambut hari, dan itu pelan-pelan mengajak saya ikut bergerak. Maka saya pun belajar bangun, sedikit demi sedikit, menuju pagi yang lebih hidup.

Setiap malam, niat itu kembali datang dengan tenang. Saya membayangkan esok dimulai dengan langkah yang lebih teratur dan ringan. Alarm disiapkan sebagai penanda awal yang baru. Pada saat itu, harapan terasa dekat dan sangat mungkin dijalankan.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Namun, pagi sering menghadirkan ujian kecil bagi niat itu. Saat alarm berbunyi, kesadaran belum sepenuhnya pulih dan pilihan terasa sederhana. Pikiran cenderung memilih kenyamanan, sambil meyakinkan bahwa istirahat juga bagian dari menjaga diri. Di titik itu, niat belum hilang, hanya menunggu waktu yang lebih tepat untuk dijalankan.

Ada saatnya saya bangun dan melangkah keluar. Udara pagi terasa segar dan suasana masih tenang. Langkah mungkin belum jauh, tetapi cukup untuk merasakan perbedaan. Dari situ saya belajar menikmati proses, bahwa setiap gerak kecil tetap berarti.

Pengalaman kecil itu mengajarkan bahwa olahraga pagi bukan sekadar urusan fisik. Ia juga melatih cara mengelola keinginan dan mengarahkan diri. Pikiran memang kerap menawarkan berbagai alasan, tetapi di situlah proses belajar dimulai. Dari sana saya memahami bahwa memilih bergerak adalah keputusan yang bisa terus dilatih.

Ada pagi-pagi tertentu ketika usaha itu berhasil dijalankan, meski sederhana dan belum sempurna. Beberapa menit bergerak sudah cukup memberi rasa yang berbeda. Dari situ saya memahami bahwa perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan tumbuh dari hal kecil yang dilakukan dengan konsisten dan sikap yang lebih ringan terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, pagi tidak menuntut kesempurnaan, hanya memberi kesempatan untuk memulai. Saya belajar bahwa yang penting adalah keberanian untuk mulai dan mengulangnya. Olahraga pagi menjadi cara sederhana untuk merawat diri. Dari kebiasaan kecil, perubahan perlahan menemukan jalannya.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Wawako Padang Maigus Nasir Lepas CJH Kota Padang Kloter 8 Sebanyak 383 Orang

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

POPULER

  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Muhammad Aldito Aprilian dan Ulasannya oleh Dara Layl

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Supri Ardi Dorong Literasi AI untuk Pengembangan UMKM di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026