
Ketenangan Apa yang Kau Cari
Oleh: Delivia Nazwa Syafiariza
Ketenangan apa yang kau cari
Ketenangan dunia
yang dibangun dari suara-suara palsu
dan tawa yang terdengar demi sopan santun
Atau ketenangan hati
yang katanya bisa tumbuh dari pasrah
tapi bahkan doa pun kini terasa hampa
Kau bilang ingin tenang
tapi terus berlari dari sepi
menyibukkan diri agar tak sempat berpikir
bahwa mungkin
yang kau kejar bukan damai
melainkan pelarian yang halus
Ketenangan apa yang kau cari wahai diri
Kau duduk di bawah langit yang birunya pun lelah
menghirup udara tapi tetap sesak
menutup mata tapi tetap sadar
bahwa sunyi tidak selalu menenangkan
Mungkin ketenangan bukan sesuatu yang dicari
Mungkin ia hanya datang
ketika kau berhenti
mencari alasan untuk tenang
Musim yang Pergi Lebih Dulu
Oleh: Delivia Nazwa Syafiariza
Waktu berjalan bagai arloji tua
Yang tak pernah menunggu siapa pun
Aku tumbuh di bawah bayangan seseorang
Yang selalu tahu lebih dulu
Kapan harus berhenti, kapan harus melangkah
Musim berganti
Dan ia
Pergi bersama satu di antaranya
Meninggalkan ruang kosong
Yang perlahan diisi oleh suara hujan dan berita singkat
Tentang hidupnya di tempat jauh
Kadang aku iri pada caranya berpindah
Pada keberanian yang tak kutemukan
Di antara buku-buku
Kadang aku ingin bertanya
Apa rasanya tak takut kehilangan arah?
Tapi waktu terlalu sibuk berlalu
Membiarkan kami jadi dua orang
Yang hanya disatukan oleh kenangan
Dan jam dinding di rumah lama
Yang berdetak untuk dua langit berbeda
Kini setiap kali daun gugur
Aku belajar memahami perpisahan
Sebagai bagian dari pertumbuhan
Bahwa ada musim yang memang harus pergi lebih dulu
Agar yang tinggal
Belajar bagaimana rasanya bertahan
Bagai bayangan
Yang kehilangan cahayanya
Lalu mencari cahaya sendiri
Bulan Menunggu
Oleh: Delivia Nazwa Syafiariza
Bulan berputar pelan
Menjaga jarak dari Bumi
Jarak yang tak pernah ia pilih
Tapi terus ia jalani
Setiap malam ia berharap
Bumi menoleh barang sebentar
Mengakui sinar lembut yang ia simpan
Hanya untuk satu planet itu
Ia ingin sekali mendengar
Bahwa cahayanya cukup
Bahwa dirinya berarti
Bahwa kehadirannya bukan sekadar pantulan
yang mudah terlupakan
Namun Bumi selalu terpikat pada Matahari
Pada hangat yang menyilaukan
Pada terang yang membuat Bulan terasa kecil
Tapi malam ini…
Izinkan Bulan tak menunjukkan cahayanya
Biarkan awan menutupi
Gelap mencekam menjadi saksi betapa lelah ia menunggu
Sebab di tengah putaran panjang itu
Bumi masih mengagumi bintang-bintang
Yang hanya singgah sebentar
Sementara Bulan tetap tinggal
Menunggu tanpa diminta
Dan di dalam diam orbitnya
Bulan bertanya pada dirinya sendiri
Apa kurang lembut cahayanya
Untuk membuat Bumi berkata
Bahwa Bulanlah satu-satunya?
Biodata Penulis:
Delivia Nazwa Syafiariza merupakan mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Ia aktif di UKMF Labor Penulisan Kreatif dan bisa disapa melalui Instagram @viadns_yaa








