Minggu, 15/3/26 | 16:34 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali Ramadan datang. Ia seolah mengingatkan saya kembali tentang arti sabar. Bukan melalui nasihat yang panjang, melainkan melalui pengalaman yang saya jalani hari demi hari selama berpuasa. Dari pagi hingga menjelang senja, saya belajar menahan lapar dan haus, menahan emosi, juga menahan berbagai keinginan yang biasanya terasa begitu mudah dipenuhi.

Dalam perjalanan waktu itulah saya sering menyadari bahwa sabar bukan sekadar kata yang sering kita dengar, melainkan sebuah latihan batin yang pelan-pelan membentuk cara kita memandang diri sendiri dan kehidupan. Dari pengalaman menjalani hari-hari puasa itu pula saya semakin memahami bahwa sabar sering terdengar sebagai kata yang besar, bahkan terasa berat diucapkan. Namun dalam kenyataannya, sabar justru tumbuh dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Ketika saya menapaki waktu dari pagi hingga menjelang senja dengan menahan lapar dan haus, di situlah kesabaran perlahan dilatih. Menjelang magrib, ketika waktu terasa berjalan sedikit lebih panjang dari biasanya, saya belajar bahwa menunggu adalah bagian dari latihan itu. Pada saat-saat seperti itulah saya menyadari bahwa puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, melainkan juga menata hati agar tetap tenang hingga tiba waktunya berbuka.

Puasa, bagi saya, juga menghadirkan ruang untuk merenung tentang banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hari-hari yang dilalui dari sahur hingga menjelang berbuka, ada semacam jeda yang membuat saya lebih peka terhadap diri sendiri, bagaimana menahan keinginan, menjaga emosi, dan menjalani waktu dengan lebih tenang. Dari situ saya sering merasa bahwa puasa bukan hanya urusan menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk merapikan kembali cara kita menjalani hari-hari.

Tentu saja perjalanan itu memiliki tujuan yang jelas. Ramadan tidak berlangsung tanpa akhir. Setelah hari-hari yang dilalui dengan kesabaran dan pengendalian diri, akan tiba satu hari yang selalu dinanti dengan penuh kegembiraan, Idulfitri. Hari itu terasa seperti sebuah jeda yang hangat, sebuah momen untuk merasakan lega sekaligus syukur setelah menempuh perjalanan puasa selama sebulan penuh.

Idulfitri sering disebut sebagai hari kemenangan. Tapi kemenangan di sini bukan seperti menang lomba lari yang ada medali dan podium. Kemenangan ini lebih bermakna. Ia hadir ketika kita berhasil melewati hari-hari puasa, ketika kita belajar menahan diri, ketika kita menyadari bahwa ternyata kita mampu sedikit lebih sabar daripada biasanya.

Sering kali kemenangan hadir dengan cara yang tenang, tapi penuh kegembiraan. Ia terasa dalam perjalanan Ramadan yang kita lalui dengan sabar menjalankan puasa dan menunaikan berbagai ibadah dengan penuh harap. Kini Ramadan perlahan mendekati ujungnya, sementara Idulfitri menanti dengan suasana yang selalu membawa syukur dan kehangatan. Barangkali di situlah makna kemenangan itu berdiam, pada perjalanan ibadah yang telah dilalui, pada kesabaran yang tumbuh perlahan di dalam diri, dan pada harapan agar segala amal yang kita kerjakan selama Ramadan diterima dengan penuh rahmat.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dorong Ekonomi Nagari, Donizar Sosialisasikan Perda Pariwisata Halal

Berita Sesudah

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Berita Sesudah
Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Bakal Menggelar Lomba Kebersihan Tingkat RT se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Bakal Buka Jalur Dua Arah di Depan Plaza Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Boleh Tidak Sebut Semua Merek Air Minum dalam Kemasan dengan Aqua?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dorong Ekonomi Nagari, Donizar Sosialisasikan Perda Pariwisata Halal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026