Senin, 02/3/26 | 00:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk mewawancarai para maestro, petani sepuh, tokoh adat, dan pelaku tradisi yang masih menjaga praktik kebudayaan pertanian Minangkabau. Saya mendengarkan kisah tentang tradisi lisan seperti ratik tolak bala, kaue, malimauan padi, dan manantang ari dan lainnya. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya belajar bagaimana tradisi lisan tetap hidup dalam keseharian dunia pertanian.

Di Minangkabau, bertani bukan sekadar menanam dan memanen. Di balik setiap ayunan sabit dan langkah di sawah, ada kata-kata yang hidup: doa-doa, pantun, mantra, nyanyian rakyat, dan pepatah adat. Ungkapan-ungkapan itu bukan hanya hiasan bahasa, melainkan bagian dari cara masyarakat memahami alam, menghormati tanah, dan menjaga hubungan antarsesama.

Namun, tradisi lisan yang tumbuh di dunia pertanian ini semakin jarang terdengar. Banyak di antara tradisi itu, kini hanya diingat oleh para petani lanjut usia. Perubahan zaman, pergeseran pola kerja, dan melemahnya peran komunitas adat membuat warisan tutur ini perlahan memudar. Jika tidak segera didokumentasikan, bukan tidak mungkin ia akan hilang tanpa jejak.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB

Dari hasil wawancara yang saya lakukan terungkap kenyataan yang cukup menggetarkan bahwa sejumlah tradisi itu tidak lagi dipraktikkan sebagaimana mestinya melainkan tinggal sebagai cerita yang dikenang. Ia hidup dalam ingatan bukan lagi dalam tindakan disebut sebagai yang dulu pernah ada tetapi jarang benar benar dilaksanakan. Seorang maestro yang saya temui menyampaikan dengan nada lirih bahwa persoalan utamanya terletak pada terputusnya regenerasi.

Yang muda tidak mau bertanya yang tua enggan memberitahu ujarnya mengulang sebuah ungkapan yang sarat makna. Kalimat itu seolah merangkum jarak antargenerasi yang kian melebar ketika tradisi tidak lagi diwariskan melalui praktik langsung melainkan berhenti pada pengalaman personal para pelaku sepuh. Di titik inilah warisan tutur menjadi rapuh bukan karena ia kehilangan nilai tetapi karena ruang pewarisannya kian menyempit.

Barangkali yang perlu kita lakukan bukan sesuatu yang rumit tetapi sesuatu yang tulus. Membuka ruang agar cerita cerita itu kembali diucapkan di sawah di rumah di sekolah dan di balai adat sehingga generasi muda tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri. Tradisi lisan akan tetap hidup jika ia didengar dihafal dipraktikkan dan dirasakan manfaatnya bersama. Selama masih ada yang mau bertanya dan ada yang bersedia berbagi maka suara petani tidak akan benar benar hilang. Ia akan tetap tumbuh seperti padi yang dirawat dengan sabar mengakar kuat di tanahnya sendiri dan menguning memberi harapan bagi masa depan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Berita Sesudah

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Berita Sesudah
Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

POPULER

  • Perhatikan Masjid hingga Dampak Bencana, Firdaus Gugah Warga Lubuk Alung Lewat Safari Ramadan

    Perhatikan Masjid hingga Dampak Bencana, Firdaus Gugah Warga Lubuk Alung Lewat Safari Ramadan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Orang Tewas di Konsesi PT Bina, Warga Desak Disnaker Evaluasi Standar K3

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjanjikan, Walnag Sipangkur Ajak Pemuda Kelola Jagung di Lahan Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Safari Ramadan 1447 Hijriah, Osman Ayub Salurkan Bantuan Rp25 juta di Masjid Al Mujahidin Kurao Pagang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024