
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang mendesak. Ia lebih menyerupai kehadiran yang tenang, menyampaikan refleksi melalui bahasa yang sederhana dan bersahaja. Kalimat-kalimatnya tidak dimaksudkan untuk memberi penilaian, melainkan untuk mengajak pembaca berhenti sejenak dan menimbang kembali pengalaman hidup yang kerap berlalu begitu saja.
Memasuki tahun 2026, Renyah ingin tetap setia pada perannya sebagai ruang yang menyapa dengan jujur. Rubrik ini menghadirkan refleksi yang dekat dengan pengalaman keseharian pembaca. Pada saat yang sama, Renyah membuka diri untuk mengeksplorasi sudut pandang yang lebih beragam, termasuk ironi-ironi kecil dalam kehidupan sehari-hari yang kerap luput dari perhatian.
Percakapan singkat, kelelahan yang datang tanpa disadari, maupun kebahagiaan sederhana kerap menjadi bahan renungan Renyah. Hal-hal yang tampak sepele tersebut sesungguhnya merekam denyut kehidupan sehari-hari. Renyah menyadari bahwa dunia digital bergerak semakin cepat, dipenuhi opini keras dan pernyataan yang berlomba untuk terdengar paling lantang.
Di tengah kebisingan itu, Renyah memilih untuk tetap berusaha menjadi ringan, hangat, dan tidak tergesa-gesa. Membaca dipahami sebagai bentuk jeda, ruang singkat untuk beristirahat dan menjaga kewarasan. Karena itu, kehadiran Renyah diharapkan dapat menemani akhir pekan pembaca dengan tenang, tanpa tuntutan, dan tanpa kebisingan.
Dalam keseharian yang serba cepat, jeda sering kali menjadi hal yang mudah terlewatkan. Akhir pekan yang diharapkan memberi ruang santai justru kerap dipenuhi deretan informasi dan percakapan yang terus mengalir tanpa henti. Di tengah situasi tersebut, Renyah mencoba menawarkan pilihan yang lebih sederhana: melambat sejenak tanpa merasa tertinggal. Dengan membaca secara tenang dan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat, Renyah ingin menghadirkan pengalaman yang tidak menuntut, tetapi menemani, agar pembaca dapat kembali pada ritme yang lebih manusiawi.
Akhirnya, 2026 bukan tentang janji bahwa segalanya akan lebih mudah, melainkan tentang kesediaan untuk memahami hidup apa adanya. Di tengah arus yang terus bergerak cepat, Renyah mencoba memilih bertahan pada keyakinan bahwa berpikir pelan, membaca dengan tenang, dan memberi ruang bagi pengalaman sehari-hari adalah bagian penting dari merawat kemanusiaan. Rubrik ini tidak berusaha menjadi penentu arah, tetapi peneman perjalanan, tempat gagasan sederhana dapat tumbuh dan dimaknai. Selama ruang itu masih dibutuhkan, Renyah ingin terus hadir dengan cara yang bersahaja.



