Selasa, 03/3/26 | 06:54 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Tengkelek: Dari Sendal Kayu Menjadi Nama Merek

Minggu, 14/9/25 | 15:19 WIB
Serba-serbi Kritik Sosial Habis Lebaran
Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 Linguistik Universitas Andalas)

Saat melaksanakan salat Magrib di Musala Cafe Dari Sini, Pasar Baru, Padang (dekat Universitas Andalas), saya menemukan beberapa pasang tengkelek di depan musala. Saya mengenakan sendal tersebut sembari berdecak kagum, sendal kayu yang menjadi salah satu sendal tradisional masyarakat Minangkabau ini masih disediakan oleh pemiliknya di sebuah kafe modern yang menjadi tempat tongkrongan mahasiswa.

Dahulu masyarakat Minangkabau mengenakan tengkelek ini ketika pergi ke surau/masjid. Hampir setiap rumah punya tengkelek saat itu. Namun, karena teknologi berkembang, sendal dan sepatu dihadirkan dalam berbagai model dan warna, tengkelek kemudian ditinggalkan masyarakat.

Tengkelek kemudian menjadi salah satu sendal yang disediakan di surau atau masjid. Beberapa surau dan masjid di Sumatera Barat menyediakan tengkelek sebagai sendal pengganti ketika ke toilet atau berwudu. Tengkelek disediakan karena kebanyakan orang-orang yang datang mengenakan sepatu sehingga tengkelek menjadi sendal pengganti yang dapat membantu mereka tetap bersih setelah selesai berwudu. Persis seperti sendal jepit yang disediakan berbagai masjid saat ini.

Kehadiran sendal jepit itu kemudian membuat kita tidak bisa lagi menemukan tengkelek di surau atau masjid. Jadi, ketika saya menemukan tengkelek di sebuah kedai kopi, kenangan saya pada masa kecil kembali datang. Saya senang mengenakan sendal yang berbunyi dang, klek, dang, klek ini menuju tempat berwudu.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Saya pun menceritakan ini kepada salah seorang mahasiswa saya yang merupakan Gen Z, mahasiswa yang lahir tahun 2000-an.

“Tahu tidak, apa itu tengkelek?” tanya saya.

Di luar ekspetasi, mahasiswa saya menjawab bahwa Tengkelek adalah nama distro yang menjual baju di Kota Padang. Dia tidak salah karena pada April 2009, Fefri Rusji dan Khalid Arafah, alumnus Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Padang menjual pakaian dan aksesori yang didesain mirip seperti Dagadu (Yogyakarta) dan Joger (Bali). Bernama Distro Tangkelek, toko ini menggunakan bahasa Minangkabau dalam desain baju kausnya, seperti kutipan pepatah, nama objek wisata, jenis kesenian, lelucon, hingga istilah populer yang dipakai oleh masyarakat Minangkabau saat ini. Oleh karena itu, dia menjawab tengkelek adalah nama distro.

Dalam kajian linguistik, perubahan makna kata tengkelek dari ‘lapik (alas) kaki dibuat dari kayu’ (KBBI) menjadi merek distro pakaian ini disebut dengan metonimia. Metonimia merupakan majas yang berupa nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya. Tidak hanya tengkelek, banyak kata dan frasa dalam bahasa Indonesia yang mengalami hal ini.

(1) Ayah selalu menikmati secangkir kapal api setiap pagi.
(2) Dini terbang dengan garuda.
(3) Kakek masih mengisap djarum, padahal beliau mempunyai penyakit asma.
(4) Pak Lurah ke kantor naik kijang.

Bentuk kapal api, garuda, djarum, dan kijang dalam kalimat tersebut merupakan nama merek sebuah produk. Kapal api merupakan merek kopi, Garuda merupakan merek pesawat terbang, Djarum merupakan merek rokok, dan Kijang merupakan merek mobil. Ketika masyarakat menjadikan benda berupa kapal api, garuda, jarum, dan kijang sebagai sebuah merek, terjadi sebuah proses yang disebut dengan metonimia.

Meskipun demikian, dari kata atau frasa tersebut, masyarakat masih mengenali bahwa kapal api adalah salah satu transportasi darat dan garuda adalah nama burung. Akan tetapi, pada kata tengkelek, Gen Z sama sekali tidak punya kenangan apa pun dengan tengkelek sehingga yang diingatnya hanyalah nama distro. Bahkan, ketika saya menjelaskan bahwa sendal kayu yang saya pakai ini adalah tengkelek, dia belum memercayai bahwa tengkelek adalah sebuah sendal. Ketika menjelaskan tengkelek dipakai sebagai sendal di surau atau masjid, ingatannya hanya pada sendal jepit yang biasanya bermerek Swallow.

Sebagai peneliti, pengamat, dan pemerhati bahasa, saya merasakan bahwa makna yang melekat pada kata tengkelek pelan-pelan sudah mulai punah di kalangan Gen Z. Sudah tentu akan terus terjadi pada Gen Alpha yang lahir tahun 2010—2024. Padahal, di pasar-pasar tradisional yang menjual anyaman lokal, seperti di Bukittinggi, Padang, Solok, dan Batusangkar, saat ini masih dijual sendal kayu ini.

Kita bisa menemukan tengkelek berwarna kayu asli (coklat) maupun berwarna merah. Bentuknya juga ada yang bulat pada bagian ujung (berukuran lebih kecil) dan juga ada petak (berukuran lebih besar daripada yang berwarna merah). Tengkelek berwarna merah cenderung dipakai oleh perempuan, sedangkan yang berwarna coklat bisa dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Namun, karena sendal ini tidak lagi dihadirkan di ruang publik, seperti masjid, musala, atau surau, anak-anak Gen Z dan Gen Alpha pun tidak mengenali dengan baik.

Perlu upaya kembali agar surau atau masjid menghadirkan tengkelek sebagai sendal pengganti. Di samping untuk mengenalkan kembali kepada generasi muda, menghadirkan tengkelek juga dapat menjadi upaya untuk membantu UMKM masyarakat Minangkabau. Bahkan, Distro Tangkelek juga perlu menyediakan tengkelek di berbagai cabang yang dimiliki—baik sebagai pajangan maupun salah satu barang yang dijual—untuk menjelaskan filosofi tengkelek yang menjadi nama distro.

Dulu saya pernah menemukan gambar tengkelek di papan nama Distro Tangkelek. Kini gambar tersebut sudah tidak ada. Ketidakhadiran gambar tengkelek pada papan nama maupun pada kaus atau tas yang dijual di sana, secara perlahan juga menjadi media yang menyebabkan makna kata tengkelek pelan-pelan menghilang dalam ingatan masyarakat yang belum pernah mengenal sendal kayu ini.

Meskipun kini hanya dikenal sebagai merek, kita patut bersyukur Distro Tangkelek sudah mengabadikan kata ini. Selanjutnya, masih ada tugas kita untuk mengenalkan kembali apa itu tengkelek, seperti apa bentuk tengkelek, dan bagaimana tengkelek berfungsi dalam kehidupan sosial, budaya, dan agama masyarakat Minangkabau. Bahkan, juga ada tugas lainnya, kita tidak hanya mengenalkan kembali tengkelek, tetapi juga bakiak.

Dalam KBBI, bakiak merupakan ‘terompah kayu’. Bakiak merupakan nama lain dari tengkelek yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau pada masa lampau. Kata bakiak ini justru sudah mulai tidak dikenali oleh generasi akhir milenial, yaitu mereka yang lahir tahun 1981—1996. Bagi generasi yang mengenakannya, bakiak pernah menjadi sendal yang memiliki nilai seni. Jika tidak segera diperkenalkan kembali, bisa jadi tengkelek dan bakiak akan menjadi kosakata yang pelan-pelan akan bergeser menjadi kata arkais dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ingin Bahagia, Sering-seringlah Berbagi

Berita Sesudah

Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Berita Sesudah
Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa dan (Ber) Pikiran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Sebar 216 Tim Safari Ramadhan 1447 H, Salurkan Bantuan hingga Rp50 Juta per Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebutuhan Darah Sumbar Capai 200 Kantong per Hari, Wakil Ketua DPRD Sumbar Ajak Semua Unsur Rutin Donor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024