Sabtu, 28/2/26 | 00:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Harmoni dalam Kata: Mantra sebagai Representasi Kearifan Lokal

Minggu, 07/9/25 | 15:34 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Mantra merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Di Nagari Talang Anau, misalnya, mantra hadir bukan sekadar sebagai ungkapan magis, tetapi juga sebagai doa, pengharapan, dan sarana penyembuhan sederhana. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memadukan keyakinan spiritual dengan praktik pengobatan.

Sejak kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan praktik-praktik tradisi yang melekat dalam keseharian. Di Nagari Talang Anau, obat untuk sakit tidak selalu berbentuk pil atau kapsul. Ada cara lain yang diwariskan turun-temurun, yakni melalui mantra. Mantra bukan sekadar ucapan, melainkan representasi dari kearifan lokal yang menyatukan keyakinan, doa, dan praktik pengobatan sederhana.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB

Saya masih ingat, ketika kecil saya sering mengalami sakit kepala, perut, atau rasa mual. Alih-alih segera diberi obat medis, nenek atau ibu saya berkata, “Itu karena sapo-sapoan”. Istilah ini merujuk pada sakit yang dipercaya timbul akibat ditegur oleh roh leluhur, yang dalam bahasa setempat disebut rawah-rawah. Untuk menyembuhkannya, nenek mengambil kunyit atau bawang merah, membelahnya menjadi dua, lalu merapalkan doa yang disebutnya sebagai mantra.

Sambil merapalkan mantra, nenek menghadapkan kunyit ke bibirnya, lalu meletakkannya di punggung tangan dan menggesekkan tangan ke lantai. Kunyit yang jatuh dalam posisi tertentu kemudian digosokkan ke bagian tubuh saya: dahi, hidung, leher, hingga pusar. Proses ini diulang sampai diyakini semua roh leluhur telah disebutkan namanya.

Tidak hanya untuk sapo-sapoan, mantra juga hadir dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi masalah lain. Di rumah kami yang dikelilingi pepohonan, sengatan tabuhan atau kerawai adalah hal biasa. Jika itu terjadi, nenek tidak serta-merta mengambil salep atau obat. Ia akan mengambil sebilah pisau dapur, merapalkan doa, lalu menggesekkan mata pisau pada kulit yang terkena sengatan.

Belakangan, melalui penelitian yang saya lakukan mengenai mantra sebagai representasi kearifan lokal, saya menemukan lafaz doa yang lazim digunakan masyarakat untuk mengobati bisa sengatan. Bagi masyarakat Talang Anau, apa yang disebut mantra ini sejatinya doa. Ia memuat maksud, tujuan, serta pengharapan yang dalam.

Dalam perspektif kearifan lokal, mantra mencerminkan cara masyarakat menafsirkan sakit, bencana kecil, maupun ketidaknyamanan hidup. Mereka tidak sekadar mengandalkan ramuan atau benda fisik, tetapi juga kekuatan kata-kata. Kata dalam mantra diyakini mampu menetralkan bahaya, mendatangkan keselamatan, bahkan menolak marabahaya.

Kini, ketika saya meneliti kembali praktik-praktik itu, terasa jelas bahwa mantra adalah bentuk pengetahuan tradisional yang berfungsi ganda: sebagai sarana penyembuhan sekaligus simbol spiritualitas masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Talang Anau menjaga keseimbangan hidup melalui harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Dengan demikian, mantra tidak hanya sekadar “kata-kata lama” yang dilafalkan, melainkan bagian dari warisan budaya yang merekam kearifan lokal. Ia adalah penanda bahwa masyarakat memiliki cara pandang tersendiri dalam menghadapi kehidupan, yang berbeda dari logika medis modern, namun tidak kalah bermakna.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ini 10 Orang Terkaya di Indonesia, Siapa Saja?

Berita Sesudah

Yosrizal Effendi Serap Aspirasi Warga Surau Gadang: Modal UMKM hingga Honor Garin Jadi Perhatian

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Berita Sesudah
Reses anggota DPRD Padang, fraksi PKB, Yosrizal Effendi.[foto : ist]

Yosrizal Effendi Serap Aspirasi Warga Surau Gadang: Modal UMKM hingga Honor Garin Jadi Perhatian

POPULER

  • Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Dharmasraya Terbitkan SE Tentang Pengawasan dan Penyaluran Gas Tiga Kilogram

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024