Sabtu, 30/5/26 | 21:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Harmoni dalam Kata: Mantra sebagai Representasi Kearifan Lokal

Minggu, 07/9/25 | 15:34 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Mantra merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Di Nagari Talang Anau, misalnya, mantra hadir bukan sekadar sebagai ungkapan magis, tetapi juga sebagai doa, pengharapan, dan sarana penyembuhan sederhana. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memadukan keyakinan spiritual dengan praktik pengobatan.

Sejak kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan praktik-praktik tradisi yang melekat dalam keseharian. Di Nagari Talang Anau, obat untuk sakit tidak selalu berbentuk pil atau kapsul. Ada cara lain yang diwariskan turun-temurun, yakni melalui mantra. Mantra bukan sekadar ucapan, melainkan representasi dari kearifan lokal yang menyatukan keyakinan, doa, dan praktik pengobatan sederhana.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

Saya masih ingat, ketika kecil saya sering mengalami sakit kepala, perut, atau rasa mual. Alih-alih segera diberi obat medis, nenek atau ibu saya berkata, “Itu karena sapo-sapoan”. Istilah ini merujuk pada sakit yang dipercaya timbul akibat ditegur oleh roh leluhur, yang dalam bahasa setempat disebut rawah-rawah. Untuk menyembuhkannya, nenek mengambil kunyit atau bawang merah, membelahnya menjadi dua, lalu merapalkan doa yang disebutnya sebagai mantra.

Sambil merapalkan mantra, nenek menghadapkan kunyit ke bibirnya, lalu meletakkannya di punggung tangan dan menggesekkan tangan ke lantai. Kunyit yang jatuh dalam posisi tertentu kemudian digosokkan ke bagian tubuh saya: dahi, hidung, leher, hingga pusar. Proses ini diulang sampai diyakini semua roh leluhur telah disebutkan namanya.

Tidak hanya untuk sapo-sapoan, mantra juga hadir dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi masalah lain. Di rumah kami yang dikelilingi pepohonan, sengatan tabuhan atau kerawai adalah hal biasa. Jika itu terjadi, nenek tidak serta-merta mengambil salep atau obat. Ia akan mengambil sebilah pisau dapur, merapalkan doa, lalu menggesekkan mata pisau pada kulit yang terkena sengatan.

Belakangan, melalui penelitian yang saya lakukan mengenai mantra sebagai representasi kearifan lokal, saya menemukan lafaz doa yang lazim digunakan masyarakat untuk mengobati bisa sengatan. Bagi masyarakat Talang Anau, apa yang disebut mantra ini sejatinya doa. Ia memuat maksud, tujuan, serta pengharapan yang dalam.

Dalam perspektif kearifan lokal, mantra mencerminkan cara masyarakat menafsirkan sakit, bencana kecil, maupun ketidaknyamanan hidup. Mereka tidak sekadar mengandalkan ramuan atau benda fisik, tetapi juga kekuatan kata-kata. Kata dalam mantra diyakini mampu menetralkan bahaya, mendatangkan keselamatan, bahkan menolak marabahaya.

Kini, ketika saya meneliti kembali praktik-praktik itu, terasa jelas bahwa mantra adalah bentuk pengetahuan tradisional yang berfungsi ganda: sebagai sarana penyembuhan sekaligus simbol spiritualitas masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Talang Anau menjaga keseimbangan hidup melalui harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Dengan demikian, mantra tidak hanya sekadar “kata-kata lama” yang dilafalkan, melainkan bagian dari warisan budaya yang merekam kearifan lokal. Ia adalah penanda bahwa masyarakat memiliki cara pandang tersendiri dalam menghadapi kehidupan, yang berbeda dari logika medis modern, namun tidak kalah bermakna.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ini 10 Orang Terkaya di Indonesia, Siapa Saja?

Berita Sesudah

Yosrizal Effendi Serap Aspirasi Warga Surau Gadang: Modal UMKM hingga Honor Garin Jadi Perhatian

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Berita Sesudah
Reses anggota DPRD Padang, fraksi PKB, Yosrizal Effendi.[foto : ist]

Yosrizal Effendi Serap Aspirasi Warga Surau Gadang: Modal UMKM hingga Honor Garin Jadi Perhatian

POPULER

  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gempuran Hiburan Modern, Dendang Saluang Kian Terlupakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sulitnya Gen Z Menabung di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026