Selasa, 14/4/26 | 15:03 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Harmoni dalam Kata: Mantra sebagai Representasi Kearifan Lokal

Minggu, 07/9/25 | 15:34 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Mantra merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Di Nagari Talang Anau, misalnya, mantra hadir bukan sekadar sebagai ungkapan magis, tetapi juga sebagai doa, pengharapan, dan sarana penyembuhan sederhana. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memadukan keyakinan spiritual dengan praktik pengobatan.

Sejak kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan praktik-praktik tradisi yang melekat dalam keseharian. Di Nagari Talang Anau, obat untuk sakit tidak selalu berbentuk pil atau kapsul. Ada cara lain yang diwariskan turun-temurun, yakni melalui mantra. Mantra bukan sekadar ucapan, melainkan representasi dari kearifan lokal yang menyatukan keyakinan, doa, dan praktik pengobatan sederhana.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Saya masih ingat, ketika kecil saya sering mengalami sakit kepala, perut, atau rasa mual. Alih-alih segera diberi obat medis, nenek atau ibu saya berkata, “Itu karena sapo-sapoan”. Istilah ini merujuk pada sakit yang dipercaya timbul akibat ditegur oleh roh leluhur, yang dalam bahasa setempat disebut rawah-rawah. Untuk menyembuhkannya, nenek mengambil kunyit atau bawang merah, membelahnya menjadi dua, lalu merapalkan doa yang disebutnya sebagai mantra.

Sambil merapalkan mantra, nenek menghadapkan kunyit ke bibirnya, lalu meletakkannya di punggung tangan dan menggesekkan tangan ke lantai. Kunyit yang jatuh dalam posisi tertentu kemudian digosokkan ke bagian tubuh saya: dahi, hidung, leher, hingga pusar. Proses ini diulang sampai diyakini semua roh leluhur telah disebutkan namanya.

Tidak hanya untuk sapo-sapoan, mantra juga hadir dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi masalah lain. Di rumah kami yang dikelilingi pepohonan, sengatan tabuhan atau kerawai adalah hal biasa. Jika itu terjadi, nenek tidak serta-merta mengambil salep atau obat. Ia akan mengambil sebilah pisau dapur, merapalkan doa, lalu menggesekkan mata pisau pada kulit yang terkena sengatan.

Belakangan, melalui penelitian yang saya lakukan mengenai mantra sebagai representasi kearifan lokal, saya menemukan lafaz doa yang lazim digunakan masyarakat untuk mengobati bisa sengatan. Bagi masyarakat Talang Anau, apa yang disebut mantra ini sejatinya doa. Ia memuat maksud, tujuan, serta pengharapan yang dalam.

Dalam perspektif kearifan lokal, mantra mencerminkan cara masyarakat menafsirkan sakit, bencana kecil, maupun ketidaknyamanan hidup. Mereka tidak sekadar mengandalkan ramuan atau benda fisik, tetapi juga kekuatan kata-kata. Kata dalam mantra diyakini mampu menetralkan bahaya, mendatangkan keselamatan, bahkan menolak marabahaya.

Kini, ketika saya meneliti kembali praktik-praktik itu, terasa jelas bahwa mantra adalah bentuk pengetahuan tradisional yang berfungsi ganda: sebagai sarana penyembuhan sekaligus simbol spiritualitas masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Talang Anau menjaga keseimbangan hidup melalui harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Dengan demikian, mantra tidak hanya sekadar “kata-kata lama” yang dilafalkan, melainkan bagian dari warisan budaya yang merekam kearifan lokal. Ia adalah penanda bahwa masyarakat memiliki cara pandang tersendiri dalam menghadapi kehidupan, yang berbeda dari logika medis modern, namun tidak kalah bermakna.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ini 10 Orang Terkaya di Indonesia, Siapa Saja?

Berita Sesudah

Yosrizal Effendi Serap Aspirasi Warga Surau Gadang: Modal UMKM hingga Honor Garin Jadi Perhatian

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Reses anggota DPRD Padang, fraksi PKB, Yosrizal Effendi.[foto : ist]

Yosrizal Effendi Serap Aspirasi Warga Surau Gadang: Modal UMKM hingga Honor Garin Jadi Perhatian

POPULER

  • Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

    Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Politisi ke Negarawan, Halim Iskandar Tekankan Arah Kaderisasi PKB di Muscab Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Padang Usulkan Pencabutan Perda Keuangan Kepala Daerah 2003, Dinilai Tak Relevan Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026