Senin, 09/3/26 | 21:37 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

“Urang Balakang”: antara Bayangan dan Kenyataan

Minggu, 09/3/25 | 16:34 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Terkadang, dalam percakapan keseharian dalam bahasa Minangkabau, kita mendengar istilah “urang balakang”. Ungkapan ini meluncur begitu saja, sering kali tanpa banyak yang mempertanyakan maknanya. “Lah salasai dek urang balakang tu” atau “kami urang balakang ko ma, sakampuang kito”, dan masih banyak lainnya. Namun, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “urang balakang”? Apakah mereka sekadar sosok yang bekerja di balik layar, atau ada makna lebih dalam yang tersimpan dalam istilah ini?

Istilah “urang balakang” ternyata menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang sering meluncur dalam percakapan sehari-hari. Dalam bahasa Minangkabau, maknanya bisa berubah-ubah, tergantung pada konteks penggunaannya. Kadang, istilah ini merujuk pada pekerjaan seseorang. Di lain waktu, urang balakang juga bisa mengacu pada alamat seseorang. Menandakan bahwa ia berasal dari suatu tempat yang berada di belakang atau jauh dari pusat keramaian.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Seperti banyak ungkapan khas Minangkabau lainnya, “urang balakang” bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cerminan dari cara hidup. Istilah ini menggambarkan bagaimana masyarakat Minangkabau menempatkan setiap individu dalam suatu sistem sosial. Bahwa setiap peran, baik yang tampak di depan maupun yang tersembunyi di belakang, memiliki arti dan kontribusi yang sama pentingnya.

Saya masih ingat, saat menjadi mahasiswa, betapa seringnya istilah ini muncul dalam berbagai percakapan. Kadang digunakan untuk menggambarkan mereka yang bekerja diam-diam tanpa menonjolkan diri, kadang pula untuk menyebut seseorang berdasarkan tempat lokasi berkegiatan. “Urang balakang” menjadi luas maknanya berdasarkan konteks dan situasi yang menyertainya.

Istilah ini kadang juga muncul untuk mempertanyakan keberhasilan seseorang, entah itu dalam sebuah prestasi maupun sebuah jabatan. Seorang teman pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis cerita pendek. Capaian itu adalah prestasi pertamanya dalam menulis. Namun ada saja komentar yang mempertanyakan keberhasilan tersebut. Misalnya, “Sia urang di balakangnyo tu?”, “Ooo si anu urang di balakangnyo, patuiklah”.

Pada akhirnya, “urang balakang” adalah cerminan dari cara kita memandang peran, ruang, dan keterlibatan dalam kehidupan sosial. Ada yang memilih menjadi wajah di depan, ada pula yang bekerja dalam senyap di belakang. Namun, ironinya, meski sering luput dari perhatian, “urang balakang” justru kerap menjadi topik perbincangan.

Keberhasilan seseorang bisa saja dikaitkan dengan mereka sebagai sosok misterius yang konon menjadi dalang di balik pencapaian. Maka, dalam dunia yang tak pernah lepas dari bisik-bisik dan dugaan, satu hal yang pasti, tak peduli di depan atau di belakang, yang paling penting adalah tetap bergerak. Sebab, dalam hidup ini, kadang lebih mudah mencari “urang balakang” daripada mengakui kerja keras seseorang.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dalam Dua Bulan, Penumpang KAI Sumbar Capai 322.116 Orang

Berita Sesudah

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Berita Sesudah
Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPASN Perkuat Pemecatan ASN Dharmasraya Anike Maulana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hierarki Satuan Kebahasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Teks, Ko-teks, dan Konteks dalam Wacana Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024