Sabtu, 17/1/26 | 18:55 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

“Urang Balakang”: antara Bayangan dan Kenyataan

Minggu, 09/3/25 | 16:34 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Terkadang, dalam percakapan keseharian dalam bahasa Minangkabau, kita mendengar istilah “urang balakang”. Ungkapan ini meluncur begitu saja, sering kali tanpa banyak yang mempertanyakan maknanya. “Lah salasai dek urang balakang tu” atau “kami urang balakang ko ma, sakampuang kito”, dan masih banyak lainnya. Namun, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “urang balakang”? Apakah mereka sekadar sosok yang bekerja di balik layar, atau ada makna lebih dalam yang tersimpan dalam istilah ini?

Istilah “urang balakang” ternyata menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang sering meluncur dalam percakapan sehari-hari. Dalam bahasa Minangkabau, maknanya bisa berubah-ubah, tergantung pada konteks penggunaannya. Kadang, istilah ini merujuk pada pekerjaan seseorang. Di lain waktu, urang balakang juga bisa mengacu pada alamat seseorang. Menandakan bahwa ia berasal dari suatu tempat yang berada di belakang atau jauh dari pusat keramaian.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Seperti banyak ungkapan khas Minangkabau lainnya, “urang balakang” bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cerminan dari cara hidup. Istilah ini menggambarkan bagaimana masyarakat Minangkabau menempatkan setiap individu dalam suatu sistem sosial. Bahwa setiap peran, baik yang tampak di depan maupun yang tersembunyi di belakang, memiliki arti dan kontribusi yang sama pentingnya.

Saya masih ingat, saat menjadi mahasiswa, betapa seringnya istilah ini muncul dalam berbagai percakapan. Kadang digunakan untuk menggambarkan mereka yang bekerja diam-diam tanpa menonjolkan diri, kadang pula untuk menyebut seseorang berdasarkan tempat lokasi berkegiatan. “Urang balakang” menjadi luas maknanya berdasarkan konteks dan situasi yang menyertainya.

Istilah ini kadang juga muncul untuk mempertanyakan keberhasilan seseorang, entah itu dalam sebuah prestasi maupun sebuah jabatan. Seorang teman pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis cerita pendek. Capaian itu adalah prestasi pertamanya dalam menulis. Namun ada saja komentar yang mempertanyakan keberhasilan tersebut. Misalnya, “Sia urang di balakangnyo tu?”, “Ooo si anu urang di balakangnyo, patuiklah”.

Pada akhirnya, “urang balakang” adalah cerminan dari cara kita memandang peran, ruang, dan keterlibatan dalam kehidupan sosial. Ada yang memilih menjadi wajah di depan, ada pula yang bekerja dalam senyap di belakang. Namun, ironinya, meski sering luput dari perhatian, “urang balakang” justru kerap menjadi topik perbincangan.

Keberhasilan seseorang bisa saja dikaitkan dengan mereka sebagai sosok misterius yang konon menjadi dalang di balik pencapaian. Maka, dalam dunia yang tak pernah lepas dari bisik-bisik dan dugaan, satu hal yang pasti, tak peduli di depan atau di belakang, yang paling penting adalah tetap bergerak. Sebab, dalam hidup ini, kadang lebih mudah mencari “urang balakang” daripada mengakui kerja keras seseorang.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dalam Dua Bulan, Penumpang KAI Sumbar Capai 322.116 Orang

Berita Sesudah

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Berita Sesudah
Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

POPULER

  • Tanamkan Demokrasi Sehat: Undhari Gelar Kongres Mahasiswa 2025, Widya Ana Putri Pimpin DPM Baru

    Tanamkan Demokrasi Sehat: Undhari Gelar Kongres Mahasiswa 2025, Widya Ana Putri Pimpin DPM Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Salurkan BSTT Pada Korban Kebakaran di Kelurahan Jati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda Tunggakan Air PDAM Padang Naik Bertahap, Pelanggan Terancam Diputus Tanpa Pemberitahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024