Jumat, 24/4/26 | 06:04 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

“Urang Balakang”: antara Bayangan dan Kenyataan

Minggu, 09/3/25 | 16:34 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Terkadang, dalam percakapan keseharian dalam bahasa Minangkabau, kita mendengar istilah “urang balakang”. Ungkapan ini meluncur begitu saja, sering kali tanpa banyak yang mempertanyakan maknanya. “Lah salasai dek urang balakang tu” atau “kami urang balakang ko ma, sakampuang kito”, dan masih banyak lainnya. Namun, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “urang balakang”? Apakah mereka sekadar sosok yang bekerja di balik layar, atau ada makna lebih dalam yang tersimpan dalam istilah ini?

Istilah “urang balakang” ternyata menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang sering meluncur dalam percakapan sehari-hari. Dalam bahasa Minangkabau, maknanya bisa berubah-ubah, tergantung pada konteks penggunaannya. Kadang, istilah ini merujuk pada pekerjaan seseorang. Di lain waktu, urang balakang juga bisa mengacu pada alamat seseorang. Menandakan bahwa ia berasal dari suatu tempat yang berada di belakang atau jauh dari pusat keramaian.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Seperti banyak ungkapan khas Minangkabau lainnya, “urang balakang” bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cerminan dari cara hidup. Istilah ini menggambarkan bagaimana masyarakat Minangkabau menempatkan setiap individu dalam suatu sistem sosial. Bahwa setiap peran, baik yang tampak di depan maupun yang tersembunyi di belakang, memiliki arti dan kontribusi yang sama pentingnya.

Saya masih ingat, saat menjadi mahasiswa, betapa seringnya istilah ini muncul dalam berbagai percakapan. Kadang digunakan untuk menggambarkan mereka yang bekerja diam-diam tanpa menonjolkan diri, kadang pula untuk menyebut seseorang berdasarkan tempat lokasi berkegiatan. “Urang balakang” menjadi luas maknanya berdasarkan konteks dan situasi yang menyertainya.

Istilah ini kadang juga muncul untuk mempertanyakan keberhasilan seseorang, entah itu dalam sebuah prestasi maupun sebuah jabatan. Seorang teman pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis cerita pendek. Capaian itu adalah prestasi pertamanya dalam menulis. Namun ada saja komentar yang mempertanyakan keberhasilan tersebut. Misalnya, “Sia urang di balakangnyo tu?”, “Ooo si anu urang di balakangnyo, patuiklah”.

Pada akhirnya, “urang balakang” adalah cerminan dari cara kita memandang peran, ruang, dan keterlibatan dalam kehidupan sosial. Ada yang memilih menjadi wajah di depan, ada pula yang bekerja dalam senyap di belakang. Namun, ironinya, meski sering luput dari perhatian, “urang balakang” justru kerap menjadi topik perbincangan.

Keberhasilan seseorang bisa saja dikaitkan dengan mereka sebagai sosok misterius yang konon menjadi dalang di balik pencapaian. Maka, dalam dunia yang tak pernah lepas dari bisik-bisik dan dugaan, satu hal yang pasti, tak peduli di depan atau di belakang, yang paling penting adalah tetap bergerak. Sebab, dalam hidup ini, kadang lebih mudah mencari “urang balakang” daripada mengakui kerja keras seseorang.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dalam Dua Bulan, Penumpang KAI Sumbar Capai 322.116 Orang

Berita Sesudah

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Kantongi Hasil UKK, 15 Ketua DPC di Sumbar Segera Ditetapkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aksi Sosial Jana Sandra Refleksi Semangat Kartini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Salwa Ratri Wahyuni

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026