Sabtu, 18/7/26 | 03:50 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

“Urang Balakang”: antara Bayangan dan Kenyataan

Minggu, 09/3/25 | 16:34 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Terkadang, dalam percakapan keseharian dalam bahasa Minangkabau, kita mendengar istilah “urang balakang”. Ungkapan ini meluncur begitu saja, sering kali tanpa banyak yang mempertanyakan maknanya. “Lah salasai dek urang balakang tu” atau “kami urang balakang ko ma, sakampuang kito”, dan masih banyak lainnya. Namun, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “urang balakang”? Apakah mereka sekadar sosok yang bekerja di balik layar, atau ada makna lebih dalam yang tersimpan dalam istilah ini?

Istilah “urang balakang” ternyata menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang sering meluncur dalam percakapan sehari-hari. Dalam bahasa Minangkabau, maknanya bisa berubah-ubah, tergantung pada konteks penggunaannya. Kadang, istilah ini merujuk pada pekerjaan seseorang. Di lain waktu, urang balakang juga bisa mengacu pada alamat seseorang. Menandakan bahwa ia berasal dari suatu tempat yang berada di belakang atau jauh dari pusat keramaian.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

Seperti banyak ungkapan khas Minangkabau lainnya, “urang balakang” bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cerminan dari cara hidup. Istilah ini menggambarkan bagaimana masyarakat Minangkabau menempatkan setiap individu dalam suatu sistem sosial. Bahwa setiap peran, baik yang tampak di depan maupun yang tersembunyi di belakang, memiliki arti dan kontribusi yang sama pentingnya.

Saya masih ingat, saat menjadi mahasiswa, betapa seringnya istilah ini muncul dalam berbagai percakapan. Kadang digunakan untuk menggambarkan mereka yang bekerja diam-diam tanpa menonjolkan diri, kadang pula untuk menyebut seseorang berdasarkan tempat lokasi berkegiatan. “Urang balakang” menjadi luas maknanya berdasarkan konteks dan situasi yang menyertainya.

Istilah ini kadang juga muncul untuk mempertanyakan keberhasilan seseorang, entah itu dalam sebuah prestasi maupun sebuah jabatan. Seorang teman pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis cerita pendek. Capaian itu adalah prestasi pertamanya dalam menulis. Namun ada saja komentar yang mempertanyakan keberhasilan tersebut. Misalnya, “Sia urang di balakangnyo tu?”, “Ooo si anu urang di balakangnyo, patuiklah”.

Pada akhirnya, “urang balakang” adalah cerminan dari cara kita memandang peran, ruang, dan keterlibatan dalam kehidupan sosial. Ada yang memilih menjadi wajah di depan, ada pula yang bekerja dalam senyap di belakang. Namun, ironinya, meski sering luput dari perhatian, “urang balakang” justru kerap menjadi topik perbincangan.

Keberhasilan seseorang bisa saja dikaitkan dengan mereka sebagai sosok misterius yang konon menjadi dalang di balik pencapaian. Maka, dalam dunia yang tak pernah lepas dari bisik-bisik dan dugaan, satu hal yang pasti, tak peduli di depan atau di belakang, yang paling penting adalah tetap bergerak. Sebab, dalam hidup ini, kadang lebih mudah mencari “urang balakang” daripada mengakui kerja keras seseorang.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dalam Dua Bulan, Penumpang KAI Sumbar Capai 322.116 Orang

Berita Sesudah

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Berita Sesudah
Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

Wagub Vasko Ruseimy Soroti Pentingnya Revitalisasi Fungsi Masjid

POPULER

  • Dugaan Pungutan Parkir di SPBU Dharmasraya Viral, Publik Pertanyakan Dasar Hukumnya

    Dugaan Pungutan Parkir di SPBU Dharmasraya Viral, Publik Pertanyakan Dasar Hukumnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Matangkan Persiapan Perayaan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 Tahun 2026.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keunikan Kata Penghubung Maka dan Sehingga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RSAM Bukittinggi Butuh 500 Kantong Darah per Bulan, Golongan AB Paling Langka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026