Selasa, 10/3/26 | 04:06 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Sebuah Nama Bagi Orangtua Zaman Kontemporer

Minggu, 25/8/24 | 17:46 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Mencari dan memadupadankan sebuah nama rupanya bukanlah perkara mudah. Seseorang membutuhkan banyak referensi untuk menemukan nama yang unik dengan makna yang baik. Sebagian besar orang tampaknya masih sepakat bahwa “nama adalah doa”, meskipun Shakespeare mempertanyakannya dengan berkata “apalah arti sebuah nama”.

Suatu ketika, saya mencoba meminta rekomendasi nama kepada seorang teman. Ia menyarankan saya untuk kembali menggunakan nama-nama Minang. Nama-nama yang ia maksud ialah nama-nama sebagaimana nama tokoh dalam kaba. Menurut teman saya itu, nama zaman sekarang kelewat kearab-araban. Selain itu, juga agak sulit dilafazkan. Anak-anak Minang di masa sekarang jadi kehilangan identitas keminangkabauannya, begitu lanjutnya.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Pengucapan yang simple seperti huruf “i” cenderung digantikan “ee”, “k” diganti dengan “q”, dan padu-padan huruf yang menghasilkan bunyi “sh” atau “sy”. Nama-nama serupa Syaqueena, Queenaraa, Qiana, Ameera, Shaqeelha, cukup sering dijumpai di mana-mana. Era Anisa, Nabila, Bayu, Satria, atau Adimas sudah habis masanya.

Lidah saya pernah terbata ketika berhadapan dengan nama-nama tak biasa ini. Ketika itu saya berkesempatan mengajar di sebuah sekolah menengah. Pada pertemuan pertama, saya melakukan presensi dengan memanggil nama mereka satu persatu sekaligus sebagai bentuk perkenalan awal. Saya yang semula hendak mengenal mereka satu-satu akhirnya buyar. Sebab, untuk menyebut satu kata dari nama-nama yang berderet di presensi itu saja saya kewalahan.

Selain berhadapan dengan nama-nama tak biasa itu, saya juga cukup sering berhadapan dengan nama yang terbilang unik. Misalnya nama Yorasoki dan Mura Zaki. Sekilas nama itu seperti nama Jepang, padahal teramat Minang.

Suatu ketika pula, saya juga mencoba meminta rekomendasi nama kepada teman yang lain. Ia menyarankan saya nama-nama yang estetik. Evelia, Yara, Elara, dan Dikara ialah beberapa di antaranya yang bermunculan.

Perkara memilih nama yang pas, rupanya tidak cukup hanya untuk makna dan harapan yang baik bagi si pemilik nama. Nama yang unik diusahakan sedemikian rupa. Kalau bisa, nama tersebut menjadi satu-satunya di dunia. Sebagian orangtua ingin anaknya terlihat dan mencolok di tengah kerumunan nama-nama yang terdengar biasa. Konon, begitulah sebagian orangtua di zaman kontemporer ini ketika menyiapkan nama untuk bayi mereka.

Ketika mencoba memadu-padankan nama, saya segera menjadikannya kata kunci di kolom pencaharian Google. Tujuannya ialah untuk memastikan, apakah nama tersebut pasaran atau tidak. Rupanya orangtua zaman kontemporer itu telah merasuki diri saya. Sebuah nama bukan lagi ditujukan sekadar sebuah doa. Akan tetapi, juga disertai penamaan yang unik dan juga estetik.

Seorang teman menginginkan nama yang Islami untuk bayinya. Ia pun meminta bantuan kepada sanak saudara dan koleganya yang menguasai Bahasa Arab untuk mendapatkan nama yang pas dan pantas. Seorang teman lainnya bahkan menggunakan jasa nama bayi yang akun resminya tersebar di media sosial. Akun jasa nama bayi tersebut menjanjikan nama yang sesuai di hati, memiliki makna yang bagus, dan tidak pasaran.

Tren menamai anak dengan kata yang unik rupanya tidak hanya melanda negeri ini. Di luar negeri seperti Amerika Serikat, bahkan bermunculan nama seperti Summer Rain, Apple Martin, dan Mount. Di negeri ini, nama-nama seperti demikian tampaknya selaras dengan nama Palung Laut, Senja, Samudera, dan Langit.

Tidak ada yang keliru dengan menamai anak seunik mungkin agar lebih mudah untuk “dilihat” dan “mencolok” di tengah kerumunan. Tidak ada yang salah bila hal itu ditujukan agar kelak si anak berhasil dalam pergaulan dan kehidupan. Akan tetapi, untuk “dilihat” dan “mencolok” tampaknya tak hanya cukup lewat sebuah nama. Bagaimana ia dididik dan dibesarkan lebih berpengaruh untuk keberhasilannya di masa depan.

Lagi pula, yang perlu diingat oleh orangtua zaman kontemporer ialah, nama nyeleneh juga berpotensi menyulitkan anak. Bisa jadi, nama yang kelewat unik membuatnya diejek oleh teman sebaya karena terdengar tidak biasa. Selain itu, nama yang rumit dapat menyulitkan petugas kependudukan dalam mencatatkan namanya ketika membuat kartu identitas.

Terakhir, pilihan nama yang nyeleneh lagi rumit untuk anak perempuan dapat menyulitkan bapak dan calon suami ketika ijab kabul nanti. Bisa jadi, si bapak atau si calon suami lupa menyebutkan salah satu kata di dalam nama yang kelewat rumit dan panjang. Ijab kabul pun terpaksa diulang. Bisa jadi pula, lidah keseleo akibat ndakik-ndakik-nya paduan huruf yang digunakan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Restui Epyardi-Ekos di Pilgub Sumbar, Prabowo Jamin Tidak Ada Intervensi

Berita Sesudah

Pengumuman Pendaftaran Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Payakumbuh Tahun 2024

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Berita Sesudah

Pengumuman Pendaftaran Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Payakumbuh Tahun 2024

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPASN Perkuat Pemecatan ASN Dharmasraya Anike Maulana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Teks, Ko-teks, dan Konteks dalam Wacana Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024