Rabu, 10/6/26 | 18:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

When Marnie Was There: Pertemuan dan Penerimaan

Minggu, 18/2/24 | 13:24 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

When Marnie Was There dapat dikatakan agak berbeda dari film-film besutan Ghibli lainnya yang kental akan kisah fantasi. Film ini lebih mengedepankan unsur melodrama psikologis yang diangkat dari novel berjudul sama karya Joan G. Robinson. Film yang disutradarai oleh Hiromasa Yonebashi ini terasa lebih tenang dan melankolis meskipun tetap dibubuhi unsur spiritual dan mistis.

Film yang dirilis pada 19 Juli 2014 ini bercerita seputar protagonis Anna Sasaki, seoarang anak adobsi yang selalu mempertanyakan tentang keberadaan dirinya. Ingatan masa kecilnya terbatas pada orang-orang yang saling berbisik dan berdebat untuk menitipkannya ke panti asuhan dan diadobsi oleh keluarga Sasaki. Keluarga yang dalam prasangkanya hanya mengadobsinya untuk sebuah tunjangan adobsi dari pemerintah.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Merasa terabaikan dan terisolasi dari lingkungan di sekitarnya adalah perasaan yang mendominasi Anna. Hal ini mulai ditampilkan sedari awal film. Di sebuah taman bermain, ia tampak cukup senang dan tersipu malu ketika Pak Guru hendak melihat tugas menggambarnya. Namun, di waktu bersamaan, seorang bocah lelaki menangis karena terjatuh ketika bermain. Orang-orang di sekitar, termasuk Pak Guru, mengalihkan perhatian dan berbondong-bondong menenangkan bocah lelaki tersebut. Entah karena diselubungi rasa kecewa, terkejut, dan diabaikan, penyakit asma yang diderita Anna pun kambuh hingga ia tersungkur sembari berkata, “Aku membenci diriku sendiri!”

Yoriko Sasaki (ibu angkat Anna) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi Anna kepada dokter yang mengobatinya. Yoriko juga merasa bersalah dan lalai atas memburuknya penyakit yang diderita Anna. Dokter menyarankan Anna untuk sementara menghabiskan waktu di tempat dengan kualitas udara yang lebih baik. Hal inilah yang membuat Anna mengunjungi desa Kushiro yang terletak di dekat pantai dan tinggal bersama bibinya Kiyomasa Oiwa.

Selama tinggal bersama bibinya, Anna lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri sembari menggambar. Suatu hari, untuk menghindari bersosialisasi dengan gadis sebayanya, tanpa sengaja ia menemukan sebuah rumah tua klasik dan melihat seorang gadis berambut pirang yang tampak sendu di salah satu jendela. Sejak saat itu, Anna selalu penasaran dengan rumah tersebut, terlebih ia penasaran dengan gadis berambut pirang yang tinggal di dalamnya.

Inilah awal mula pertemuan Anna dengan Marnie. Sosok misterius yang akhirnya membuat Anna lebih terbuka, melihat masa lalunya dengan lebih terang, dan yang lebih penting dari itu ialah menerima dirinya dengan perasaan yang lebih damai. Pertemuan misterius Anna dengan Marnie adalah kisah manis untuk menerima masa lalu dan proses untuk menerima dan nyaman dengan diri sendiri.

Sebagaimana kedominanan film Ghibli lainnya, pertukaran latar antara yang nyata dengan yang imajiner berdampak pada penyembuhan emosional atas diri yang mengalami krisis identitas. Anna adalah gadis muda yang pemurung, pengidap asma, dan depresi dengan keberadaan dirinya. Barangkali pikiran yang menyelubunginya ialah ia gadis yang jelek, bodoh, penyakitan, dan pemurung. Pikiran inilah yang membuat ia membenci diri sendiri.

Di sisi lain, Marnie dapat dikatakan berkebalikan dari dirinya. Ia adalah sosok yang ceria, pemberani, dan menyukai tantangan. Meski begitu, Marnie pun sebetulnya tak terlepas dari hal-hal yang menyedihkan. Ia sering ditinggal oleh orang tuanya yang sibuk bekerja dan tinggal bersama nenek pengasuh dan dua pembantu yang sering mengasarinya.

Pertemuan Anna dengan Marnie bukan tanpa alasan. Keduanya saling terhubung satu sama lain seperti masa lalu dan masa kini. Marnie adalah jawaban bagi Anna atas pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan dirinya. Menyaksikan film ini menghadirkan rasa tenang dan nyaman sebagaimana Anna pada akhirnya juga merasakan perasaan yang sama.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penyandingan Kata “Mirip” dan “Jodoh”

Berita Sesudah

When Marnie Was There: Pertemuan dan Penerimaan

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Berita Sesudah

Terjadi di Dharmasraya, Ketua Bamus Nagari Diduga Ikut Jadi Saksi Caleg

Discussion about this post

POPULER

  • PT Selago Makmur Plantation Diduga Tidak Salurkan Dana CSR ke Nagari Abai Siat

    PT Selago Makmur Plantation Diduga Tidak Salurkan Dana CSR ke Nagari Abai Siat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Tangkap Pedagang Penyalahguna Narkoba di Pulau Punjung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kota Padang Meraih Indeks Reformasi Birokrasi Tertinggi di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keistimewaan Kata “Hujan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026