Sabtu, 17/1/26 | 08:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

When Marnie Was There: Pertemuan dan Penerimaan

Minggu, 18/2/24 | 13:24 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

When Marnie Was There dapat dikatakan agak berbeda dari film-film besutan Ghibli lainnya yang kental akan kisah fantasi. Film ini lebih mengedepankan unsur melodrama psikologis yang diangkat dari novel berjudul sama karya Joan G. Robinson. Film yang disutradarai oleh Hiromasa Yonebashi ini terasa lebih tenang dan melankolis meskipun tetap dibubuhi unsur spiritual dan mistis.

Film yang dirilis pada 19 Juli 2014 ini bercerita seputar protagonis Anna Sasaki, seoarang anak adobsi yang selalu mempertanyakan tentang keberadaan dirinya. Ingatan masa kecilnya terbatas pada orang-orang yang saling berbisik dan berdebat untuk menitipkannya ke panti asuhan dan diadobsi oleh keluarga Sasaki. Keluarga yang dalam prasangkanya hanya mengadobsinya untuk sebuah tunjangan adobsi dari pemerintah.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Merasa terabaikan dan terisolasi dari lingkungan di sekitarnya adalah perasaan yang mendominasi Anna. Hal ini mulai ditampilkan sedari awal film. Di sebuah taman bermain, ia tampak cukup senang dan tersipu malu ketika Pak Guru hendak melihat tugas menggambarnya. Namun, di waktu bersamaan, seorang bocah lelaki menangis karena terjatuh ketika bermain. Orang-orang di sekitar, termasuk Pak Guru, mengalihkan perhatian dan berbondong-bondong menenangkan bocah lelaki tersebut. Entah karena diselubungi rasa kecewa, terkejut, dan diabaikan, penyakit asma yang diderita Anna pun kambuh hingga ia tersungkur sembari berkata, “Aku membenci diriku sendiri!”

Yoriko Sasaki (ibu angkat Anna) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi Anna kepada dokter yang mengobatinya. Yoriko juga merasa bersalah dan lalai atas memburuknya penyakit yang diderita Anna. Dokter menyarankan Anna untuk sementara menghabiskan waktu di tempat dengan kualitas udara yang lebih baik. Hal inilah yang membuat Anna mengunjungi desa Kushiro yang terletak di dekat pantai dan tinggal bersama bibinya Kiyomasa Oiwa.

Selama tinggal bersama bibinya, Anna lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri sembari menggambar. Suatu hari, untuk menghindari bersosialisasi dengan gadis sebayanya, tanpa sengaja ia menemukan sebuah rumah tua klasik dan melihat seorang gadis berambut pirang yang tampak sendu di salah satu jendela. Sejak saat itu, Anna selalu penasaran dengan rumah tersebut, terlebih ia penasaran dengan gadis berambut pirang yang tinggal di dalamnya.

Inilah awal mula pertemuan Anna dengan Marnie. Sosok misterius yang akhirnya membuat Anna lebih terbuka, melihat masa lalunya dengan lebih terang, dan yang lebih penting dari itu ialah menerima dirinya dengan perasaan yang lebih damai. Pertemuan misterius Anna dengan Marnie adalah kisah manis untuk menerima masa lalu dan proses untuk menerima dan nyaman dengan diri sendiri.

Sebagaimana kedominanan film Ghibli lainnya, pertukaran latar antara yang nyata dengan yang imajiner berdampak pada penyembuhan emosional atas diri yang mengalami krisis identitas. Anna adalah gadis muda yang pemurung, pengidap asma, dan depresi dengan keberadaan dirinya. Barangkali pikiran yang menyelubunginya ialah ia gadis yang jelek, bodoh, penyakitan, dan pemurung. Pikiran inilah yang membuat ia membenci diri sendiri.

Di sisi lain, Marnie dapat dikatakan berkebalikan dari dirinya. Ia adalah sosok yang ceria, pemberani, dan menyukai tantangan. Meski begitu, Marnie pun sebetulnya tak terlepas dari hal-hal yang menyedihkan. Ia sering ditinggal oleh orang tuanya yang sibuk bekerja dan tinggal bersama nenek pengasuh dan dua pembantu yang sering mengasarinya.

Pertemuan Anna dengan Marnie bukan tanpa alasan. Keduanya saling terhubung satu sama lain seperti masa lalu dan masa kini. Marnie adalah jawaban bagi Anna atas pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan dirinya. Menyaksikan film ini menghadirkan rasa tenang dan nyaman sebagaimana Anna pada akhirnya juga merasakan perasaan yang sama.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penyandingan Kata “Mirip” dan “Jodoh”

Berita Sesudah

Terjadi di Dharmasraya, Ketua Bamus Nagari Diduga Ikut Jadi Saksi Caleg

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Berita Sesudah

Terjadi di Dharmasraya, Ketua Bamus Nagari Diduga Ikut Jadi Saksi Caleg

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024