Sabtu, 24/10/26 | 19:03 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

When Marnie Was There: Pertemuan dan Penerimaan

Minggu, 18/2/24 | 13:24 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

When Marnie Was There dapat dikatakan agak berbeda dari film-film besutan Ghibli lainnya yang kental akan kisah fantasi. Film ini lebih mengedepankan unsur melodrama psikologis yang diangkat dari novel berjudul sama karya Joan G. Robinson. Film yang disutradarai oleh Hiromasa Yonebashi ini terasa lebih tenang dan melankolis meskipun tetap dibubuhi unsur spiritual dan mistis.

Film yang dirilis pada 19 Juli 2014 ini bercerita seputar protagonis Anna Sasaki, seoarang anak adobsi yang selalu mempertanyakan tentang keberadaan dirinya. Ingatan masa kecilnya terbatas pada orang-orang yang saling berbisik dan berdebat untuk menitipkannya ke panti asuhan dan diadobsi oleh keluarga Sasaki. Keluarga yang dalam prasangkanya hanya mengadobsinya untuk sebuah tunjangan adobsi dari pemerintah.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Merasa terabaikan dan terisolasi dari lingkungan di sekitarnya adalah perasaan yang mendominasi Anna. Hal ini mulai ditampilkan sedari awal film. Di sebuah taman bermain, ia tampak cukup senang dan tersipu malu ketika Pak Guru hendak melihat tugas menggambarnya. Namun, di waktu bersamaan, seorang bocah lelaki menangis karena terjatuh ketika bermain. Orang-orang di sekitar, termasuk Pak Guru, mengalihkan perhatian dan berbondong-bondong menenangkan bocah lelaki tersebut. Entah karena diselubungi rasa kecewa, terkejut, dan diabaikan, penyakit asma yang diderita Anna pun kambuh hingga ia tersungkur sembari berkata, “Aku membenci diriku sendiri!”

Yoriko Sasaki (ibu angkat Anna) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi Anna kepada dokter yang mengobatinya. Yoriko juga merasa bersalah dan lalai atas memburuknya penyakit yang diderita Anna. Dokter menyarankan Anna untuk sementara menghabiskan waktu di tempat dengan kualitas udara yang lebih baik. Hal inilah yang membuat Anna mengunjungi desa Kushiro yang terletak di dekat pantai dan tinggal bersama bibinya Kiyomasa Oiwa.

Selama tinggal bersama bibinya, Anna lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri sembari menggambar. Suatu hari, untuk menghindari bersosialisasi dengan gadis sebayanya, tanpa sengaja ia menemukan sebuah rumah tua klasik dan melihat seorang gadis berambut pirang yang tampak sendu di salah satu jendela. Sejak saat itu, Anna selalu penasaran dengan rumah tersebut, terlebih ia penasaran dengan gadis berambut pirang yang tinggal di dalamnya.

Inilah awal mula pertemuan Anna dengan Marnie. Sosok misterius yang akhirnya membuat Anna lebih terbuka, melihat masa lalunya dengan lebih terang, dan yang lebih penting dari itu ialah menerima dirinya dengan perasaan yang lebih damai. Pertemuan misterius Anna dengan Marnie adalah kisah manis untuk menerima masa lalu dan proses untuk menerima dan nyaman dengan diri sendiri.

Sebagaimana kedominanan film Ghibli lainnya, pertukaran latar antara yang nyata dengan yang imajiner berdampak pada penyembuhan emosional atas diri yang mengalami krisis identitas. Anna adalah gadis muda yang pemurung, pengidap asma, dan depresi dengan keberadaan dirinya. Barangkali pikiran yang menyelubunginya ialah ia gadis yang jelek, bodoh, penyakitan, dan pemurung. Pikiran inilah yang membuat ia membenci diri sendiri.

Di sisi lain, Marnie dapat dikatakan berkebalikan dari dirinya. Ia adalah sosok yang ceria, pemberani, dan menyukai tantangan. Meski begitu, Marnie pun sebetulnya tak terlepas dari hal-hal yang menyedihkan. Ia sering ditinggal oleh orang tuanya yang sibuk bekerja dan tinggal bersama nenek pengasuh dan dua pembantu yang sering mengasarinya.

Pertemuan Anna dengan Marnie bukan tanpa alasan. Keduanya saling terhubung satu sama lain seperti masa lalu dan masa kini. Marnie adalah jawaban bagi Anna atas pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan dirinya. Menyaksikan film ini menghadirkan rasa tenang dan nyaman sebagaimana Anna pada akhirnya juga merasakan perasaan yang sama.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penyandingan Kata “Mirip” dan “Jodoh”

Berita Sesudah

When Marnie Was There: Pertemuan dan Penerimaan

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah

Terjadi di Dharmasraya, Ketua Bamus Nagari Diduga Ikut Jadi Saksi Caleg

Discussion about this post

POPULER

  • Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Apresiasi Kontribusi Alumni IKIP Padang/UNP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026