Rabu, 11/3/26 | 02:40 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

The Boy and The Heron: yang Berakhir dan yang Bermula

Minggu, 24/12/23 | 11:56 WIB


Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

The Boy and The Heron adalah salah satu film yang saya nanti-nantikan sudah sejak lama. Hingga akhirnya, setelah menunggu lebih dari setengah dekade, film yang digadang-gadang sebagai karya terakhir sang maestro Hayao Miyazaki ini tayang juga. Miyazaki dengan mahir menggabungkan unsur-unsur realisme dengan elemen-elemen fantasi yang menonjol. Hal ini menciptakan atmosfer magis yang memikat penonton. The Boy and The Heron hadir sebagai karya paling surealisme di antara karya Miyazaki lainnya. Setidaknya, inilah yang saya gumamkan berkali-kali sepanjang menyaksikan film ini.

Hampir 20 menit pertama, The Boy and The Heron membiarkan kita duduk tenang sembari dikerubungi pertanyaan, hendak ke mana kita diantarkan oleh film yang sedang disaksikan? Film dibuka dengan peristiwa yang menegangkan. Kobaran api dalam tragedi Perang Dunia II menewaskan seseorang yang paling dicintai Mahito Maki (Sonta Santoki), ibunya. Inilah yang membuat lelaki muda 12 tahun itu berkecamuk dengan rasa sedih dan kehilangan hampir di seluruh paruh pertama film.

Kepergian sang ibu membuat Mahito berpindah ke desa yang dilukiskan dengan ciri khas Ghibli oleh sapuan tangan tim animator, terutama tentu saja Miyazaki. Kali ini, visual yang dihasilkan melampaui ekspektasi saya sebelum menonton. Indah dan menakjubkan.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Meskipun begitu, desa tersebut diselimuti sisi misterius dan di sinilah alur film mulai menanjaki klimaks antara kesedihan dan kehilangan Mahito, kehidupan barunya, burung cangak abu-abu yang misterius, kastil terbengkalai, hingga dunia multidimensi.

Di desa, Mahito tinggal Bersama ibu tiri yang merupakan bibinya sendiri. Di rumah baru itu, Mahito menerima kasih sayang yang sebetulnya tidaklah kurang, baik dari ayah, ibu tirinya, hingga para nenek yang bekerja di rumahnya. Namun, Mahito yang baru saja kehilangan membuatnya kesulitan menjalani kehidupan barunya. Terlebih ketika dimulailah sisi magis di mana seekor burung cangak abu-abu terus mengganggunya dan mengatakan bahwa ibunya belum meninggal dunia. Di sebuah tempat sang ibu tengah menunggu untuk diselamatkan oleh Mahito.

Dari sinilah dunia multidimensi muncul bergantian. Menariknya, pergantian dimensi turut serta menampilkan pergantian peran tokoh. Setiap karakter tampak dirancang dengan begitu hati-hati. Hal ini membuat kehadiran setiap tokoh memiliki peran yang penting. Bila di suatu dimensi tokoh tersebut barangkali menjadi pihak yang terabaikan, namun di dimensi lain ia menjadi pahlawan dengan kharisma yang menakjubkan.

Pergantian dunia multidimensi sebetulnya agak membuat saya sedikit kebingungan ketika menonton film ini. Namun, setiap dimensi memiliki ceritanya tersendiri. Tidak lupa, cerita tersebut diiringi sisi dramatis yang menggugah emosi. Kita tidak bisa menebak dengan pasti di dimensi mana film ini akan berakhir dan bagaimana sang sutradara mengakhirinya. Satu hal yang pasti ialah film ini dimulai oleh sebuah akhir dan diakhiri oleh sebuah permulaan.

Di awal film, Mahito di hadapkan pada kehilangan sekaligus kehadiran kehidupan yang baru. Suatu kondisi yang sulit untuk dijalani dan diterima begitu saja tanpa proses yang Panjang dan rumit. Dunia multidimensi yang muncul bergantian seolah hendak melukiskan jiwa Mahito yang tengah berkecamuk menuju penerimaan diliputi kesedihan, kemarahan, keegoisan, kejengkelan, dan rasa penasaran. Namun, pergantian multidimensi ini pulalah yang menjadi perjalanan bagi Mahito untuk menerima yang telah berakhir sekaligus menerima awal yang baru.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Perang Doa” Karya Afrizal Jasman dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Jalan-jalan ke Solo Naik Transportasi Umum

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Berita Sesudah

Jalan-jalan ke Solo Naik Transportasi Umum

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inspirasi Menu Buka Puasa Enak: Dari Takjil Manis Hingga Lauk Gurih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Buka Bersama Sahabat Mulia Madani Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Padang Gelar Rapat Paripurna Penyampaian LKPJ TA 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026