Kamis, 25/6/26 | 03:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Menonton Otto Membaca Ove

Minggu, 28/5/23 | 14:18 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Otto dan Ove adalah pria yang sama. Pria tua kesepian, penggerutu, terlalu perfeksionis, dan berpendirian teguh. Setidaknya ada sebagian tetangga pria itu yang menilainya begitu. Tentu, penilaian itu hadir karena mereka tak teralu mengenalnya.

Saya sendiri lebih dulu mengenal Otto. Sepanjang melihatnya, jarang sekali ia tersenyum (bila tidak mau dibilang tidak pernah).

Ia suka keteraturan dan hal-hal yang pasti. Ya, seperti matematika kesukaannya. Dan yang paling ia suka tentu saja Sonya. Seperti halnya Ove dengan Sunja.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Setelah Otto, barulah saya mengenal Ove. Ya, mereka adalah lelaki tua yang sama. Otto versi visual, sedangkan Ove versi yang diimajinasikan sendiri sesuai keinginan pembaca. Akan tetapi, ketika membaca Ove, imajinasi saya adalah Otto.

Ove suka memperdepatkan apapun. Ini tidak lain karena pendiriannya teramat teguh. Mungkin pula, Sonjalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya luluh. Di saat-saat tertentu ia melanggar prinsipnya bila menurutnya masih wajar untuk sesekali dilanggar. Itu pun mungkin hanyalah demi Sonja, satu-satunya warna di hidupnya yang kelabu sedari kecil.

Baik A Man Called Otto maupun A Man Called Ove, yang paling menarik perhatian di antara keduanya ialah cinta yang amat tulus dan murni antara Ove dengan Sonja. Selama berbulan-bulan, Ove menaiki kereta yang berlawanan arah hanya untuk bisa duduk di samping Sonja dan mendengar cerita tentang buku-buku yang ia baca.

Meski siapa pun yang menonton Otto dan membaca Ove setuju bila ia memiliki cinta yang tulus dan murni, pasangan ini sebetulnya sangat jauh berbeda. Seperti siang dan malam serta langit dan bumi, kata teman-teman mereka menilai. Akan tetapi justru kutub yang berbeda membuat Ove dan Sonja saling tarik-menarik dan lengket. Hingga Sonja pergi Ove pun memaksa diri untuk menyusulnya.

Sonja suka membaca, sedangkan Ove tidak. Ove justru suka angka-angka dan menyibukkan diri dengan perkakas-perkakasnya. Berpuluh tahun bersama, tak membuat Ove ikut suka membaca, bahkan satu pun buku tak berhasil ia baca. Tetapi sisi yang bertolak belakang itu tak membuat perasaan yang tulus dan murni antara keduanya menjadi luntur.

Ove bukan berarti tak memberi kontribusi apa-apa untuk kecintaan Sonja pada buku dan seni. Ia membuat rak buku yang mungkin paling bagus dan tahan.

Ketika menonton Otto dan membaca Ove, mungkin saja para penonton dan pembaca tak hanya melirik kisah cinta yang tulus dan murni. Akan tetapi juga kehangatan tak biasa antara tetangga.

Ove kedatangan tetangga baru yang payah dan cerewet. Namun justru karena kepayahan dan cerewet inilah hubungan mereka dan Ove menjadi hangat.

Parvaneh namanya. Wanita paruh baya yang tengah hamil tua dan menjadi tetangga yang paling sering mengetuk pintu rumah Ove. Karena sering mengetuk pintu rumah ini pulalah pertemuan Ove dengan Sonja selalu tertunda. Dan yang paling hangat ialah akhirnya orang-orang asing ini seolah menjadi keluarga.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengenal Minangkabau dari Sosok Huriah Adam

Berita Sesudah

Istilah “Deskriptif” dan “Preskriptif” dalam Ilmu Bahasa

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Berita Sesudah
Istilah “Deskriptif” dan “Preskriptif” dalam Ilmu Bahasa

Istilah "Deskriptif" dan "Preskriptif" dalam Ilmu Bahasa

Discussion about this post

POPULER

  • DPRD Kota Padang prihatin, terhadap semrawutnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Padang, khususnya berpusat pada kendala sistem aplikasi yang error.

    Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menilai Kurangnya Persiapan Disdik Dalam Pelaksanaan Sistem SPMB Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyelesaian Konflik PT SAK dengan Suku Anak Dalam, Sekda Dharmasraya Apresiasi Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa, Kejiwaan, dan Mental dalam Ranah Psikolinguistik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026