Senin, 02/11/26 | 11:00 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Body Positivity

Minggu, 10/7/22 | 12:22 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

Saya menjumpai pemahaman yang berbeda-beda mengenai body positivity, baik itu dari teman-teman maupun media sosial, di antaranya, ada yang beranggapan bahwa body positivity adalah memiliki tubuh yang indah, ramping, dan sehat. Ia pun melakukan beragam usaha untuk mendapatkan tubuh serupa demikian, misalnya dengan berolahraga, diet yang ketat bahkan ekstrim, dan berbagai perawatan kulit. Bagi mereka yang memahami body positivity seperti ini, mencintai tubuh sendiri adalah dengan merawatnya sehingga tampak indah dipandang mata.

Selain pemahaman di atas, ada pula yang memiliki pemahaman lain. Body positivity baginya adalah menerima diri dan mencintainya apa adanya. Entah ia kurus ataupun gemuk, ia berdamai dengan bentuk tubuh itu. Yang terpenting baginya ialah selagi nyaman dan tetap sehat, tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Rupanya, memaknai body positivity memanglah telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dilansir dari berbagai sumber, body positivity berawal dari gerakan fat acceptance di penghujung 1960-an. Empat dekade setelahnya, body positivity mengalami perubahan pemaknaan. Di masa itu, prioritas utama dari maknanya ialah pandangan positif dari diri sendiri terhadap tubuh.

Seiring berkembangnya waktu, body positivity terus mengalami perubahan makna namun tetap dengan pesan dan makna dalam artian positif. Sepertinya, memaknai body positivity juga berarti tidak mengikuti bentuk tubuh ideal atau body goals seperti yang dibangun oleh masyarakat.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Terdapat pemahaman bahwa tubuh selalu layak dan bagus meskipun mengalami perubahan setelah beberapa proses biologis seperti hamil, melahirkan, hingga penuaan. Dengan demikian, pemahaman positif itu akan berpengaruh pada kondisi mental yang juga sehat. Seseorang tidak perlu membandingkan tubuhnya dengan tubuh orang lain atau pun bertindak ekstrim demi body goals bentukan masyarakat sebab yang perlu diyakini ialah “all bodies are beautiful”.

Mungkin dalam praktiknya, penanaman body positivity terhadap diri sendiri tidak selalu berjalan mudah. Selalu ada ekspektasi orang lain di luar diri kita yang juga sulit untuk dihindarkan. Berusaha terus-menerus untuk meyakinkan bahwa tubuh kita layak dan baik perlu dilakulan sebab yang penting diketahui pula ialah bentuk tubuh itu beragam, mulai dari warna kulit, struktur tulang, faktor genetik, dan lain sebagainya. Menyadari keberagaman bentuk tubuh ini sekaligus meliputi bagian-bagian lain seperti bentuk mata, warna, dan jenis rambut, bentuk hidung, bentuk dada, bibir, dagu, dan sebagainya yang menyangkut tubuh.

Meskipun demikian, bentuk penerimaan terhadap bagaimana pun bentuk tubuh juga diiringi dengan usaha positif lain. Beberapa di antaranya berupa melakukan pola hidup sehat, memperlakukan tubuh dengan baik hingga menghindari membanding-bandingkan diri dengan orang lain atau standar kecantikan dan ketampanan ideal yang dikonstruksi oleh masyarakat. Dengan begitu, tubuh tidak hanya berada dalam kondisi yang positif secara fisik, tetapi juga positif secara psikis.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penggunaan Bahasa Indonesia yang Memprihatinkan dalam Iklan

Berita Sesudah

Kalimat yang Berawalan Kata Depan “Dalam” dan “Pada”

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya kira wawancara selesai ketika kopi susu di gelas...

Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Segelas kecil kopi susu ternyata bisa habis dalam satu...

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Ria Febrina

Kalimat yang Berawalan Kata Depan “Dalam” dan “Pada”

Discussion about this post

POPULER

  • Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

    Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Komisi V DPRD Sumbar Matangkan Pembahasan Ranperda Keolahragaan 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Sumbar Terapkan Syarat Inovasi untuk Kenaikan Jabatan ASN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahyeldi: Guru Tak Boleh Menyeragamkan Kemampuan Siswa, Kenali Potensi Setiap Anak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026