PADANG, Scientia.id — Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak untuk belajar, mengembangkan potensi, serta membentuk karakter. Lingkungan pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga harus mampu melindungi dan mendorong anak tumbuh menjadi generasi cerdas, berakhlak dan percaya diri.
Hal itu disampaikan Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi, saat menghadiri Pelatihan Konvensi Hak Anak dalam rangka mewujudkan sekolah ramah anak melalui pemenuhan dan perlindungan hak anak di Padang, Rabu (9/9).
Muhidi mengatakan, perlindungan dan pemenuhan hak anak membutuhkan dukungan seluruh pihak. DPRD, menurutnya, memiliki posisi strategis melalui tiga fungsi, yakni pembentukan peraturan daerah, penganggaran dan pengawasan.
“Dengan tiga fungsi ini, DPRD bisa membantu memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan. Kalau memang dibutuhkan aturan baru atau penyempurnaan terhadap aturan yang sudah ada, tentu akan kita tindaklanjuti sesuai masukan yang ada,” ujar Muhidi.
Ia menilai anak merupakan investasi paling berharga bagi keluarga, masyarakat, daerah dan bangsa. Karena itu, perhatian terhadap anak tidak boleh sebatas mencegah kekerasan dan memenuhi hak-haknya, tetapi juga harus diarahkan pada pengembangan potensi dan pembentukan karakter.
“Kita jangan hanya berpikir bagaimana melindungi anak, tetapi juga bagaimana menumbuhkan mereka sehingga menjadi sumber daya manusia yang unggul,” katanya.
Menurut Muhidi, kualitas generasi saat ini akan menentukan tercapainya target Indonesia Emas 2045. Anak-anak harus dipersiapkan dengan kecerdasan, karakter, akhlak dan keimanan yang kuat.
Ia juga menekankan pentingnya penanaman iman dan tauhid sejak dini sebagai landasan anak dalam bersikap dan mengambil keputusan.
“Kalau iman dan tauhidnya kuat, Insyaallah cara berpikirnya akan benar. Ketika cara berpikirnya benar, tindakan yang dilakukan juga akan mengarah kepada hal yang benar,” tuturnya.
Selain itu, Muhidi mendorong pendidikan karakter yang membiasakan anak bersikap jujur, bertanggung jawab dan menghargai orang lain. Karakter yang baik, katanya, akan membangun kepercayaan dari lingkungan sekaligus membantu anak menjaga dirinya dalam pergaulan.
Muhidi juga mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan dan budaya membaca. Literasi menjadi bekal penting bagi anak untuk memahami perkembangan zaman, menghadapi perubahan dan mengembangkan kemampuan diri.

“Anak-anak harus kita dorong untuk suka membaca. Ilmu akan menjadi bekal mereka untuk sukses dan menghadapi masa depan,” katanya.
Ia berharap seluruh pihak dapat menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang benar-benar ramah bagi anak. Anak tidak boleh merasa takut, tertekan atau tidak aman ketika berada di lingkungan pendidikan.
“Jadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman. Biarkan anak-anak berkembang, mengenali potensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar, Herlin Srihendini, mengatakan pelatihan tersebut menjadi langkah penting untuk menyatukan pemahaman berbagai pihak mengenai pemenuhan dan perlindungan hak anak.
Menurutnya, anak memiliki hak yang harus dipenuhi dan dilindungi bersama. Sekolah menjadi salah satu lingkungan penting karena sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam proses pendidikan.
“Anak-anak adalah aset yang tidak ternilai harganya. Karena itu, hak mereka harus dipenuhi dan mereka harus mendapatkan perlindungan,” ujar Herlin.
Ia mengatakan berbagai persoalan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, seperti perundungan dan kekerasan, harus menjadi perhatian bersama. Upaya pencegahan tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi membutuhkan keterlibatan orang tua, pemerintah dan masyarakat.
“Sekolah ramah anak harus kita wujudkan secara bersama-sama. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah,” katanya.
Herlin berharap penguatan sekolah ramah anak dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi Sumbar yang mampu memberikan kontribusi positif dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Tujuan kita adalah menyelamatkan generasi yang akan datang, karena merekalah yang nantinya menjadi penerus kita,” tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Sumbar, Karyono, mengatakan pelatihan tersebut digelar karena masih ditemukan berbagai persoalan di lingkungan sekolah.
“Kami masih menemukan kasus-kasus yang terjadi di sekolah. Ini menunjukkan bahwa penerapan sekolah ramah anak masih perlu diperkuat,” kata Karyono.
Karena itu, peserta mendapatkan pendampingan dan pemahaman mengenai hak-hak anak serta upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak menjadi sumber tekanan bagi peserta didik.
Karyono berharap peserta mengikuti pelatihan secara aktif dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah masing-masing.
“Harapan kami, peserta semakin memahami kondisi anak saat ini dan mampu mengenali persoalan yang mereka hadapi. Dengan begitu, sekolah bisa memberikan respons yang tepat dan menciptakan lingkungan yang benar-benar mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Upaya tersebut diharapkan menjadi langkah bersama menghadirkan sekolah yang tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi anak untuk merasa aman, dihargai, didengar dan diberi kesempatan berkembang. (*)









