Padang Pariaman, Scientia — Pendidikan karakter dan akhlak anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Pembentukan perilaku dan kepribadian anak juga membutuhkan keterlibatan keluarga serta lingkungan masyarakat tempat mereka tumbuh.
Hal itu disampaikan Anggota DPRD Sumatera Barat dari Fraksi PKB, Firdaus, saat berada di Lapangan SMAN 2 VII Koto Sungai Sarik, Kabupaten Padang Pariaman.
Firdaus mengatakan sekolah memang memiliki tanggung jawab memberikan pendidikan formal kepada anak. Namun, waktu anak di luar lingkungan sekolah justru menjadi ruang penting untuk membentuk kebiasaan, sikap, dan karakter.
“Pendidikan anak secara formal di sekolah memang menjadi tanggung jawab sekolah. Tetapi ketika mereka berada di luar sekolah, itu menjadi tanggung jawab kita bersama,” kata Firdaus.
Menurut dia, pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui mata pelajaran atau kegiatan resmi di sekolah. Anak juga membutuhkan lingkungan sosial yang memberikan contoh positif dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Firdaus mengajak orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, organisasi kemasyarakatan, hingga lingkungan sekitar untuk mengambil peran dalam membangun karakter generasi muda.
Ia menilai pembentukan akhlak harus dilakukan secara konsisten. Anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang mereka lihat dan alami secara langsung dibandingkan sekadar menerima nasihat.
“Anak-anak kita tidak hanya belajar dari guru. Mereka juga belajar dari orang tua, lingkungan, tokoh masyarakat, dan orang-orang yang ada di sekitarnya,” ujarnya.
Firdaus mengatakan tantangan pendidikan anak saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan luasnya akses terhadap informasi membuat anak dapat memperoleh berbagai pengaruh dari luar lingkungan keluarga maupun sekolah.
Kondisi tersebut, menurut dia, harus diimbangi dengan penguatan pendidikan karakter. Anak perlu dibekali kemampuan untuk membedakan mana perilaku yang baik dan mana yang tidak, sekaligus memiliki landasan moral dalam menggunakan teknologi dan berinteraksi di tengah masyarakat.
Ia berharap masyarakat tidak hanya menyerahkan persoalan pendidikan kepada pemerintah atau sekolah. Menurutnya, kualitas generasi mendatang juga sangat ditentukan oleh kualitas lingkungan sosial yang dibangun hari ini.
“Kalau kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang baik, maka lingkungan tempat mereka tumbuh juga harus memberikan contoh yang baik,” katanya.
Firdaus menambahkan, kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan anak dan generasi muda perlu terus diperbanyak. Olahraga, kegiatan keagamaan, sosial, seni, dan aktivitas kemasyarakatan dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta menghargai orang lain.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan pendidikan karakter sebagai gerakan bersama. Dengan begitu, pendidikan anak tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi, tetapi terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama. Sekolah mendidik di sekolah, keluarga mendidik di rumah, dan masyarakat ikut memastikan anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang baik,” tutur Firdaus.(yrp)








