Senin, 09/3/26 | 12:35 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir tentang satu istilah yang sering didengar yaitu “satu-satu”. Kedengarannya sederhana, bahkan terlalu biasa sampai saya jarang memikirkannya. Kalau dilihat sepintas, kata ini hanya pengulangan dari angka yang sama yaitu satu, lalu satu lagi.

Justru dari kesederhanaan itulah menariknya. Dalam percakapan sehari-hari, istilah “satu-satu” sering kali tidak lagi sekadar menunjuk pada angka. Ia berubah menjadi cara kita menenangkan situasi, mengatur pembicaraan, atau sekadar mengingatkan bahwa segala sesuatu sebaiknya dijalani dengan pelan-pelan.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Saat berada di sebuah kedai kopi, seorang teman berkata akan membahas persoalan tersebut satu-satu. Pernyataan itu bukan bermakna sedang menghitung angka, maksudntya pelan-pelan dan berurutan, tidak sekaligus. Ada rasa sabar di dalamnya, ada ajakan untuk tidak tergesa-gesa.

Dalam banyak percakapan, “satu-satu” juga sering menjadi cara halus untuk menenangkan keadaan. Ketika pekerjaan terasa menumpuk misalnya, seseorang akan berkata, “Kerjakan saja satu-satu”. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan kebijaksanaan kecil. Ia mengingatkan kita bahwa banyak persoalan terasa berat bukan karena mustahil diselesaikan, tetapi karena kita ingin menanganinya sekaligus.

Menariknya lagi, istilah ini sering muncul dalam nada yang agak bercanda. Misalnya ketika teman-teman sedang berebut bercerita. Tiba-tiba ada yang berkata, “Eh, satu-satu dulu, ini bukan lomba pidato”. Semua tertawa. Dalam situasi seperti ini, “satu-satu” menjadi semacam “rem sosial” yang ringan, tidak menggurui, tapi cukup ampuh untuk membuat suasana kembali tertib.

Kalau kita perhatikan lebih jauh, “satu-satu” sebenarnya menggambarkan cara berpikir yang cukup bijak dalam kehidupan. Banyak hal memang lebih mudah dijalani jika dilakukan secara bertahap. Belajar, bekerja, bahkan menyelesaikan konflik, semuanya sering kali membutuhkan proses yang tidak bisa dilompati begitu saja.

Lucunya, nasihat sederhana ini kadang justru sering kita abaikan. Kita ingin semuanya selesai sekaligus, pekerjaan cepat beres, masalah cepat hilang, rencana cepat berhasil. Padahal hidup jarang berjalan seperti itu. Ia lebih sering berjalan seperti antrean di loket, maju sedikit demi sedikit. Di situlah “satu-satu” terasa relevan. Ia bukan hanya soal urutan, tetapi juga soal ritme. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dalam satu tarikan napas.

Jadi, lain kali ketika seseorang berkata, “Sudah, satu-satu saja dulu”, mungkin kita tidak perlu menganggapnya sekadar kalimat penunda. Bisa jadi itu adalah nasihat hidup yang disampaikan dengan cara paling santai. Sebab hidup memang jarang selesai sekaligus. Tagihan datang satu-satu, masalah muncul satu-satu, bahkan kebahagiaan pun sering hadir satu-satu.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Berita Sesudah

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPASN Perkuat Pemecatan ASN Dharmasraya Anike Maulana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hierarki Satuan Kebahasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polres Dharmasraya Bagi-bagi 200 Paket Takjil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024