
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat yang asing bagi saya. Di sinilah saya tumbuh, mendengar cerita, dan mengenal cara orang-orang hidup berdampingan dengan adat dan alam. Namun, ketika saya kembali menaruh perhatian lebih dekat pada cerita rakyat di kampung ini, saya justru menemukan banyak hal yang selama ini terasa biasa, tetapi sesungguhnya bermakna.
Cerita rakyat di Gunuang Omeh tidak pernah hadir sebagai dongeng yang berdiri sendiri. Ia melekat pada tempat dan ingatan orang-orang. Ada cerita yang selalu disebut ketika orang melewati sungai tertentu, ada kisah yang diingat saat membicarakan aturan adat, dan ada pula cerita yang muncul sebagai pengingat agar orang tidak sembarangan bertindak. Cerita hidup bersama kebiasaan, bukan disimpan rapi di rak ingatan.
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di daerah ini, serta mendapat pendidikan tentang budaya dan sastra, saya melihat cerita rakyat bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak menggurui, tidak memaksa, tetapi pelan-pelan membentuk sikap. Lewat cerita, orang belajar tentang batas, tentang rasa hormat, dan tentang tanggung jawab pada sesama. Cerita menjadi cara paling sederhana untuk menjaga keteraturan hidup bersama.
Namun, perubahan zaman terasa jelas. Cara bercerita mulai bergeser, ruang-ruang berkumpul semakin sempit, dan cerita rakyat kini sering dipanggil kembali hanya saat dibutuhkan, misalnya ketika kampung ingin dikenalkan sebagai tujuan wisata. Cerita lalu tampil lebih singkat, lebih rapi, tetapi kadang kehilangan kedalaman maknanya.
Di titik ini, saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah cerita rakyat kita masih hidup, atau hanya dipamerkan? Bagi saya, cerita rakyat bukan sekadar warisan yang perlu diselamatkan, melainkan praktik yang perlu terus dijalani. Ia hidup karena dipercaya dan dipakai, bukan karena dituliskan atau dipajang.
Dari tempat kelahiran ini, saya belajar bahwa cerita rakyat selalu bernegosiasi dengan zaman. Ia bisa menguatkan identitas, tetapi juga bisa melemah jika dipisahkan dari konteks sosialnya. Cerita rakyat membutuhkan ruang, pelaku, dan kepercayaan agar tetap bermakna.



