
Oleh: Rosidatul Arifah
(Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)
Pembahasan mengenai perempuan sering kali menjadi subjek yang menarik untuk dikaji, hal ini tidak terlepas karena posisinya dalam masyarakat kerap diletakkan secara subordinatif di bawah dominasi laki-laki. Konstruksi perempuan dalam sastra sering ditentukan oleh sudut pandang laki-laki. Tokoh perempuan sering diposisikan sebagai “yang lain” (the Other), sebagaimana dikemukakan oleh Simone de Beauvoir (1949) dalam The Second Sex. Menurutnya, perempuan tidak pernah dipahami sebagai subjek yang otonom, melainkan selalu dalam relasi dengan laki-laki, yakni sebagai istri, ibu, pelayan, atau objek hasrat.
Sistem patriarki itu sendiri bukan hanya sistem berupa nilai kultural, melainkan juga sistem politik yang mengatur distribusi kuasa berdasarkan jenis kelamin. Dalam sistem ini, laki-laki menjadi subjek penguasa, sementara perempuan menjadi objek yang diatur dan dikontrol. Sastra feminis muncul di permukaan sebagai bentuk perlawanan epistemik terhadap dominasi tersebut. Ia tidak hanya menampilkan penderitaan perempuan, tetapi juga menghadirkan kesadaran tentang tubuh, pengalaman, dan kebebasan. Dengan demikian, sastra menjadi wadah bagi perempuan untuk merebut kembali narasi tentang dirinya.
Dalam konteks global, tema tentang perempuan dan perjuangannya melawan struktur sosial yang menindas telah menjadi bagian penting dalam tradisi sastra dunia, terutama di negara-negara berkembang yang masih sarat dengan ketimpangan gender, kemiskinan, dan kekuasaan otoriter. Feminisme kemudian hadir untuk menegaskan bahwa pengalaman perempuan di negara-negara Timur atau Selatan tidak bisa disamakan dengan pengalaman perempuan Barat. Penindasan yang dialami mereka berlapis, yang menjelaskan bukan hanya karena gender, tetapi juga karena kelas sosial, budaya, dan sistem politik.
Tulisan sastra seperti karya Nawal El Saadawi dari Mesir dan Okky Madasari dari Indonesia menghadirkan dimensi feminisme yang berbeda dari arus utama feminisme Barat. Karya-karya ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan di dunia non-Barat sering kali berlangsung di bawah tekanan ganda yang berupa patriarki lokal, umumnya berakar pada budaya dan agama, serta hegemoni politik yang menindas kebebasan berpikir perempuan.
Pendekatan feminisme memberikan kerangka untuk menafsirkan bagaimana teks mengonstruksi relasi gender dan bentuk perlawanan perempuan terhadap patriarki. Sedangkan pendekatan sastra perbandingan memungkinkan analisis lintas budaya dalam menemukan bagaimana tema yang sama, seperti penindasan dan perlawanan perempuan, diartikulasikan secara berbeda dalam konteks sosial, politik, dan religius yang berlainan.
Kedua novel Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi (Mesir) dan “Entrok” karya Okky Madasari (Indonesia) ini menghadirkan sosok perempuan yang berjuang di tengah keterbatasan, menolak tunduk pada kekuasaan dan dominasi laki-laki, dan mencari kebebasan melalui kesadaran diri. Meski lahir dari konteks yang berbeda, “Perempuan di Titik Nol” dengan kehidupan Mesir yang kental dengan nilai-nilai religius patriarkal dan “Entrok” dengan kehidupan Indonesia pada masa Orde Baru yang represi politik, namun, keduanya berbicara dalam bahasa dan konflik yang sama.
Perempuan di Titik Nol (Woman at Point Zero) merupakan novel yang diilhami oleh pengalaman langsung penulis, Nawal El Saadawi saat mewawancarai seorang narapidana perempuan yang akan dihukum mati di penjara Qanatir, Mesir. Tokoh utamanya bernama Firdaus, kisah ini dimulai dari seorang psikiater perempuan yang mengunjungi penjara wanita guna penelitian yang sedang dilakukannya, ia tertarik untuk mewawancarai Firdaus, seorang perempuan yang dijatuhi hukuman mati karena dituduh membunuh seorang lelaki. Dari sinilah, kehidupan Firdaus diungkap melalui narasi sang psikiater.
Firdaus lahir dalam keluarga miskin di pedesaan Mesir. Sedari dini ia sudah merasakan desakan ketimpangan dalam menjadi perempuan, dan perbedaan kedudukannya dengan kaum pria. Sedari kecil ia mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, dari keluarganya, bahkan pamannya sendiri. Setelah kehilangan orang tua, Firdaus tinggal bersama pamannya yang menyekolahkannya, lalu menjualpaksanya kepada seorang lelaki tua yang bengis untuk dinikahi. Hidup dalam bayang-bayang tamparan dan kekerasan mewarnai dunianya yang belum cukup dewasa, ia kemudian melarikan diri ke Kairo dengan harapan menemukan kebebasan dan tidak hidup dalam belenggu penindasan, tetapi, ia justru terjebak dalam sistem yang menindas perempuan dalam berbagai bentuk. Firdaus sempat bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, namun tetap diperlakukan tidak adil karena statusnya sebagai perempuan. Dalam keputusasaan ini, ia memilih menjadi pelacur karena merasa itu satu-satunya cara untuk menguasai tubuh dan hidupnya sendiri. Ironisnya, bahkan dalam profesi itu, ia tetap dikuasai oleh lelaki dan pelanggan yang memperlakukan tubuhnya sebagai komoditas.
Puncak cerita terjadi ketika Firdaus membunuh seorang germo yang berusaha menguasainya. Tindakannya merupakan bentuk pemberontakan terakhir terhadap sistem yang menindasnya. Meskipun akhirnya ia dijatuhi hukuman mati, Firdaus merasa telah mencapai titik nol, titik di mana ia menemukan kebebasan sejati karena tak lagi tunduk pada siapa pun.
Sementara novel Entrok karya Okky Madasari berlatar sosial-politik Indonesia pada masa Orde Baru, mengisahkan perjuangan dua generasi perempuan, yakni seorang ibu dan anak, Marni dan Rahayu, dalam menghadapi kemiskinan, kekuasaan, dan sistem patriarki yang membatasi kebebasan perempuan kala itu. Kisah dimulai dengan kehidupan Marni, seorang perempuan desa di Jawa yang lahir dari keluarga miskin. Sejak kecil, Marni sudah terbiasa bekerja keras, dan membantu ibunya menjual hasil bumi di pasar. Suatu ketika, Marni dikisahkan sangat ingin memiliki sebuah “Entrok” atau kutang untuk penyangga dadanya, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim, dikarenakan untuk membeli sebuah entrok memerlukan uang, dan uang tidak pernah boleh diberikan untuk seorang perempuan dari kaum bawah sepertinya. Marni dewasa dan dibesarkan tanpa figur seorang ayah, ia tumbuh dalam budaya yang menempatkan perempuan di posisi subordinat, tanpa akses pendidikan maupun hak menentukan nasib sendiri.
Marni kerap mempertanyakan mengapa tidak semua perempuan menggunakan entrok. Baginya saudarinya yang berkesempatan bisa menggunakan entrok bisa bermain dengan nyaman tanpa terbebani, sementara Marni sebaaliknya. Saat itu memang entrok barang mewah yang tidak bisa sembarangan dimiliki oleh semua kalangan. Terlebih perempuan saat itu hanya di upah dengan bahan-bahan masakan seperti singkong. Berbeda dengan para lelaki yang bisa mendapat uang dari hasilnya menjadi kuli angkut barang. Buruh perempuan kala itu umumnya melakukan pekerjaan mengupas kulit singkong.
Dalam usahanya untuk membeli sebuah entrok, Marni harus tekun dan giat bekerja dengan pekerjaan kaum lelaki yang tidak sepatutnya dikerjakan perempuan di zaman itu, Marni harus menjadi kuli angkut untuk mengumpulkan pundi-pundi uang, jika hanya mengharapkan gaji pada pekerjaan yang selayaknya dikerjakan oleh perempuan, ia hanya diupahi ubi atau bahan masakan, berbeda halnya dengan pekerjaan lelaki. Dengan tekad tersebut, Marni berusaha menyamaratakan tenaganya dengan lelaki, meski tidak jarang ia mendapat cemoohan dan ejekan dari lingkungan sekitar, karena tidak sepantasnya seorang perempuan bekerja dan memegang sejumlah uang, uang hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki dan bangsawan saja.
Pada awalnya Marni menjual alat-alat dapur dengan sistem kredit kepada masyarakat sekitar. Namun saat menyadari kebutuhan tetangganya akan pinjaman uang, Marni berpikir untuk menjadi rentenir saja dengan mengambil bunga 10%. Mulanya, bisnis Marni berjalan dengan baik namun sistem orde baru saat itu dimana TNI banyak terlibat pemungutan liar dengan dalih keamanan dan ketentraman di lingkungan. Marni sebagai perempuan dan juga rentenir masih tidak luput dari cercaan masyarakat. Ia diperas oleh tentara, dituduh mendukung gerakan terlarang, dan kehilangan rasa aman. Marni yang seorang perempuan dianggap tidak berdaya dan tidak apa-apanya dibandingkan dengan aparat militer yang dianggap memiliki kuasa yang lebih. Marni terus-menerus diperas hartanya dengan iming-iming rasa aman dalam usahanya, Marni yang seorang perempuan hanya bisa mengalah, karena perempuan tidak berpendidikan sepertinya hanya dapat menghasilkan uang, bukan kekuasaan, sedangkan kekuasaan selalu lekat dengan lelaki dan penguasa. Terkadang, Marni kerap mempertanyakan kenapa ia tidak dilahirkan menjadi seorang lelaki saja, mengapa ia harus terlahir dan menderita sebagai seorang perempuan.
Sementara itu, anak perempuannya, Rahayu, memperoleh pendidikan yang lebih baik. Rahayu tumbuh menjadi perempuan modern yang rasional, menolak kepercayaan tradisional ibunya yang masih mempercayai roh dan sesajen. Konflik ideologis antara ibu dan anak menjadi bagian dari dinamika novel ini. Meski berbeda cara, baik Marni maupun Rahayu berjuang melawan ketidakadilan. Marni menegaskan kekuatannya melalui kerja keras dan keyakinan pada kekuatan gaib sebagai pelindungnya, sementara Rahayu berjuang lewat pendidikan dan pemikiran kritis.
Kedua novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi dan Entrok karya Okky Madasari sama-sama menghadirkan potret perempuan yang berjuang melawan sistem patriarki yang menindas dalam konteks sosial, budaya, dan politik yang berbeda. Keduanya menampilkan perempuan sebagai subjek yang sadar akan ketidakadilan dan berupaya merebut kembali otonomi atas tubuh dan kehidupannya. Namun, bagian yang berbeda terdapat pada, jika Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol memilih perlawanan radikal dengan menolak seluruh tatanan sosial hingga kematian menjadi simbol kebebasan, maka Marni dan Rahayu dalam Entrok menempuh jalan perlawanan yang lebih kontekstual melalui kerja keras, pendidikan, dan kesadaran sosial.









