Senin, 26/1/26 | 07:08 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Minggu, 25/1/26 | 15:00 WIB

Oleh: Nurvita Wijayanti
(Pemerhati bahasa dari Kepulauan Bangka Belitung)

Apakah Anda pernah menemukan postingan di Instagram tentang bahasa lokal yang dimainkan intonasi dan nadanya sehingga terdengar seperti aksen bahasa lain? Anda mungkin pernah mendengar lagu berbahasa Inggris namun dinyanyikan dengan cengkok dangdut atau lirik bahasa Indonesia namun dinyanyikan dengan nada dan melodi yang terdengar seperti prosodi bahasa Jepang. Dalam linguistik, fenomena ini disebut dengan stilisasi aksen, yang dibuat secara sadar atau sengaja. Coupland (2001 & 2007) sebagai orang yang mempopulerkan kajian stilisasi aksen, yang merupakan penggunaan gaya bahasa yang dipentaskan secara sadar untuk menampilkan identitas, persona, atau efek sosial tertentu. Dengan kata lain, aksen merupakan hal yang penutur tidak sadari ketika menggunakannya, namun pada stilisasi aksen, penutur secara sadar mengubah aksen suatu bahasa tertentu dengan tujuan tertentu pula.

Akun Instagram @awingaljamal memparodikan aksen bahasa Tailan menggunakan teks bahasa Jawa, seperti dalam postingannya yang berjudul Dee Sun Thang Ngean. Si pemilik akun, Abdul Mushhowir Al Jamal, sengaja menggunakan teks berbahasa Jawa yang terdengar seperti logat Tailan. Kemudian, teks dipraktikkan menggunakan aksen Tailan tersebut. Proses ini disebut sebagai stilisasi prosodi dan segmental yang bertujuan untuk menciptakan ilusi aksen Tailan.

BACAJUGA

No Content Available

“Nyamuk keok”, yang diucapkan dengan aksen Tailan, yaitu bunyi /ɲ/ dalam bahasa Jawa yang seharusnya terdengar seperti bunyi nasal palatal atau suara sengau yang posisi lidah ada di langit-langit keras, diubah menjadi bunyi yang lebih palatal atau tidak lagi sengau, Selain itu, bunyi /ke.ok/ yang diformat berjeda antara dua suku kata, serta konsonan akhir /k/ disengaja menjadi lemah, bahkan hampir tak terdengar untuk tampak seperti aksen Tailan. Pada bagian yang lain, “Kan lumayan” menggunakan ritme yang mengalir, intonasi datar, dan bunyi /n/ yang jelas, diubah menjadi pemisahan suku kata yang jelas, konsonan akhir melemah, dan intonasi naik di akhir frasa yang sangat khas tuturan Tailan.

Sementara itu, lirik “Tumben diceluk Yang” menggunakan penggalan [tum . ben I di . ce . lu(k) I jaղ] adalah bentuk frasa bahasa Jawa yang memiliki tempo yang lambat, tekanan tiap suku kata lebih merata, konsonan akhir melemah, dan intonasi naik di akhir frasa. Dalam konteks pemilik akun @awingaljamal, bentuk-bentuk yang disebutkan disesuaikan dengan aksen Tailan yaitu syllable-timed yaitu dipisah jelas per suku kata pada kata tumben, pelepasan bunyi /k/ pada kata diceluk, pitch naik ringan dengan durasi vokal sedikit diperpanjang pada suku kata [jaղ] sehingga menghasilkan manipulasi bahasa Jawa beraksen Tailan.

Dalam kajian sosiolinguistik, aksen bukan sekedar alat berbicara, namun justru menunjukkan identitas si penutur. Akun Instagram @awingaljamal menggunakan aksen dan stilisasi aksen dengan tujuan humor dan menaikkan jumlah pengikut. Selain itu, secara tidak langsung, akun ini menghubungkan stilisasi aksen dengan konsep percampuran budaya yang diwakili oleh bahasa, serta berkontribusi dalam pembentukan ekspresi identitas hibrid.

Artinya, konten yang diproduksi oleh akun @awingaljamal merupakan representasi bahasa yang dimanipulasi melalui gaya stilisasi aksen yang menjadikan konten ini sebagai hiburan bagi pengguna media sosial Instagram. Melalui konten ini, pengikut turut merayakan dan merasakan kekayaan aksen dari tiap-tiap daerah dengan dibungkus candaan yang pintar, apalagi dengan penyematan nama aksen yang distilisasi yaitu Jawaland yang bermakna Jawa-Thailand. Sekarang, nama Jawa Thailand sudah dikoreksi oleh KBBI menjadi Jawa-Tailan (Jawalan).

Tags: #Nurvita Wijayanti
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ratusan Pelari Ramaikan Talao Beach Run 2026 di Pariaman

Berita Sesudah

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Berita Terkait

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Meneroka Sejarah Bahasa Indonesia Hingga Kini

Senin, 19/1/26 | 19:43 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Tanggal 4 November 2025 menjadi tanggal bersejarah untuk bangsa Indonesia...

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Berita Sesudah
Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

POPULER

  • DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Pelaku Curanmor Ditangkap Polisi Dharmasraya, Dua Lainnya Buron

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Kembali Pimpin PKB Sumbar, Optimis Bawa PKB Capai Puncak pada Pemilu Mendatang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Dampingi Menko PMK Resmikan Huntara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Idham Fadhli Terpilih sebagai Ketua PWI Padang Pariaman/Pariaman 2026–2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024