Kamis, 18/6/26 | 00:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Langkuik, Hidden Gem di Tengah Hutan Tanah Galugua

Minggu, 17/8/25 | 16:20 WIB

Oleh: Nada Aprila Kurnia
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

 

Langkuik Kolam bukan kolam. Petualangan kami ke sana bukan cuma jalan-jalan. Ini jadi pelajaran soal rasa takut, dingin, dan keberanian. —Ekspedisi Wilayah II 2025

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Pada bulan Juli 2025, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Ekspedisi Wilayah II di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Tempatnya di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Daerah ini dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Rokan Hulu. Sebagian besar jalan menuju Galugua masih berupa tanah dan bebatuan dengan jaraknya kurang lebih 119 km dari ibu kota kabupaten, Sarilamak. Namun, di balik keterpencilan itu, keaslian alam dan budaya Galugua tetap terjaga. Salah satu agenda ekspedisi yang kami lakukan adalah mengunjungi objek ekowisata yang masih jarang terekspos, yaitu Langkuik Kolam. Pengalaman ini menjadi salah satu catatan perjalanan paling berkesan bagi saya pada tahun ini.

Awalnya, saya dan rekan-rekan Ekspedisi Wilayah II membayangkan bahwa Langkuik Kolam merupakan sebuah kolam alami yang tersembunyi di tengah hutan. Beberapa jam sebelum berangkat ke sana, kami cukup kaget ketika dijelaskan oleh salah satu warga bahwa Langkuik Kolam itu bukanlah seperti kolam biasa yang kami bayangkan. Dikatakannya “langkuik” dalam bahasa mereka berarti gua, sedangkan “kolam” diartikan sebagai kelam atau gelap. Dengan kata lain, Langkuik Kolam adalah sebuah gua yang gelap gulita dan terletak di tengah hutan, bukan sekedar kolam air seperti dugaan awal kami.

Foto: Nada Aprilla Kurnia

Siapa sangka, di balik suasana alam yang tenang itu tersimpan lorong gelap yang diselimuti rimbun hutan dan air yang mengalir perlahan. Meskipun sore itu udara terasa cukup panas, tapi begitu kami mulai melangkah masuk ke aliran air yang mengarah ke mulut gua, rasa panas itu perlahan menghilang. Airnya dingin dan menyejukkan sekujur tubuh, seolah menyambut setiap langkah kami dengan kesejukan alami.

Saya bersama rekan-rekan Ekspedisi Wilayah II serta dipandu oleh beberapa warga di sana, langsung menyusuri hidden gem ini. Ketika sampai di dalam gua, cahaya matahari meredup dan suara-suara alam mulai terdengar menggema. Kami semakin dihantui rasa penasaran, adrenalin yang berdebar, langkah yang berani, dan penuh semangat. Suasana alam perlahan berubah menjadi gelap yang menenangkan. Tak ada suara selain gemericik air dan langkah kami yang berhati-hati. Terdapat langit-langit gua yang rendah di beberapa titik, sehingga memaksa kami untuk membungkuk agar bisa terus bergerak. Penerangan di dalam hanya berasal dari senter genggam dan cahaya hp masing-masing. Sedangkan saya dan beberapa teman lainnya hanya mengandalkan kepercayaan pada langkah orang-orang yang berjalan di depan.

Kami terus berjalan menyusuri lorong gua dengan genangan air sampai setinggi paha di beberapa titik. Setelah berjalan sekitar 35 menit, ada sensasi yang tidak bisa dijelaskan ketika berada di dalam sana, antara kagum, takut, dan takjub. Dalam gelap dan sunyi, kami seperti mendengar detak jantung bumi. Gua yang dihiasi bebatuan besar dan tampak seperti ukiran alam. Banyak kelelawar yang terbang melintas, sehingga memperkuat kesan mistis yang menyelimuti tempat ini. Suasana di dalamnya nyaris menyerupai adegan film petualangan, tapi kali ini terjadi secara nyata di tanah Galugua. Bahkan di beberapa bagian gua, terbentuk stalaktit dan stalagmit yang diperkirakan berumur jutaan tahun.

Dikutip dari Jadesta Kementerian Pariwisata Republik Indonesia 2025 menyatakan bahwa Langkuik Kolam ini merupakan gua dengan panjang sekitar 500meter yang menyimpan aliran anak Sungai Batang Ngiyan. Gua ini memiliki lorong-lorong kecil di dalamnya yang menambah kesan estetika. Selain itu, juga dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat yang memiliki kekuatan spiritual. Menurut warga, Langkuik Kolam dulu menjadi tempat persembunyian saat masa penjajahan. Namun, yang lebih menarik lagi adalah kepercayaan bahwa gua ini mampu “menolak” niat buruk dari luar nagari, sehingga menjadi semacam penjaga spiritual bagi masyarakat Galugua.

Petualangan ini bukan hanya tentang menembus gelapnya gua, tetapi juga menemukan sesuatu yang lebih dalam tentang alam, dan tentang diri sendiri. Saya merasa seperti sedang menyelami lapisan-lapisan waktu dan sejarah yang tertanam dari ukiran dinding gua. Ketika akhirnya keluar dari gua dan cahaya kembali menyapa, setengah dari tubuh kami basah, dan kaki gemetar karena menerjang dinginnya air. Secara pribadi, saya bukan seseorang yang tahan terhadap suhu dingin. Sehingga di ujung perjalanan, saya mengalami kram pada kaki akibat terlalu lama berada di air yang dingin. Namun, rasa tidak nyaman itu tergantikan oleh pengalaman yang begitu berharga. Bagi saya, Langkuik Kolam bukan hanya objek wisata alam; ia adalah simbol keberanian, pembelajaran, dan keindahan yang tersembunyi. Tempat ini mengajarkan bahwa untuk menemukan sesuatu yang luar biasa, sering kali kita perlu menembus ketakutan dan keluar dari zona nyaman.

Sebagai mahasiswa yang terlibat dalam ekspedisi ini, saya merasa pengalaman menyusuri Langkuik Kolam telah meninggalkan jejak yang mendalam. Saya berharap semakin banyak orang yang mengenal dan menghargai tempat-tempat seperti ini. Datanglah dengan hati yang terbuka, lalu biarkan lorong sunyi di Langkuik Kolam membisikkan sesuatu yang barangkali selama ini kita lupa: alam bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi juga tempat untuk dikenang, dijaga, dan disyukuri.

Tags: #Nada Aprilla Kurnia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Hukum Kawin Sesuku di Minangkabau

Berita Sesudah

Puisi-puisi M. Subarkah

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Puisi-puisi M. Subarkah

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Minta SPPG se Kota Padang Persiapkan Diri Hadapi Sistem Penilaian atau Grading dari Badan Gizi Nasional (BGN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026