Senin, 03/8/26 | 22:54 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Langkuik, Hidden Gem di Tengah Hutan Tanah Galugua

Minggu, 17/8/25 | 16:20 WIB

Oleh: Nada Aprila Kurnia
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

 

Langkuik Kolam bukan kolam. Petualangan kami ke sana bukan cuma jalan-jalan. Ini jadi pelajaran soal rasa takut, dingin, dan keberanian. —Ekspedisi Wilayah II 2025

BACAJUGA

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB
Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Pada bulan Juli 2025, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Ekspedisi Wilayah II di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Tempatnya di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Daerah ini dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Rokan Hulu. Sebagian besar jalan menuju Galugua masih berupa tanah dan bebatuan dengan jaraknya kurang lebih 119 km dari ibu kota kabupaten, Sarilamak. Namun, di balik keterpencilan itu, keaslian alam dan budaya Galugua tetap terjaga. Salah satu agenda ekspedisi yang kami lakukan adalah mengunjungi objek ekowisata yang masih jarang terekspos, yaitu Langkuik Kolam. Pengalaman ini menjadi salah satu catatan perjalanan paling berkesan bagi saya pada tahun ini.

Awalnya, saya dan rekan-rekan Ekspedisi Wilayah II membayangkan bahwa Langkuik Kolam merupakan sebuah kolam alami yang tersembunyi di tengah hutan. Beberapa jam sebelum berangkat ke sana, kami cukup kaget ketika dijelaskan oleh salah satu warga bahwa Langkuik Kolam itu bukanlah seperti kolam biasa yang kami bayangkan. Dikatakannya “langkuik” dalam bahasa mereka berarti gua, sedangkan “kolam” diartikan sebagai kelam atau gelap. Dengan kata lain, Langkuik Kolam adalah sebuah gua yang gelap gulita dan terletak di tengah hutan, bukan sekedar kolam air seperti dugaan awal kami.

Foto: Nada Aprilla Kurnia

Siapa sangka, di balik suasana alam yang tenang itu tersimpan lorong gelap yang diselimuti rimbun hutan dan air yang mengalir perlahan. Meskipun sore itu udara terasa cukup panas, tapi begitu kami mulai melangkah masuk ke aliran air yang mengarah ke mulut gua, rasa panas itu perlahan menghilang. Airnya dingin dan menyejukkan sekujur tubuh, seolah menyambut setiap langkah kami dengan kesejukan alami.

Saya bersama rekan-rekan Ekspedisi Wilayah II serta dipandu oleh beberapa warga di sana, langsung menyusuri hidden gem ini. Ketika sampai di dalam gua, cahaya matahari meredup dan suara-suara alam mulai terdengar menggema. Kami semakin dihantui rasa penasaran, adrenalin yang berdebar, langkah yang berani, dan penuh semangat. Suasana alam perlahan berubah menjadi gelap yang menenangkan. Tak ada suara selain gemericik air dan langkah kami yang berhati-hati. Terdapat langit-langit gua yang rendah di beberapa titik, sehingga memaksa kami untuk membungkuk agar bisa terus bergerak. Penerangan di dalam hanya berasal dari senter genggam dan cahaya hp masing-masing. Sedangkan saya dan beberapa teman lainnya hanya mengandalkan kepercayaan pada langkah orang-orang yang berjalan di depan.

Kami terus berjalan menyusuri lorong gua dengan genangan air sampai setinggi paha di beberapa titik. Setelah berjalan sekitar 35 menit, ada sensasi yang tidak bisa dijelaskan ketika berada di dalam sana, antara kagum, takut, dan takjub. Dalam gelap dan sunyi, kami seperti mendengar detak jantung bumi. Gua yang dihiasi bebatuan besar dan tampak seperti ukiran alam. Banyak kelelawar yang terbang melintas, sehingga memperkuat kesan mistis yang menyelimuti tempat ini. Suasana di dalamnya nyaris menyerupai adegan film petualangan, tapi kali ini terjadi secara nyata di tanah Galugua. Bahkan di beberapa bagian gua, terbentuk stalaktit dan stalagmit yang diperkirakan berumur jutaan tahun.

Dikutip dari Jadesta Kementerian Pariwisata Republik Indonesia 2025 menyatakan bahwa Langkuik Kolam ini merupakan gua dengan panjang sekitar 500meter yang menyimpan aliran anak Sungai Batang Ngiyan. Gua ini memiliki lorong-lorong kecil di dalamnya yang menambah kesan estetika. Selain itu, juga dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat yang memiliki kekuatan spiritual. Menurut warga, Langkuik Kolam dulu menjadi tempat persembunyian saat masa penjajahan. Namun, yang lebih menarik lagi adalah kepercayaan bahwa gua ini mampu “menolak” niat buruk dari luar nagari, sehingga menjadi semacam penjaga spiritual bagi masyarakat Galugua.

Petualangan ini bukan hanya tentang menembus gelapnya gua, tetapi juga menemukan sesuatu yang lebih dalam tentang alam, dan tentang diri sendiri. Saya merasa seperti sedang menyelami lapisan-lapisan waktu dan sejarah yang tertanam dari ukiran dinding gua. Ketika akhirnya keluar dari gua dan cahaya kembali menyapa, setengah dari tubuh kami basah, dan kaki gemetar karena menerjang dinginnya air. Secara pribadi, saya bukan seseorang yang tahan terhadap suhu dingin. Sehingga di ujung perjalanan, saya mengalami kram pada kaki akibat terlalu lama berada di air yang dingin. Namun, rasa tidak nyaman itu tergantikan oleh pengalaman yang begitu berharga. Bagi saya, Langkuik Kolam bukan hanya objek wisata alam; ia adalah simbol keberanian, pembelajaran, dan keindahan yang tersembunyi. Tempat ini mengajarkan bahwa untuk menemukan sesuatu yang luar biasa, sering kali kita perlu menembus ketakutan dan keluar dari zona nyaman.

Sebagai mahasiswa yang terlibat dalam ekspedisi ini, saya merasa pengalaman menyusuri Langkuik Kolam telah meninggalkan jejak yang mendalam. Saya berharap semakin banyak orang yang mengenal dan menghargai tempat-tempat seperti ini. Datanglah dengan hati yang terbuka, lalu biarkan lorong sunyi di Langkuik Kolam membisikkan sesuatu yang barangkali selama ini kita lupa: alam bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi juga tempat untuk dikenang, dijaga, dan disyukuri.

Tags: #Nada Aprilla Kurnia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Hukum Kawin Sesuku di Minangkabau

Berita Sesudah

Puisi-puisi M. Subarkah

Berita Terkait

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga...

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Oleh: Aruusalkhofiqoni Bahri Chaniago, Lc. (Alumni Dirasat Islamiyah, Ibn Tofail University, Kenitra, Maroko dan Aktif Mengkaji Hadis, Tradisi Keilmuan Islam,...

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Puisi-puisi M. Subarkah

POPULER

  • Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

    Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Genangan Setinggi Paha Lumpuhkan Jalan Arai Pinang, Warga Dorong Motor dan Toko Terpaksa Tutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Banjir Kepung Sejumlah Kawasan di Padang, Tim BPBD Berpacu dengan Waktu Evakuasi Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026