Rabu, 23/9/26 | 04:59 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Langkuik, Hidden Gem di Tengah Hutan Tanah Galugua

Minggu, 17/8/25 | 16:20 WIB

Oleh: Nada Aprila Kurnia
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

 

Langkuik Kolam bukan kolam. Petualangan kami ke sana bukan cuma jalan-jalan. Ini jadi pelajaran soal rasa takut, dingin, dan keberanian. —Ekspedisi Wilayah II 2025

BACAJUGA

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB
Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Pada bulan Juli 2025, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Ekspedisi Wilayah II di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Tempatnya di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Daerah ini dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Rokan Hulu. Sebagian besar jalan menuju Galugua masih berupa tanah dan bebatuan dengan jaraknya kurang lebih 119 km dari ibu kota kabupaten, Sarilamak. Namun, di balik keterpencilan itu, keaslian alam dan budaya Galugua tetap terjaga. Salah satu agenda ekspedisi yang kami lakukan adalah mengunjungi objek ekowisata yang masih jarang terekspos, yaitu Langkuik Kolam. Pengalaman ini menjadi salah satu catatan perjalanan paling berkesan bagi saya pada tahun ini.

Awalnya, saya dan rekan-rekan Ekspedisi Wilayah II membayangkan bahwa Langkuik Kolam merupakan sebuah kolam alami yang tersembunyi di tengah hutan. Beberapa jam sebelum berangkat ke sana, kami cukup kaget ketika dijelaskan oleh salah satu warga bahwa Langkuik Kolam itu bukanlah seperti kolam biasa yang kami bayangkan. Dikatakannya “langkuik” dalam bahasa mereka berarti gua, sedangkan “kolam” diartikan sebagai kelam atau gelap. Dengan kata lain, Langkuik Kolam adalah sebuah gua yang gelap gulita dan terletak di tengah hutan, bukan sekedar kolam air seperti dugaan awal kami.

Foto: Nada Aprilla Kurnia

Siapa sangka, di balik suasana alam yang tenang itu tersimpan lorong gelap yang diselimuti rimbun hutan dan air yang mengalir perlahan. Meskipun sore itu udara terasa cukup panas, tapi begitu kami mulai melangkah masuk ke aliran air yang mengarah ke mulut gua, rasa panas itu perlahan menghilang. Airnya dingin dan menyejukkan sekujur tubuh, seolah menyambut setiap langkah kami dengan kesejukan alami.

Saya bersama rekan-rekan Ekspedisi Wilayah II serta dipandu oleh beberapa warga di sana, langsung menyusuri hidden gem ini. Ketika sampai di dalam gua, cahaya matahari meredup dan suara-suara alam mulai terdengar menggema. Kami semakin dihantui rasa penasaran, adrenalin yang berdebar, langkah yang berani, dan penuh semangat. Suasana alam perlahan berubah menjadi gelap yang menenangkan. Tak ada suara selain gemericik air dan langkah kami yang berhati-hati. Terdapat langit-langit gua yang rendah di beberapa titik, sehingga memaksa kami untuk membungkuk agar bisa terus bergerak. Penerangan di dalam hanya berasal dari senter genggam dan cahaya hp masing-masing. Sedangkan saya dan beberapa teman lainnya hanya mengandalkan kepercayaan pada langkah orang-orang yang berjalan di depan.

Kami terus berjalan menyusuri lorong gua dengan genangan air sampai setinggi paha di beberapa titik. Setelah berjalan sekitar 35 menit, ada sensasi yang tidak bisa dijelaskan ketika berada di dalam sana, antara kagum, takut, dan takjub. Dalam gelap dan sunyi, kami seperti mendengar detak jantung bumi. Gua yang dihiasi bebatuan besar dan tampak seperti ukiran alam. Banyak kelelawar yang terbang melintas, sehingga memperkuat kesan mistis yang menyelimuti tempat ini. Suasana di dalamnya nyaris menyerupai adegan film petualangan, tapi kali ini terjadi secara nyata di tanah Galugua. Bahkan di beberapa bagian gua, terbentuk stalaktit dan stalagmit yang diperkirakan berumur jutaan tahun.

Dikutip dari Jadesta Kementerian Pariwisata Republik Indonesia 2025 menyatakan bahwa Langkuik Kolam ini merupakan gua dengan panjang sekitar 500meter yang menyimpan aliran anak Sungai Batang Ngiyan. Gua ini memiliki lorong-lorong kecil di dalamnya yang menambah kesan estetika. Selain itu, juga dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat yang memiliki kekuatan spiritual. Menurut warga, Langkuik Kolam dulu menjadi tempat persembunyian saat masa penjajahan. Namun, yang lebih menarik lagi adalah kepercayaan bahwa gua ini mampu “menolak” niat buruk dari luar nagari, sehingga menjadi semacam penjaga spiritual bagi masyarakat Galugua.

Petualangan ini bukan hanya tentang menembus gelapnya gua, tetapi juga menemukan sesuatu yang lebih dalam tentang alam, dan tentang diri sendiri. Saya merasa seperti sedang menyelami lapisan-lapisan waktu dan sejarah yang tertanam dari ukiran dinding gua. Ketika akhirnya keluar dari gua dan cahaya kembali menyapa, setengah dari tubuh kami basah, dan kaki gemetar karena menerjang dinginnya air. Secara pribadi, saya bukan seseorang yang tahan terhadap suhu dingin. Sehingga di ujung perjalanan, saya mengalami kram pada kaki akibat terlalu lama berada di air yang dingin. Namun, rasa tidak nyaman itu tergantikan oleh pengalaman yang begitu berharga. Bagi saya, Langkuik Kolam bukan hanya objek wisata alam; ia adalah simbol keberanian, pembelajaran, dan keindahan yang tersembunyi. Tempat ini mengajarkan bahwa untuk menemukan sesuatu yang luar biasa, sering kali kita perlu menembus ketakutan dan keluar dari zona nyaman.

Sebagai mahasiswa yang terlibat dalam ekspedisi ini, saya merasa pengalaman menyusuri Langkuik Kolam telah meninggalkan jejak yang mendalam. Saya berharap semakin banyak orang yang mengenal dan menghargai tempat-tempat seperti ini. Datanglah dengan hati yang terbuka, lalu biarkan lorong sunyi di Langkuik Kolam membisikkan sesuatu yang barangkali selama ini kita lupa: alam bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi juga tempat untuk dikenang, dijaga, dan disyukuri.

Tags: #Nada Aprilla Kurnia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Hukum Kawin Sesuku di Minangkabau

Berita Sesudah

Puisi-puisi M. Subarkah

Berita Terkait

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Puisi-puisi M. Subarkah

POPULER

  • Rumah Dinas Wabup Solok Dibuka untuk Pengungsi, Warga Diminta Hindari Lokasi Rawan

    Rumah Dinas Wabup Solok Dibuka untuk Pengungsi, Warga Diminta Hindari Lokasi Rawan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Korban Galodo Solok Ditemukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wabup Solok Minta Warga Tak Sebarkan Foto Korban Galodo: Duka Dunsanak Kita Bukan Konten

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026