Sabtu, 14/3/26 | 19:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Mengenal Parts of Speech (2): Verba dalam Linguistik

Minggu, 13/4/25 | 08:33 WIB

Oleh: Dini Maulia
(Dosen Prodi Sastra Jepang Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)

 

Pada bagian part of speech sebelumnya telah diuraikan bagaimana para linguis mengenalkan wujud nomina melalui definisi semantis dan gramatikal. Seperti halnya nomina, verba sebagai salah satu kategori open classes dari rangkaian part of speech, juga memiliki definisi yang bervariasi dari sudut pandang semantis maupun gramatikal. Perbedaan di antara nomina dan verba dikatakan oleh Langacker (1987) dapat diketahui pada unsur foreground relations yang hanya dimiliki oleh verba.

BACAJUGA

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB
Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Foreground relations tidak dimiliki oleh nomina karena verba dapat menentukan jumlah argumen (yang diisi oleh nomina) dalam struktur sebuah kalimat. Foreground relations membuat keberadaan verba menjadi pusat relasi di dalam kalimat yang sekaligus dapat membagi tipologi bahasa-bahasa di dunia. Dalam sintaksis, predikat verba merupakan struktur klausa yang diterima sebagai konstruksi yang menentukan tipologi bahasa. Tipologi suatu bahasa dalam bidang linguistik dapat menunjukkan fitur universal yang dapat menyamakan satu bahasa dengan lainnnya sekalipun bahasa tersebut berasal dari rumpun bahasa yang berbeda.

Tipologi bahasa dunia secara linguistik dapat dibagi berdasarkan banyak aspek, salah satunya berdasarkan posisi penempatan predikat verba, misalnya dalam bahasa dengan tipologi verb-final language yang memiliki kategori posposisi untuk menjelaskan nomina, sedangkan bahasa dengan tipologi verb-initial language memiliki kategori preposisi sebelum nomina (Dryer, 2007:72). Meskipun begitu, tidak semua bahasa dapat dengan mudah dideteksi melalui foregroud relations. Bahasa Nootka yang juga dikenal dengan istilah Nuu-chah-nulth merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat pantai barat Pulau Vancouver di Kanada. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa yang sangat sulit diidentifikasi perbedaan wujud nomina dan verba di dalam kalimatnya (Jacobsen: 1976).

Secara semantis, verba dapat didefinisikan sebagai kata yang mengekspresikan makna aksi, proses, dan sejenisnya (Schachter dan Shopen, 2007:9). Langacker (1987) juga menyatakan bahwa definisi semantis dapat membagi verba bahasa Inggris menjadi active verbs dan stative verbs. Dikatakan oleh Langacker (1987), active verbs merupakan verba yang berbatas dengan spasial waktu sehingga verba jenis ini menggunakan bentuk present progressive tense di dalam kalimat dengan kala nonlampau. Kita dapat melihat contohnya pada verba walk, learn yang digunakan dalam bentuk walking dan learning di dalam kalimat dengan kala nonlampau.

Berbeda dengan stative verbs, seperti kata love, know, dan lainnya yang tidak memiliki batas spasial waktu sehingga digunakan dalam bentuk simple present tense menjadi loves dan knows dalam kalimat dengan kala nonlampau. Verba yang digolongkan ke dalam active verbs digunakan dalam bentuk simple present tense untuk menyampaikan interpretasi istimewa. Makna istimewa tersebut dapat dibedakan menjadi: 1) Makna habitual, seperti verba drink dalam kalimat Ralph drinks two martinis for lunch, 2) Makna imminent future, pada verba leave dalam kalimat the expedition leaves tomorrow at noon, dan 3) Makna historical present untuk verba walk dalam kalimat then he walks up tome and says…. (Langacker: 1987). Definisi active verbs dan stative verbs memiliki definisi yang hampir sama dalam membedakan count nouns dan mass nouns dalam nomina bahasa Inggris yang telah dibahas pada bagian sebelumnya.

Definisi gramatikal terhadap verba memiliki jangkauan yang lebih luas dan melahirkan klasifikasi yang lebih beragam. Hal ini membuktikan bahwa kategorisasi part of speech memang lebih tepat dilakukan secara gramatikal dibandingkan dengan semantis. Secara gramatikal, verba dapat diklasifikasikan berdasarkan tense ‘kala’, aspect ‘aspek’, mood ‘modalitas’, voice ‘diatesis’, dan polarity ‘polaritas’.

Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang memiliki kategori verba yang hampir memenuhi semua klasifikasi gramatikal tersebut. Verba bahasa Jepang dapat dibedakan secara bentuk berdasarkan kala, aspek, diatesis, dan polaritas. Modalitas tidak mempengaruhi bentuk verba secara khusus di dalam bahasa Jepang. Perbedaan bentuk dapat dicontohkan pada verba makan yang memiliki variasi bentuk dalam bahasa Jepang, seperti: taberu dalam kala nonlampau dan tabeta dalam kala lampau (klasifikasikan berdasar kala), bentuk tabeteiru dalam aspek progresif (klasifikasi berdasarkan aspek), taberareru dalam bentuk pasif dan tabesaseru dalam bentuk kausatif (klasifikasi berdasarkan diatesis), serta tabenai dalam bentuk negatif (klasifikasi berdasarkan polaritas).

Pengaruh modalitas terhadap bentuk verba dapat dilihat pada bahasa Prancis. Schachter dan Shopen (2007:11) mengatakan bahwa bentuk verba dalam bahasa Prancis dapat diklasifikasikan berdasarkan modalitas, contohnya dapat dilihat pada verba bentuk modus indikatif dan modus subjungtif dalam kalimat (qu’)il viendra ‘(bahwa) dia akan datang’ dan (qu’)il vienne ‘(bahwa) dia mungkin datang’.

Berbeda dengan bahasa Jepang dan Prancis, bentuk verba dalam bahasa Indonesia hanya dapat dibedakan berdasarkan diatesis melalui proses afiksasi. Kita dapat melihat contoh pada bentuk membaca dan dibaca  dapat membedakan diatesis aktif dan pasif. Dalam bahasa Indonesia, wujud nomina dan verba memiliki hubungan yang sangat erat. Berdasarkan penelitian dalam bidang linguistik terdahulu dikatakan bahwa kategori nomina dan verba bahasa Indonesia dapat dibedakan berdasarkan penggunaan negasi (Mees: 1953, Alisjahbana: 1954, Simorangkir-Simandjuntak: 1955, Poedjawijatna: 1958, Hadidjaja: 1968, Fokker: 1972, Safioedin: 1978, Keraf: 1973, Ramlan: 1978).

Bukan merupakan negasi yang dapat diikuti nomina dan tidak merupakan negasi yang dapat mengikuti verba. Namun, teori ini sepertinya tidak berlaku apabila dicermati pada penggunaannya di dalam masyarakat saat ini. Pada aplikasinya, negasi bukan dan tidak sama-sama digunakan untuk kategori nomina maupun verba di dalam kalimat. Data yang menunjukkan penggunaan ini dapat dilihat pada piranti korpus di dalam sketch engine.

Eratnya hubungan bentuk kategori nomina dan verba dalam bahasa Indonesia dapat ditunjukkan pada proses konversi yang menghasilkan kata dengan kategori verba yang berasal dari nomina. Proses konversi menyebabkan kata-kata seperti jalan, cangkul, dan telepon memiliki kelas kata ganda di dalam bahasa Indonesia (Moeliono, dkk, 2017:128). Pertanyaan selanjutnya muncul, bagaimana mengetahui bahwa kata jalan, cangkul, dan telepon memiliki kategori dasar nomina? Untuk menentukan asal kategori kata tersebut dapat dilihat pada ketergantungan kata dengan makna dasar. Misalnya diambil salah satu kata cangkul. Penggunaan kata cangkul sebagai verba dapat dilihat pada kalimat cangkul tanah itu sedalam lima meter. Kata cangkul pada kalimat tersebut memiliki keterikatan pada proses yang menggunakan benda berupa cangkul. Oleh karenanya, kata cangkul dapat dikatakan memiliki kategori asal sebagai nomina. Kata ini dapat mengalami proses konversi dari nomina menjadi verba tanpa mengalami perubahan bentuk. Sebaliknya, kategori nomina bahasa Indonesia juga dapat dibentuk melalui verba dengan proses afiksasi. Proses afiksasi memiliki perbedaan dengan proses konversi karena kata yang dihasilkan harus mengalami perubahan bentuk. Proses afiksasi yang mengubah verba menjadi nomina dalam bahasa Indonesia dapat dilihat pada nomina tulisan yang dibentuk dari verba tulis dan sufiks -an.

Bentuk nomina dan verba dapat ditandai dengan lebih mudah dalam bahasa Jepang. Verba bahasa Jepang hadir dalam bentuk akar kata yang hanya dapat memiliki makna apabila hadir bersama afiks. Contohnya pada akar kata sute, yang baru akan memiliki makna ketika hadir bersama afiks. Pelekatan akar verba sute dengan afiks -ru dapat membentuk verba suteru, pelekatan dengan afiks -masu membentuk verba sutemasu, dan pelekatan dengan afiks -ta membentuk verba suteta. Ketiga verba suteru, sutemasu, dan suteta sama-sama memiliki arti ‘membuang’ dalam bahasa Jepang yang hanya berbeda bentuk yang dipengaruhi ragam bahasa dan sistem kala.

Nomina bahasa Jepang juga dapat mengalami perubahan kategori menjadi verba. Salah satu perubahan tersebut dapat ditandai dengan dengan penambahan verba suru/ shimasu di belakang nomina. Contohnya dapat dilihat pada nomina kekkon ‘pernikahan’ yang berubah menjadi verba ketika hadir dalam bentuk kekkon suru/ kekkon shimasu ‘menikah’. Bahasa Jepang tidak memiliki kata dengan kategori ganda seperti bahasa Indonesia. Masing-masing kata dalam bahasa Jepang memiliki penanda kategori gramatikal yang khas sehingga sangat mudah dibedakan di antara satu dengan lainnya.

Tags: #Dini Maulia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketua DPRD Dharmasraya Temu Ramah dengan OKP, Jalin Silaturahim dan Kolaborasi

Berita Sesudah

Pembentukan Identitas Hibrid Tokoh Imigran dalam Dua Cerpen karya Vladimir Kaminer

Berita Terkait

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi...

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Berita Sesudah
Aspek Pemahaman Antarbudaya pada Sastra Anak

Pembentukan Identitas Hibrid Tokoh Imigran dalam Dua Cerpen karya Vladimir Kaminer

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran berbuka puasa bersama, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas PUPR, dan Petugas Lembaga Pengelola Sampah (LPS) se-Kota Padang, di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Selasa (10/3/2026).(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Bakal Menggelar Lomba Kebersihan Tingkat RT se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Bakal Buka Jalur Dua Arah di Depan Plaza Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebanyak 314 KK Korban Terdampak Bencana Hidrometeorologi Terima Bantuan dari PMI Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata ‘cuma’, ‘hanya’ , dan ‘saja’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026