Tradisi meniru ini yang rasanya sulit dihilangkan dalam tradisi menulis karya ilmiah di Indonesia. Karena tenggat waktu yang dimiliki sangat sedikit, mahasiswa cenderung meniru tanpa berpikir, apakah tulisan yang digunakan benar atau salah. Jika nanti diketahui salah dan diberi tahu oleh dosen, mereka kemudian berkilah, “saya meniru skripsi yang sudah ada”. Padahal, sebagai seorang cendekiawan yang akan menjadi lulusan perguruan tinggi, mereka seharusnya berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Jika terjadi kesalahan, sudah sepatutnya mereka memutus mata rantai penulisan yang salah dan menghadirkan kaidah penulisan yang benar.
Selain penulisan kata ke hadirat dan kehadiran, ada lagi bentuk lain yang perlu dibahas. Bentuk-bentuk lain tersebut bersinonim dan juga muncul dalam bagian “Kata Pengantar”. Kata yang dimaksud adalah panjatkan yang diambil dari kata panjat ‘naik’. Kehadiran kata panjat ini berkenaan dengan ritual yang pernah ada di Indonesia. Dahulu masyarakat Indonesia menganut kepercayaan animisme ‘kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dan sebagainya)’. Pada masa itu, masyarakat Indonesia menyembah pepohonan dan berdoa menengadah ke atas pohon dengan harapan, doa-doa tersebut naik ke atas pohon dan dikabulkan oleh benda (Tuhan) yang disembah tersebut. Oleh karena itu, dalam naskah-naskah lawas atau naskah-naskah lama, pernah muncul kalimat, “saya pohonkan kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Ramlan (1983) pernah menjelaskan kehadiran kata mohon ini berkenaan dengan kata pohon. Penjelasan tersebut dapat dilihat juga dalam KBBI Edisi VI. Jika mencari kata pohon, kata ini muncul sebagai kata polisemi. Pertama, maknanya merujuk pada tumbuhan atau tanaman berkayu menahun yang tegak dan tinggi. Kedua, makna dijelaskan sebagai prakategorial. Prakategorial adalah sebuah bentuk yang akan memiliki kelas kata dan arti jika mendapatkan imbuhan. Pada makna kedua ini, kita diarahkan pada bentuk memohon dan memohonkan. Ketika mencari lema memohon, akan muncul kata dengan dua bentuk dasar. Bentuk dasar yang pertama adalah mohon yang bermakna ‘meminta dengan hormat’. Contohnya dapat dilihat pada kalimat, “Kami mohon maaf atas gangguan ini”. Sementara itu, bentuk dasar yang kedua adalah pohon yang bermakna ‘meminta dengan hormat’. Contohnya dapat dilihat pada “Mohon ampun kepada Allah”.
Analogi pohon ini juga yang menyebabkan pengguna bahasa Indonesia menggunakan kata panjat sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Panjat yang bermakna ‘naik’ dimaknai sebagai doa-doa yang disampaikan (naik) kepada Tuhan agar segera dikabulkan. Dengan demikian, penggunaan kata ke hadirat dan panjatkan ternyata dapat memunculkan persoalan-persoalan kebahasaan. Lalu, bagaimana cara mengatasi persoalan ini?
Jika kita menelusuri lagi skripsi, tesis, dan disertasi; atau laporan penelitian yang memuat kata pengantar, terdapat sejumlah variasi yang sudah dipilih oleh masyarakat Indonesia untuk menggantikan kata ke hadirat, panjatkan, pohonkan, dan mohonkan. Berikut pilihan kalimat yang dimaksud.
(1) Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia yang diberikan.
(2) Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya.
Kata ucapkan dan sampaikan dipilih sebagai kata ilmiah untuk menggantikan kata panjatkan, pohonkan, dan mohonkan. Sementara itu, diksi kepada dipilih untuk menggantikan ke hadirat dan kehadiran. Dengan pilihan-pilihan tersebut, masalah kebahasaan yang berkenaan dengan panjatkan dan ke hadirat/kehadiran dapat diatasi. Memilih diksi yang tepat sangat perlu dilakukan dalam menulis karya ilmiah. Karya ilmiah mencerminkan keteraturan seseorang dalam berpikir dan mencerminkan kecendekiaan seseorang dalam memilih kata.







Discussion about this post