Senin, 13/7/26 | 07:55 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

“Ke Hadirat” dan “Kehadiran”

Minggu, 07/7/24 | 18:15 WIB

Tradisi meniru ini yang rasanya sulit dihilangkan dalam tradisi menulis karya ilmiah di Indonesia. Karena tenggat waktu yang dimiliki sangat sedikit, mahasiswa cenderung meniru tanpa berpikir, apakah tulisan yang digunakan benar atau salah. Jika nanti diketahui salah dan diberi tahu oleh dosen, mereka kemudian berkilah, “saya meniru skripsi yang sudah ada”. Padahal, sebagai seorang cendekiawan yang akan menjadi lulusan perguruan tinggi, mereka seharusnya berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Jika terjadi kesalahan, sudah sepatutnya mereka memutus mata rantai penulisan yang salah dan menghadirkan kaidah penulisan yang benar.

Selain penulisan kata ke hadirat dan kehadiran, ada lagi bentuk lain yang perlu dibahas. Bentuk-bentuk lain tersebut bersinonim dan juga muncul dalam bagian “Kata Pengantar”. Kata yang dimaksud adalah panjatkan yang diambil dari kata panjat ‘naik’. Kehadiran kata panjat ini berkenaan dengan ritual yang pernah ada di Indonesia. Dahulu masyarakat Indonesia menganut kepercayaan animisme ‘kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dan sebagainya)’. Pada masa itu, masyarakat Indonesia menyembah pepohonan dan berdoa menengadah ke atas pohon dengan harapan, doa-doa tersebut naik ke atas pohon dan dikabulkan oleh benda (Tuhan) yang disembah tersebut. Oleh karena itu, dalam naskah-naskah lawas atau naskah-naskah lama, pernah muncul kalimat, “saya pohonkan kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

Ramlan (1983) pernah menjelaskan kehadiran kata mohon ini berkenaan dengan kata pohon. Penjelasan tersebut dapat dilihat juga dalam KBBI Edisi VI. Jika mencari kata pohon, kata ini muncul sebagai kata polisemi. Pertama, maknanya merujuk pada tumbuhan atau tanaman berkayu menahun yang tegak dan tinggi. Kedua, makna dijelaskan sebagai prakategorial. Prakategorial adalah sebuah bentuk yang akan memiliki kelas kata dan arti jika mendapatkan imbuhan. Pada makna kedua ini, kita diarahkan pada bentuk memohon dan memohonkan. Ketika mencari lema memohon, akan muncul kata dengan dua bentuk dasar. Bentuk dasar yang pertama adalah mohon yang bermakna ‘meminta dengan hormat’. Contohnya dapat dilihat pada kalimat, “Kami mohon maaf atas gangguan ini”. Sementara itu, bentuk dasar yang kedua adalah pohon yang bermakna ‘meminta dengan hormat’. Contohnya dapat dilihat pada “Mohon ampun kepada Allah”.

Analogi pohon ini juga yang menyebabkan pengguna bahasa Indonesia menggunakan kata panjat sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Panjat yang bermakna ‘naik’ dimaknai sebagai doa-doa yang disampaikan (naik) kepada Tuhan agar segera dikabulkan. Dengan demikian, penggunaan kata ke hadirat dan panjatkan ternyata dapat memunculkan persoalan-persoalan kebahasaan. Lalu, bagaimana cara mengatasi persoalan ini?

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Jika kita menelusuri lagi skripsi, tesis, dan disertasi; atau laporan penelitian yang memuat kata pengantar, terdapat sejumlah variasi yang sudah dipilih oleh masyarakat Indonesia untuk menggantikan kata ke hadirat, panjatkan, pohonkan, dan mohonkan. Berikut pilihan kalimat yang dimaksud.

(1) Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia yang diberikan.
(2) Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya.

Kata ucapkan dan sampaikan dipilih sebagai kata ilmiah untuk menggantikan kata panjatkan, pohonkan, dan mohonkan. Sementara itu, diksi kepada dipilih untuk menggantikan ke hadirat dan kehadiran. Dengan pilihan-pilihan tersebut, masalah kebahasaan yang berkenaan dengan panjatkan dan ke hadirat/kehadiran dapat diatasi. Memilih diksi yang tepat sangat perlu dilakukan dalam menulis karya ilmiah. Karya ilmiah mencerminkan keteraturan seseorang dalam berpikir dan mencerminkan kecendekiaan seseorang dalam memilih kata.

Halaman 2 dari 2
Prev12
Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Febrian Hidayat dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Sesudah

Cerita Pertama Kali Menyicip Kawa Daun

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata bantu dan tolong...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

Minggu, 07/6/26 | 22:48 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa waktu lalu, saya menyunting beberapa buku....

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Memahami Makna Peribahasa “Muluik Manih Kucindan Murah”

Senin, 01/6/26 | 08:57 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan)   Minangkabau memiliki banyak peribahasa. Peribahasa merupakan kelompok...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata kali dikenal...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Cerita Pertama Kali Menyicip Kawa Daun

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin rapat pertemuan lanjutan dengan Foshan Polytechnic, Selasa (7/7).

    Wali Kota Padang Kunjungi Fosan Polytechnic

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Teks, Ko-teks, dan Konteks dalam Wacana Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Ke Hadirat” dan “Kehadiran”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026