Sabtu, 17/1/26 | 02:20 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KREATIKA

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 30/6/24 | 04:50 WIB

“Maaf tadi aku nyusahin kalian, sampai kalian harus gotong aku tadi, hampir aja kita telat gara-gara aku” Ucap salah satu dari mereka. “Santai aja Lan, toh kita nggak bener-bener terlambat kan?” Ucap salah satu dari mereka, namanya Matahari, sama seperti namanya wajahnya selalu bersinar dan dia suka m engenakan pakaian warna terang. “Iya, lagian juga kau nggak seberat itu sih, malah ringan banget kalo menurutku” Kata temannya yang lain yang biasa dipanggil Bumi.

Anak terakhir namanya Bulan, anak yang jatuh tadi. Tiga anak itu adalah sahabat dekat yang selalu bersama sejak lima tahun yang lalu. Mereka dimasukkan kedalam pondok yang dipimpin oleh seorang kiai yang bernama K.H. Langit, kakek yang tadi mereka sapa. Bulan terdiam setelah mendengar perkataan Matahari dan Bumi tadi.

Malam hari setelah isya, Bulan duduk di bawah pohon mangga di samping musholla. Matahari dan Bumi sudah pergi mengaji, kelas malam mereka bertiga berbeda. Bulan masih memikirkan saat mereka hampir terlambat tadi, bukan soal kesalahannya, dia sudah cukup dewasa untuk mengerti hal tersebut. Dia memikirkan dirinya sendiri yang sepertinya selalu menjadi beban bagi Matahari. Selama ini dia selalu mengidolakan sahabatnya itu, tapi dia tidak pernah bisa menjadi seperti dia.

Seseorang berjalan menghampiri Bulan “Assalamualikum” “Waalaikumsalam, eh mbah yai” Bulan langsung berdiri dan menyalami Kiai Langit. “Sini duduk sama Mbah” Ajak Kiai Langit padanya, Bulan pun menurut. “Ono opo toh nduk, ket mau mbah nggate’ake, kok koyo ono mas’alah?[5]” Tanya Kiai Langit. “Ra nopo-nopo kok mbah6” Jawabnya menyembunyikan isi hatinya. Si Kiai hanya tersenyum “Ya sudah kalo memang tidak ada apa, sini coba mbah udah lama nggak nyoba ngelatih kalian bertiga silat, coba tes udah nambah berapa ilmunya” Ajak sang Kiai sembari berdiri lalu memasang kuda-kuda. Sesungguhnya Kyai Langit tahu apa yang mengganjal hati Bulan tapi ia biarkan sampai Bulan mau jujur sendiri.

BACAJUGA

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB
Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Setengah tahun berlalu, selama setengah tahun itu pula Bulan selalu mengelak setiap kali ditanya oleh Kiai Langit soal masalahnya. Malam ini malam kesekian sejak latihan silat khusus Bulan bersama Pak Kiai, setelah malam itu sang kiai selalu melatih bulan secara langsung hampir setiap malam. Sesekali diselingi dengan kegiatan lain seperti belajar memainkan wayang kulit, hadrohan atau hal lainnya. Malam dengan sabar sang Kiai menanyakan kembali masalah Bulan, dan entah alasan apa malam ini bulan menceritakan masalahnya atas rasa tidak percaya dirinya.

“Bulan, tidak apa jika engkau memiliki idola, tapi jangan sampai karena terlalu fokus pada idola kamu jadi terlalu banyak membanding-bandingkan dirimu dengan idolamu” Kiai Langit menasihatinya singkat, tapi entah karena kharismanya atau karena semua yang dikatakannya benar, Bulan tidak merasa sedang diomeli atau semacamnya. Dia termenung sejenak meresapi kata-kata gurunya tersebut.

Halaman 3 dari 9
Prev1234...9Next
Tags: Azwar Sutan MakalaBramstya Argadewa BRFLP SumbarKreatika
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Asyilah Nurhafidza dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Sesudah

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Berita Terkait

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB

  Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara Alienasi Hidup Kita hanya seorang pelancong Yang mengembara segala tempat Lalu tinggal – termenung Di...

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra Gambar Diri Ini gambar diri. Aku yang berjalan tak selalu lurus, kadang tersandung bayangan sendiri, cerobohku...

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 25/5/25 | 09:15 WIB

Seberkas Titik yang Masih Tertinggal Cerpen Oleh: Arifah Prima Satrianingrum   Siang itu, matahari dengan terik mengambang di Padang. Ruas-ruas...

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Minggu, 11/5/25 | 07:10 WIB

Puisi-puisi Farha Nabila   Kanak-Kanak dalam Diri Tatkala kutemukan diriku dalam relung kesepian Yang disana takkan kutemukan dengungan sumpah serapah...

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Minggu, 04/5/25 | 08:40 WIB

Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat Karya: Balqin Adzra   “Silahkan mampir! Kami mempunyai mochi varian baru!” teriak sang penjual...

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 27/4/25 | 16:31 WIB

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra   Merindu Nagari Nan Jauh Tiap langkah yang menapak Meninggalkan rindu yang menjejak Risau nan gulandah memenuhi...

Berita Sesudah
Metafora “Paradise” dalam Wacana Pariwisata

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024