Minggu, 30/11/25 | 20:57 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Sarkasme sebagai Cerminan Realitas Sosial dalam Lagu “Negeriku” Iwan Fals

Minggu, 07/4/24 | 12:49 WIB

Oleh: Jihan Putri Utami
(Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

 

Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa (Sumardjo dan Saini, 1997). Sastra juga merupakan sebuah ilmu yang istimewa  karena melalui sastra membuat kita dapat memahami dan merasakan pengalaman manusia yang beragam, serta membantu untuk memperluas pengetahuan tentang dunia dan diri sendiri. Sastra juga bisa dikaitkan dengan seni karena keduanya memiliki kesamaan sebagai bentuk pengekspresian emosi manusia dengan mengandalkan kreativitas dan imajinasi, salah satunya lagu.

BACAJUGA

Transformasi Timun Mas: dari Dongeng Menjadi Iklan Marjan

Transformasi Timun Mas: dari Dongeng Menjadi Iklan Marjan

Minggu, 22/12/24 | 12:46 WIB
Folklor Ilmu Batin dalam Kepercayaan Silek Kumango

Folklor Ilmu Batin dalam Kepercayaan Silek Kumango

Minggu, 03/12/23 | 07:57 WIB

Menurut Hardjana (1983), lagu adalah ragam suara yang berirama (dalam bercakap, menyanyi, dan membaca, dan sebagainya). Dalam penciptaan lagu sama halnya dengan penciptaan karya sastra yang di dalammnya terdapat ungkapan perasaan pribadi manusia, pengalaman, ataupun sebagai kritik terhadap fenomenal sosial yang ada dalam masyarakat. Karya sastra maupun lagu tidak lepas dengan gaya bahasa dan bagian dari proses kreatif yang menentukan nilai estetis dari sebuah karya dan keestetisan itu menjadi sebuah kekuatan. Gaya bahasa juga bukan sekedar saluran, tetapi alat yang menggerakkan sekaligus menyusun kembali dunia sosial (Jorgensen dan Philips, 2007).

Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal dengan Iwan Fals adalah salah seorang musisi legendaris Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 3 September 1961 merupakan penyanyi dengan aliran musik Balada, Pop, Rock, dan Country. Iwan Fals terkenal dengan karya-karyanya yang banyak memotret keadaan sosial Indonesia, seperti mengkritik perilaku sekelompok orang, empati terhadap kaum-kaum terpinggirkan, keadaan alam di Indonesia, bahkan lagunya yang berjudul “Bongkar” dan “Bento” sempat dilarang beredar dan ia pernah dipenjara selama dua minggu pada tahun 1984 karena membawakan lagu berjudul “Demokrasi Nasi dan Mbak Tini”.

Karya-karya Iwan Fals dalam mengkritik seringkali menggunakan gaya bahasa sarkasme yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir dan seringkali menyakiti hati dan kurang enak didengar (Keraf, 2009:143). Salah satu lagunya yang menggunakan gaya bahasa sarkasme adalah lagu berjudul “Negeriku” dalam album manusia setengah dewa. Dalam lagu ini Iwan Fals ingin menyampaikan keadaan sosial Indonesia secara terang-terangan meskipun menggunakan kata-kata kasar namun mudah dimengerti oleh pihak pendengar. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa bagian lirik lagu berikut:

Negeriku, negeri para penipu
Terkenal ke segala penjuru
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
Inilah sorga, sorganya sorga
Negeriku ngeriku

Busuk, busuk, busuk, busuk bangkai tikus
Yang mati karena dihakimi rakyat
Adakah akhirat menerima dirinya?
Adakah di sana
Yang masih bisa bercanda dengan rakus?

Negeriku, Iwan Fals (2004)

Dalam lirik dalam lagu tersebut terdapat kata-kata sarkastis. Lirik “Negeriku, negeri para penipu” adalah umpatan yang ditujukan untuk para pemimpin dan petinggi yang ada di Indonesia yang sering menipu rakyat dengan tindakan KKN. Iwan mengkritisi budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjamur di kalangan para pemimpin Indonesia. Mereka telah melupakan janji serta dan menghianati kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat. Hal ini tidak terjadi hanya pada saat Iwan menciptakan lagu tersebut dan terjadi berkepanjangan hingga saat ini walaupun sudah berganti generasi dan para pemimpin. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa yang dikritisi Iwan bukan hanya para pemimpin dan petinggi negara. Rakyat kecil juga sudah terjangkit KKN demi isi perut.

Selanjutnya, pada lirik “Tentu saja bagi yang tak tahu malu” merupakan sindiran Iwan terhadap sifat yang melekat pada para penipu negeri. Hal itu bisa disaksikan hingga saat ini bahwa para pelaku korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak memiliki rasa malu sedikitpun. Bahkan mereka masih bisa tersenyum bangga sambil melambaikan tangan pada kamera wartawan meskipun dalam keadaan tangan terborgol.

Begitu pun dengan lirik “Busuk, busuk, busuk, busuk bangkai tikus, yang mati karena dihakimi rakyat”, Iwan telah memberikan kiasan terhadap para penipu negeri dengan begitu rendah dan hina seperti bangkai tikus yang menjijikkan. Jika dilihat pada masa saat ini, jarang terjadi para penipu atau koruptor negeri ini yang dihakimi oleh rakyat seperti yang ada pada lirik lagu. Sebaliknya, yang terjadi justru rakyat yang dihakimi oleh para penipu hingga sengsara dan membusuk.

Hampir setiap lagu Iwan Fals menggunakan gaya bahasa sarksasme dalam upaya membangun kekuatan dan memberikan kritik terhadap isu sosial yang ada di Indonesia. Selain itu, gaya bahasa sarkasme yang khas dapat jadi penyokong semangat bagi para generasi muda , terutama para aktivis mahasiswa yang kritis terhadap keadaan sosial. Hal itu bisa diartikan bahwa gaya sarkasme yang digunakan sesuai dengan pernyataan Jorgensen dan Philips bahwa gaya bahasa adalah alat yang menggerakkan sekaligus menyusun kembali dunia sosial.

Tags: #Jihan Putri Utami
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Asonansi dalam Puisi “Dengan Puisi, Aku” Karya Taufik Ismail

Berita Sesudah

Pakaian, Kue, dan Hari Raya

Berita Terkait

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Minggu, 30/11/25 | 15:11 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Salah satu karya sastra tertua...

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Minggu, 23/11/25 | 06:57 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra dan Anggota Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas)   Musim gugur biasanya identik dengan keindahan....

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Minggu, 16/11/25 | 13:49 WIB

Oleh: Imro’atul Mufidah (Mahasiswa S2 Korean Studies Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)   Kebanyakan mahasiswa asing yang sedang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Budaya Overthinking dan Krisis Makna di Kalangan Gen Z

Minggu, 16/11/25 | 13:35 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di tengah gemerlap dunia digital dan derasnya...

Aspek Pemahaman Antarbudaya pada Sastra Anak

Belajar Budaya dan Pendidikan Karakter dari Seorang Nenek yang ‘Merusak’ Internet

Minggu, 16/11/25 | 13:27 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di ruang keluarga. Seorang nenek sedang...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Konflik Sosial dan Politik pada Naskah “Penjual Bendera” Karya Wisran Hadi

Minggu, 02/11/25 | 17:12 WIB

  Pada pukul 10:00 pagi, 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Berkat desakan dari golongan muda,...

Berita Sesudah
Jejak Cita Rasa dan Kebersamaan di Kedai Mamak

Pakaian, Kue, dan Hari Raya

Discussion about this post

POPULER

  • Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]

    PDAM Padang Kerahkan Mobil Tangki Gratis, Krisis Air Bersih Dipastikan Tetap Terkendali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Walikota Padang Desak PDAM Percepat Perbaikan IPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPW PKB Sumbar dan DKW Panji Bangsa Gerak Cepat Salurkan Sembako di Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana di Sumbar Terus Bertambah: 98 Meninggal dan 93 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Isu Pungutan Komite di MTsN Dharmasraya, Pihak Sekolah dan Komite Beri Penjelasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana Hidrometeorologi di Sumbar Terus Bertambah, Tercatat 129 Orang Meninggal Dunia dan 86 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024