Minggu, 30/11/25 | 20:56 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Folklor Ilmu Batin dalam Kepercayaan Silek Kumango

Minggu, 03/12/23 | 07:57 WIB

Oleh: Jihan Putri Utami
(Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Silek atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan nama silat merupakan kebudayaan cabang beladiri dan banyak berkembang di wilayah yang terdapat suku bangsa Melayu yakni seperti di Indonesia, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam hingga di daerah Kamboja. Silek merupakan seni bela diri yang berasal dan berkembang di Ranah Minang, Sumatera Barat. Beberapa aliran silek terdapat di Minangkabau salah satunya adalah aliran Silek Kumango.

Hendri (46) seorang anak dari seorang Tuo Silek mengatakan bahwa silek adalah membela diri. Perguruan silek yang didirikan oleh ayahnya bernama sasaran Silek Ujang Saiyo dengan aliran Silek Kumango di daerah Lubuk Minturun, Padang. Ia mengatakan bahwa Silek Kumango asal mulanya diciptakan oleh seorang tarekat sufi. Silek tersebut biasanya juga disebut dengan Silek Kampuang yang tidak dapat dipertandingkan seperti halnya silat nasional. Hal tersebut disebabkan oleh silek kampung memang digunakan sebagai ajang membela diri dan media untuk mencari persaudaraan.

Silek kampung aliran Kumango mengambil gerakan dari alam seperti kerbau, ayam, yang menjadi dasar falsafah “Alam takambang jadi guru”. Namun, gerakan yang paling dasar dari silek Kumango adalah gerakan yang diambil dari inyiak atau harimau. Dalam silek Kumango gerakan fisik hanyalah sebanyak 25% dan sisanya adalah kaji batin.

Hendri (45) juga memaparkan bahwa mendiang temannya yang merupakan pandekar Silek Kumango dari Agam memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi dan sering melakukan pertapaan di dalam gua sehingga bisa masuk ke dunia dua dimensi. Ketika sedang bertap,  ia dijemput oleh seseorang dengan mengendarai bendi yang juga merupakan seorang pendekar untuk masuk ke dalam Gunung Marapi. Di dalam Gunung Marapi ada sebuah dinding batu yang terdapat gambar gerakan-gerakan silek dan tari piring yang kemudian menjadi dasar keyakinan bahwa silek berasal dari Gunung Marapi. Murid silek pertama dari inyiak sang penunggu gunung Marapi adalah keturunan Sri Marajo Cadiak Palang Pandai.

BACAJUGA

Transformasi Timun Mas: dari Dongeng Menjadi Iklan Marjan

Transformasi Timun Mas: dari Dongeng Menjadi Iklan Marjan

Minggu, 22/12/24 | 12:46 WIB
Sarkasme sebagai Cerminan Realitas Sosial dalam Lagu “Negeriku” Iwan Fals

Sarkasme sebagai Cerminan Realitas Sosial dalam Lagu “Negeriku” Iwan Fals

Minggu, 07/4/24 | 12:49 WIB

Ketika seseorang bermain silek di tangah malam, inyiak datang melihat dan terkadang juga ikut bermain silek dengan para pandekar sebab gerakan yang dipakai adalah gerakan dari sang inyiak. Tanda inyiak ingin ikut bermain silek maka inyiak tersebut memberi isyarat dengan melemparkan pasir kepada sang tuo silek. Hal yang unik ketika bermain silek dengan inyiak adalah ketika pesilek jatuh maka punggungnya tidak pernah benar-benar menyentuh tanah melainkan hanya mengambang sejengkal dari tanah. Seorang pandekar yang memiliki ilmu kebatinan tinggi bisa menempuh perjalanan jauh dengan sangat cepat walau hanya dengan berjalan kaki berbekalkan kain sarung, Pendekar tersebut dipercayai telah digendong oleh inyiak menggunakan kain sarung yang ia bawa.

Sebelum seseorang belajar silek kampung, Hendri (45) menjelaskan bahwa calon murid harus memenuhi syarat tertentu yakni membawa beras dan kain putih atau kain kafan yang diberikan kepada sang guru yang tentu memiliki filosofi tersendiri. Lalu calon murid silek itu pergi ziarah ke makam tuo-tuo silek terdahulu dalam rangka menghormati sang guru dengan falsafah “turun anak dari ayunan, turun kaji dari guru” sebab jika tanpa adanya guru tidak mungkinlah seseorang dapat menjadi pandai.

Ketika sudah menjadi murid silek dan ingin mendapatkan gelar pandekar ada beberapa ujian yang harus di laksanakan, seperti bermain silek di atas sebatang bambu yang dihanyutkan dan telah di raut setipis mungkin hingga mendapat julukan “Alu tapijak patah tigo, ranting tapijak indak patah”. Sebelum melaksanakan latihan dan membuka sasaran (gelanggang) ada ritual pelimauan yaitu pembersihan gelanggang dengan berbagai macam doa agar mendapat berkah dari Latihan. Pendarahan dari darah ayam di sekitar gelanggang juga dilaksanakan yang disebut ilmu persaktian. Pendarahan itu bertujuan agar ilmu yang didapat lengket dan tidak hilang serta sebagai pelindung agar tidak terluka ketika terkena senjata saat Latihan. Apabila terluka, tanah yang telah diberi darah dapat dijadikan sebagai obat.

Ketika seseorang tuo silek yang sudah tinggi kekuatan fisiknya, yang dilakukannya adalah duduk mangaji, yaitu kaji batin atau olah batin. Dalam olah batin dan olah rasa, seorang pendekar silek menjadi sangat peka terhadap rasa dan lingkungan sekitar. Contoh sederhananya adalah ketika seorang pendekar berdiri di bawah pohon kelapa dan ia  mengetahui jika akan kejatuhan buah kelapa sehingga dapat menghindari. Selain itu ketika seorang pandekar atau tuo silek yang ma’rifat nya sudah tinggi bisa mengirim surat jarak jauh dengan cara memakai keris yang diberi asap kemenyan sehingga keris itu dapat berjalan atau terbang menuju si penerima surat.

Dalam Silek Kumango terdapat ilmu kebatinan yang disebut gayuang atau pukulan jarak jauh. Hal itu berarti bahwa jika ingin melukai seseorang tidak perlu berhadapan langsung dengan lawannya namun hanya melalui tikam jajak. Tikam jajak adalah media penyerangan dengan cara menikam bekas jejak kaki sang lawan sehingga di mana pun lawan berada akan terluka, bahkan terbunuh. Terdapat pula si gantuang bojo yakni ilmu kebatinan dengan menjadikan lawan tidak bisa bergerak layaknya patung ketika menyerang pandekar Silek Kumango. Ilmu kebatinan juga berguna untuk menyelamatkan diri dari kiriman orang yang malapeh kepandaian, seperti pisau yang dikirimkan oleh orang lain ke dalam tubuh seorang pandekar silek.

Semua kisah tentang silek di atas adalah bagian dari folklor. Folklor adalah sebagai kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja dalam Hutomo, 1991:5). Kepercayaan terhadap ilmu kebatinan dan sosok inyiak dalam silek Minangkabau yang penyebarannya melalui mulut ke mulut dan sebagian besar hanya diketahui oleh orang-orang dalam lingkup silek Minangkabau merupakan sebuah folklor. Kepercayaan itu membuat perkembangan dan ajaran silek di Minangkabau masih terjaga sampai sekarang ini.

 

Tags: #Jihan Putri Utami
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Smart Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Berita Sesudah

Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (2)

Berita Terkait

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Minggu, 30/11/25 | 15:11 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Salah satu karya sastra tertua...

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Minggu, 23/11/25 | 06:57 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra dan Anggota Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas)   Musim gugur biasanya identik dengan keindahan....

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Minggu, 16/11/25 | 13:49 WIB

Oleh: Imro’atul Mufidah (Mahasiswa S2 Korean Studies Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)   Kebanyakan mahasiswa asing yang sedang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Budaya Overthinking dan Krisis Makna di Kalangan Gen Z

Minggu, 16/11/25 | 13:35 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di tengah gemerlap dunia digital dan derasnya...

Aspek Pemahaman Antarbudaya pada Sastra Anak

Belajar Budaya dan Pendidikan Karakter dari Seorang Nenek yang ‘Merusak’ Internet

Minggu, 16/11/25 | 13:27 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di ruang keluarga. Seorang nenek sedang...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Konflik Sosial dan Politik pada Naskah “Penjual Bendera” Karya Wisran Hadi

Minggu, 02/11/25 | 17:12 WIB

  Pada pukul 10:00 pagi, 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Berkat desakan dari golongan muda,...

Berita Sesudah
Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (2)

Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (2)

Discussion about this post

POPULER

  • Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]

    PDAM Padang Kerahkan Mobil Tangki Gratis, Krisis Air Bersih Dipastikan Tetap Terkendali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Walikota Padang Desak PDAM Percepat Perbaikan IPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPW PKB Sumbar dan DKW Panji Bangsa Gerak Cepat Salurkan Sembako di Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana di Sumbar Terus Bertambah: 98 Meninggal dan 93 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Isu Pungutan Komite di MTsN Dharmasraya, Pihak Sekolah dan Komite Beri Penjelasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana Hidrometeorologi di Sumbar Terus Bertambah, Tercatat 129 Orang Meninggal Dunia dan 86 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Indonesia itu Mudah atau Sulit?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024