Senin, 31/8/26 | 01:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Pelecehan Berkedok Komedi

Minggu, 24/9/23 | 10:36 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Ketika sedang asyik berkeliling di Twitter, seringkali di waktu-waktu tertentu isinya dominan seputar film Indonesia yang sedang tayang dan begitu booming. Tidak sedikit cuitan dan utas yang mengulas film-film tersebut. Uniknya, ulasan itu seringkali hanya berisi pujian-pujian terkait seberapa bagus dan seberapa harus film karya anak bangsa itu ditonton.

Suatu kali, saya menonton sebuah film setelah sebelumnya membaca utas yang menyatakan film tersebut begitu bagus dan sangat layak ditonton. Kelar menonton, saya kurang setuju dengan ulasan di utas yang saya baca sebelumnya. Ada satu hal mengganjal dan cenderung menjijikan dalam film tersebut yang membuat tidak nyaman: candaan-candaan seksis.

Di Twitter, si sutradara cukup sering ikut nimbrung dan memberikan pembelaan pada korban bila ada kasus pelecehan seksual. Meski begitu, hal-hal seksis dalam karyanya justru luput ia singkirkan.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Di film itu terdapat tokoh perempuan yang berperan sebagai seorang sekretaris dan suka memakai baju seksi. Ketika tokoh ini muncul, selalu ditandai dengan slow motion dan laki-laki yang ngiler melihat payudaranya yang besar. Bahkan di salah satu adegan, seorang laki-laki tanpa sadar meremas-remas dada teman laki-laki yang ada di sebelahnya setelah bengong melihat si sekretaris. Ini tidak lucu, tetapi sebagian penonton tertawa karenanya.

Akhir-akhir ini algoritma YouTube membawa saya pada sebuah video bertujuan komedi namun ada dialog berupa pelecehan. Seperti biasa, sesi dalam channel itu dipandu oleh komika kenamaan asal Padang dengan bintang tamu kali itu komika asal Indonesia Timur. Di sesi itu mereka seolah bertukar posisi antara pembawa acara dengan bintang tamu. Lalu mereka membahas seorang perempuan bernama Yanti yang cukup menjadi sorotan dalam channel tersebut. Yanti biasanya disuruh membuat minuman dan makanan ala warung kopi di siniar itu.

Pembawa acara yang berpura-pura menjadi bintang tamu hendak membuat mi goreng. Lalu berkatalah komika yang menjadi bintang tamu sebenarnya, “Masak sendiri! Udah nggak ada Yanti. Tadi kusekap, dua ronde tewas.” Lalu seisi ruangan tertawa dengan riuh, seolah baru saja terlontar candaan cerdas, memukau, dan sangat amat lucu.

Cukup banyak komentar yang mengatakan bahwa itu bukan candaan yang patut ditertawakan, sebab itu adalah pelecehan. Lebih tepatnya, tidak seharusnya Yanti dijadikan bahan candaan seksis seperti demikian. Namun, selalu saja ada yang menentang pendapat yang kontra ini. Mereka menyerang dengan kata-kata seperti: “Ga usah didengar, ribet amat jadi manusia!”, “Kaku banget hidup lu, kayak kenebo kering!”, “Ribet amat jadi orang!”, “Gak suka skip aja!”, “Ga usah baper, namanya juga komedi!”

Plesetan seksual dalam suatu konten atau film serupa ini biasa disebut sexual innuendo. Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin sudah jengah dengan candaan-candaan seksis serupa dua kasus sebelumnya. Kita mungkin berharap karya kreatif seperti film dan konten di YouTube membawa lebih banyak angin segar dengan tidak mewajarkan atau menyelipkan plesetan seksual yang seksis dan merendahkan gender tertentu. Akan tetapi, menyaksikan suatu film dan konten rupanya malah membuat kita semakin gerah. Perasaan ini tidak bisa dibilang hanya ribet, baper, atau lebih baik melewatkan begitu saja tanpa perlu mengungkapkan kerisihan.

Bila memang punya kebedulian terhadap kekerasan dan pelecehan seksual, setidaknya berhentilah memproduksi candaan pelecehan berkedok “Ah, cuma bercanda, ga usah baper”. Alangkah lebih baik bila sexual innuendo tidak diselipkan dalam suatu konten, bahkan sekadar dalam tongkrongan sekalipun.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi R.S. Mila dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Sesudah

Caleg di Angkot

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Berita Sesudah
Caleg di Angkot

Caleg di Angkot

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ibu Kota Nusantara (IKN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026