Rabu, 03/6/26 | 06:05 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Disrupsi dan Suksesi Tampuk Kepemimpinan

Kamis, 24/8/23 | 06:58 WIB

Oleh: Sigit Surahman
(Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan
Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta)

 

Situasi politik dan persaingan antarkandidat capres semakin ketat dalam suksesi kepemimpinan Indonesia. Wacana koalisi makin merapat dan saling memikat. Selalu ada kemungkinan pilpres 2024 masih dapat berubah. Oleh karena itu, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang kontestasi para capres, antara Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan dalam Pilpres 2024 di Indonesia.

BACAJUGA

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Namun, dalam waktu yang bersamaan menjelang pilpres 2024 ini, saya sedang menyelesaikan disertasi tentang suksesi di Kesultanan Yogyakarta dari lensa Max Weber dan Muzafer Sherif (tokoh Sosiologi) di bawah arahan Prof. Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si.,  Dr. Fahrudin Faiz., M.Ag., dan Dr. Ridzki Rinanto Sigit, M.M. Disertasi ini memberikan gambaran suksesi dalam sebuah organisasi kepemimpinan tradisional, yaitu Kesultanan Yogyakarta. Berkaitan dengan itu, pemerintahan di Nusantara pada masa kolonial atau era klasik yang beberapa kerajaan dipimpin oleh ratu. Contohnya adalah Kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh Ratu Sima pada abad ke-7 hingga ke-8, Tribuana Tunggadewi dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, dan Ratu Kerajaan Demak pada abad ke-16 seperti Ratu Kalinyamat.

Artikel ini juga menyajikan perubahan dalam sistem pemerintahan akibat interaksi dengan kekuatan kolonial Belanda. Pada masa kolonial, kerajaan-kerajaan di Jawa berada di bawah penguasaan Belanda, yang mempertahankan simbol kekuasaan namun menentukan keputusan penting. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sistem pemerintahan berubah secara radikal menjadi republik demokrasi. Namun, meskipun peran politik kerajaan berkurang seiring berjalannya waktu, beberapa kerajaan masih mempertahankan peran sosial dan kebudayaan dalam masyarakat.

Dalam konteks Yogyakarta, tradisi suksesi gender mengalami perubahan dengan dikeluarkannya sabda dan dawuh oleh Sri Sultan HBX. Penggunaan kekuasaan oleh penguasa kerajaan seperti Sri Sultan HBX memiliki peran ganda sebagai kepala daerah dan raja. Sabda dan dawuh raja menjadi penting dalam memberikan arahan dan otoritas kepada masyarakat.

Pengangkatan GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi melalui sabda dan dawuh Sri Sultan HBX memiliki dampak signifikan dalam struktur kekuasaan dan pewarisan takhta di Kesultanan Yogyakarta. Namun, keputusan ini juga memicu pro dan kontra di masyarakat, terutama di kalangan keluarga keraton dan abdi dalem. Beberapa kelompok mendukung perubahan tersebut, sementara yang lain menolaknya.

Sabda dan dawuh adalah pondasi perubahan dalam Kesultanan Yogyakarta. Dua konsep ini mengilhami pemimpin dan masyarakat untuk tetap menghormati nilai-nilai budaya sambil mengakomodasi perubahan zaman. Melalui pesan dan nasihat ini, kesultanan tidak hanya mengembangkan identitas yang kuat, tetapi juga menjalankan peran aktif dalam menciptakan perubahan positif yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan. Sabda dan dawuh adalah suara yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Kesultanan Yogyakarta.

Kesultanan Yogyakarta menjalankan prinsip kontinuitas dan inovasi melalui konsep sabda dan dawuh. Kontinuitas terletak dalam warisan nilai-nilai yang diwariskan dari masa lalu, sementara inovasi tercermin dalam bagaimana nilai-nilai tersebut diaplikasikan dalam konteks modern. Pemimpin kesultanan tidak hanya menghormati sabda dan dawuh yang ada, tetapi juga mengambil inisiatif untuk menerjemahkan pesan-pesan tersebut ke dalam tindakan nyata yang relevan dengan perubahan zaman.

Peristiwa sabda dan dawuh Sri Sultan HBX dapat dijelaskan dalam konteks konsep Max Weber tentang kekuasaan, otoritas, dan legitimasi. Penggunaan kekuasaan dan otoritas oleh Sri Sultan HBX dalam mengambil keputusan mengenai suksesi takhta menggambarkan perubahan sosial dan tuntutan zaman. Artikel ini menggunakan lensa Teori Organisasi Weber dan Social Judgment Theory Muzafer Sheriff. Penggunaan konsep tersebut menciptakan konsep baru yang disebut dengan “Power and Social Appraisal” yang menggambarkan interaksi antara kekuasaan, otoritas, legitimasi, dan penilaian sosial dalam komunikasi. Power and Social Appraisal menggambarkan bagaimana masyarakat menilai kekuasaan Sultan dan bagaimana hal itu mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial dalam dinamika Kesultanan Yogyakarta. Perubahan menjadi hal mendasar dan tidak terelakkan. Penerimaan atau penolakan terhadap suksesi takhta dipengaruhi oleh penilaian sosial terhadap kekuasaan dan otoritas Sri Sultan HBX.

Wawasan baru tentang kekuasaan dan otoritas dalam pandangan masyarakat mempengaruhi komunikasi dan persepsi sosial. Dalam konteks Kesultanan Yogyakarta, perubahan tersebut menjadi tantangan dan peluang untuk memahami perubahan dalam pandangan terhadap otoritas tradisional. Dengan demikian, komunikasi kekuasaan dapat menjadi kunci untuk mengelola perubahan sosial yang substansial dalam masyarakat.

Tags: #Sigit Surahman
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Festival Pasir Pantai Haeundae

Berita Sesudah

Suatu Siang di Malioboro

Berita Terkait

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

Minggu, 31/5/26 | 23:11 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   "Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah

Suatu Siang di Malioboro

Discussion about this post

POPULER

  • Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

    Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disana atau Di sana?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026