Sabtu, 18/4/26 | 21:15 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Kalau Bisa Nanti, Kenapa Harus Sekarang?

Minggu, 06/8/23 | 12:19 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Terkadang bikin jengkel dan menyebalkan, bila sebuah urusan yang harusnya bisa selesai cepat tapi dibikin lambat. Urusan yang harusnya terjadwal selesai dalam hitungan jam, namun harus selesai esok. Terlebih menyebalkan, bila semua urusan hari itu tidak dapat diselesaikan sesuai standar waktunya dengan berbagai alasan yang “bertele-tele”. Istilah lainnya “kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang?”.

Mungkin saja pada saat mengurus hal itu, kita sudah meluangkan waktu dan menyesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan. Tidak menutup kemungkinan pula, jika yang berurusan itu ada yang harus izin dari pekerjaannya. Bila tidak dapat selesai sesuai jadwal yang telah ditetapkan, tentu harus mengajukan izin lagi sampai urusan tersebut terselesaikan.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Urusan di sini maksudnya dalam banyak hal. Begitu pula dengan standar waktu yang ditetapkan itu dari berbagai sudut pandang pula. Baik itu individu dengan lembaga/instansi, maupun antar individu.

Misalnya berurusan pada sebuah lembaga atau instansi, tentu ada papan informasi yang menjelaskan estimasi waktu layanan tersebut. Untuk satu urusan tertentu dapat diselesaikan dalam hitungan jam, seperti satu, dua, atau sampai tiga jam. Bisa juga urusan tersebut terselesaikan dalam hitungan hari atau minggu.

Bagi saya adanya informasi mengenai estimasi waktu lamanya sebuah urusan itu selesai tentu sangat diperlukan. Apalagi jika di papan informasi atau laman resmi instansi atau lembaga tersebut juga memberikan informasi lengkap dan detail tentang prosedur layanannya, sungguh sangat membantu.

Tidak hanya itu, bagi yang ingin berurusan pun dapat mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Nantinya, saat berada di kantor lembaga atau instansi tersebut semua yang dipersyaratkan sudah tersedia. Tentu saja ini akan menjadikan proses layanannya menjadi efektif dan efesien.

Lain lagi ceritanya bila berkaitan dengan antar individu. Misalnya, jika itu urusan pribadi berupa janji untuk membayar hutang dan harus bertemu di tempat tertentu, maka hasilnya tentu harus sesuai dengan yang telah disepakati. Jangan sampai yang menagih sudah menunggu, malah yang ditangih masih otw sejak sejam yang lalu. Padahal jarak yang ditempuh tidak lebih dari sepuluh kilo meter.

Saya jadi teringat suatu momen betapa lucunya istilah “kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang?”. Terkadang sesuatu yang ditunda itu tidak selalu buruk, bahkan dapat mendatangkan kebaikan. Saat itu, teman itu berujar kalau dalam hal tertentu jangan terburu-buru, bahkan lebih baik diperlambat atau ditunda.

Saat itu, saya cukup heran dengan pernyataanya itu dengan topik pembicaraan kami yang sepakat bahwa selesai tepat waktu itu penting. “Untuk hal menghambur-hamburkan uang, kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang? begitu ujarnya sambil cekikikan. Saya masih ingat raut muka cekikikan yang menyebalkan itu.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dari Cikini ke Gondangdia

Berita Sesudah

Cerpen “Pulang ke Rahim Ibu” Karya Amalia Aris Saraswati dan Ulasannya oleh Azwar, M.Si.

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Cerpen “Pulang ke Rahim Ibu” Karya Amalia Aris Saraswati dan Ulasannya oleh Azwar, M.Si.

Cerpen "Pulang ke Rahim Ibu" Karya Amalia Aris Saraswati dan Ulasannya oleh Azwar, M.Si.

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Konsep Metafungsi dalam Wacana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harimau vs Singa, Siapa yang Lebih Kuat? Ini Fakta Sains dan Kasus Nyatanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemikiran Halliday tentang Semiotika Sosial dalam Ilmu Bahasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026