Kamis, 15/10/26 | 00:06 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Budaya Ketupat pada Hari Raya Idulfitri di Indonesia

Minggu, 07/5/23 | 08:28 WIB

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro
(Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Ketupat adalah makanan yang sangat terkait dengan perayaan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Idulfitri atau Hari Raya Idulfitri sendiri berasal dari kata “fitr” yang berarti kembali fitrah, yakni kembali kepada kesucian dan kemurnian hati setelah melewati bulan suci Ramadan yang penuh dengan ibadah, puasa, dan pengorbanan. Hari Raya Idulfitri dirayakan pada hari pertama bulan Syawal dalam kalender Hijriyah setelah selesai menjalankan ibadah puasa Ramadan.

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ketupat dan Idulfitri memiliki sejarah panjang di Indonesia. Sejarah ini bermula dari masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke-13. Tradisi ketupat dan Idulfitri sudah ada sejak zaman kerajaan Islam di nusantara. Pada zaman itu, kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Banten, dan Mataram memperingati Idulfitri dengan cara menggelar berbagai acara seperti pentas seni dan budaya serta membagikan makanan ketupat kepada rakyat miskin. Selain itu, ketupat dianggap sebagai makanan yang praktis dan mudah disimpan untuk para pejuang Islam yang sedang dalam perjalanan untuk berperang melawan penjajah.

Seiring dengan perkembangan zaman, ketupat semakin populer di Indonesia dan berkembang menjadi makanan khas yang dikonsumsi saat Idulfitri. Ketupat kini bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Ketupat diperkirakan berasal dari tradisi masyarakat Arab yang menyajikan nasi dalam daun kelapa sebagai hidangan yang mudah dibawa saat melakukan perjalanan jauh. Ketupat kemudian dikenal sebagai bagian dari budaya makanan Indonesia.

Ketupat adalah nasi yang dimasak dalam anyaman daun kelapa yang kemudian dipotong-potong menjadi segitiga dan disajikan dengan berbagai macam hidangan, seperti opor ayam, rendang, dan sambal goreng. Setiap rumah pada Hari Raya Idulfitri pasti akan membuat ketupat untuk disajikan bersama hidangan khas Idulfitri lainnya. Bahkan, di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatra, ada tradisi saling bertukar ketupat antara tetangga dan kerabat sebagai bentuk silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan.

Terdapat beberapa alasan ketupat menjadi makanan yang populer saat Idulfitri di Indonesia. Pertama, ketupat mudah disimpan dan dapat disimpan dalam waktu yang lama tanpa perlu khawatir akan rusak atau basi. Ketupat juga terbuat dari daun kelapa dan beras yang mudah didapat sehingga ketupat menjadi makanan yang mudah dibuat dan populer.

Kedua, ketupat memiliki makna filosofis yang dalam, yang melambangkan kesucian, persatuan, dan kerendahan hati. Bentuk ketupat yang segi tiga melambangkan tiga unsur pokok kehidupan, yaitu manusia, alam, dan Tuhan. Kemudian ketupat juga melambangkan persatuan karena  terdiri dari banyak anyaman daun kelapa yang menyatu dan tidak bisa dipisahkan. Dalam hal ini, ketupat menjadi simbol persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan sosia dari masyarakat Indonesia yang beragam. Dalam tradisi Islam, ketupat dianggap sebagai simbol bulan Ramadan yang penuh dengan puasa, kesabaran, dan pengorbanan.

Ketiga, ketupat merupakan salah satu bentuk  budaya saling berbagi makanan pada saat Idulfitri dan memperkuat tali persaudaraan. Bentuk segiempat ketupat berasal dari cara pembungkusannya yang terbuat dari daun kelapa yang dilipat dan didinginkan pada keempat sudutnya. Bentuk segiempat memudahkan proses pembungkusan ketupat karena daun kelapa dapat dilipat dan dibentuk dengan mudah, dan membuat ketupat dapat diletakkan secara rapi dan aman saat proses pemasakan. Selain itu, bentuk segi empat juga memudahkan dalam penyimpanan dan transportasi. Ketupat yang berbentuk segiempat dapat disusun dalam tumpukan secara rapi dan dapat diangkut dengan mudah. Oleh sebab itu, bentuk segiempat menjadi bentuk tradisional yang populer dan dipertahankan dalam pembuatan ketupat di Indonesia. Bentuk segiempat juga dianggap memiliki nilai filosofis yang mendalam dan melambangkan kesucian serta keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan.

Terkait dengan bentuknya, ketupat biasanya berbentuk segiempat. Namun, di beberapa daerah di Indonesia terdapat juga ketupat bulat atau ketupat segitiga. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk ketupat dapat berbeda-beda tergantung pada kebiasaan dan tradisi masyarakat setempat. Secara mayoritas, ketupat di Indonesia umumnya dibuat dalam bentuk segiempat. Ketupat segiempat lebih mudah dibuat dan diikat dengan daun kelapa dibandingkan dengan bentuk segitiga atau bentuk lainnya. Ketupat segiempat memiliki bentuk yang rapi dan mudah dipotong menjadi bagian-bagian yang sama besar sehingga lebih mudah untuk dibagikan dan disajikan saat berkumpul dengan keluarga saat Idulfitri. Kemudian, bentuk segiempat juga memiliki arti simbolis dalam kebudayaan Indonesia yang melambangkan kesempurnaan, keharmonisan, dan ketertiban. Oleh sebab itu, ketupat segiempat dianggap sebagai makanan yang membawa keberuntungan dan kesuksesan, serta melambangkan persatuan dan kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat Indonesia.

Tidak mengherankan jika ketupat menjadi makanan yang sangat populer pada saat Idulfitri di Indonesia. Hingga saat ini, tradisi memasak ketupat untuk perayaan Idulfitri masih dilestarikan masyarakat Indonesia dan menjadi bagian penting warisan budaya Indonesia.

Tags: #Roma Kyo Kae Saniro
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Film Buya Hamka antara Dedikasi dan Ruang Hampa

Berita Sesudah

Kombinasi Afiks me–kan

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Ria Febrina

Kombinasi Afiks me–kan

Discussion about this post

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026