Senin, 06/7/26 | 22:04 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Nasib Mapel Sejarah dalam Kurikulum Merdeka

Minggu, 15/1/23 | 09:12 WIB

Oleh: Vidya Putri Kartini
(Mahasiswa S-2 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta)

 

Kemendikbudristek meluncurkan kurikulum baru dalam rangka masa khusus pandemi Covid-19, yaitu Kurikulum Prototipe atau Kurikulum Merdeka. Latar belakang diberlakukannya kurikulum ini adalah keadaan Covid-19 yang mengharuskan pembelajaran dilakukan dengan sistem daring memanfaatkan Google Meet, Zoom ataupun Google Classroom. Dampak adanya kondisi ini adalah rendahnya daya tangkap siswa bila dibandingkan dengan tatap muka. Kondisi ini menyebabkan adanya loss learning secara signifikan.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Pemerintah melalui keputusan Mendikbudristek No. 56 Tahun 2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran memberikan tiga pilihan bagi satuan pendidikan. yaitu Kurikulum 2013 dengan KI dan KD secara penuh, Kurikulum 2013 dengan KI dan KD yang telah disederhanakan dan Kurikulum Merdeka. Tiga kurikulum inilah yang akan dilaksanakan selama tahun 2022 hingga 2023 setelahnya akan dievaluasi menentukan kurikulum nasional.

Karakteristik Kurikulum Merdeka menekankan pada materi esensial dan fleksibilitas dalam menyusun rencana pembelajaran. Pada Kurikulum Merdeka, peminatan dilakukan di kelas XI. Selanjutnya, tidak ada lagi istilah jurusan melainkan mata pelajaran dari IPA, IPS, dan Bahasa. Siswa diberi kemerdekaan dalam memilih mapel yang diambil. Sebagai contoh Siswa A ketika kelas XI dan XII memilih mapel Biologi, Kimia, dan Ekonomi. Hal tersebut dapat terjadi.

Kebebasan dalam memilih mata pelajaran akan berimbas pada hilangnya jam mengajar apabila peminat pelajaran sedikit. Salah satu yang terdampak dari adanya Kurikulum Merdeka adalah mata pelajaran (mapel) sejarah. Sebelumnya pada Kurikulum 2013, sejarah terbagi atas dua mata pelajaran, yaitu Sejarah Indonesia sebagai mata pelajaran wajib dan Sejarah Peminatan sebagai mapel peminatan IPS.

Pada Kurikulum Merdeka, pelajaran Sejarah Indonesia dan Sejarah Peminatan dialihkan menjadi mata pelajaran “Sejarah” dan masuk dalam mapel umum. Secara kalkulasi, pada Kurikulum 2013, jam pelajaran Sejarah Indonesia adalah 2 JP dalam satu minggu, sedangkan Sejarah Peminatan adalah 3 JP pada kelas X, dan 4 JP pada kelas XI dan XII, sedangkan pada Kurikulum Merdeka jam Sejarah hanya 2 JP dalam satu minggu.

Kondisi ini akan sangat berimbas pada jam mengajar guru Sejarah. Problem akan semakin rumit apabila ada beberapa guru Sejarah harus kehilangan jam apabila berebut antara GTT dan PNS. Pasalnya syarat 24 jam berlaku, baik untuk GTT maupun PNS sebagai syarat gaji untuk GTT maupun tunjangan profesi bagi PNS.

Pemerintah memberikan solusi dari permasalahan ini, yakni dengan tambahan mengajar seperti sebagai koordinator projek penguatan profil Pelajar Pancasila. Setiap kebijakan pasti ada plus dan minus. Meskipun demikian, kita harus mendukung Kurikulum Merdeka walaupun dengan segala realita yang dihadapi.

Tags: #Vidya Putri Kartini
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Duka Cita atau Dukacita?

Berita Sesudah

Puisi-puisi Najwa Ramadhana dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Najwa Ramadhana dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi Najwa Ramadhana dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Politisasi SK di Tubuh Organisasi Garuda KPP-RI Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026