Selasa, 09/6/26 | 20:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Dolar

Minggu, 08/1/23 | 08:24 WIB

 

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Saya terkesima mendengar pembicaraan di sebuah lapau. Tanpa disadari pembicaraan itu menahan saya duduk berlama-lama di lapau itu. Kopi mulanya hangat mulai dingin, lontong pun hanya tinggal kuah, tapi saya tetap duduk di sana.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Topik pembicaraannya biasa saja, seperti kebiasaan obrolan di lapau. Isu-isu teraktual, pastinya seputar informasi politik, ekonomi, dan kriminal. Setidaknya, itu yang saya dengar selama menyantap sarapan pagi kala itu. Namun, ada pembicaraan yang mampu menghentikan suapan lontong. Bukan topiknya,  tapi cara penyampaian yang mengesankan. Ekspresi itu sulit untuk dilupakan.

“Sebenarnya siapa korban lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar?” Begitu tanya seorang pengunjung lapau. Seorang lelaki paruh baya yang duduk di sudut meja. Jika menoleh ke depan, dia tepat berada di ujung meja tempat saya duduk.

“Tentu saja kita, rakyat berderai ini!” Sambil menepuk meja rekan yang duduk di sebelah kanan menjawab dengan nada tinggi pula. Bukannya saling emosi, justru memicu gelak tawa rekan lainnya.

“Coba pikirkan lagi. Apakah kita selama ini membeli kebutuhan pokok menggunakan dolar? Membeli sayur, beras, ikan, kentang, dan lainnya.” Sambung lelaki paruh baya tadi. Semua terdiam dan tak satu pun menyanggah. Saya pun tertegun memahami pertanyaan itu.

Selang berapa menit, seorang rekan lelaki paruh baya memperlihatkan headline berita koran pagi itu. Pada halaman depan tertulis judul berita “Rupiah Makin Melemah, Ini Dampak Buruk yang Harus Diatasi”. Hal itu membuat hening seketika.

Lelaki itu menjelaskan apa yang ia baca. Ternyata mengundang berbagai pertanyaan dari rekannya. Koran itu kembali diletakan di sudut meja, tepat di samping saya. Saking penasaran, saya pun perlahan mengambil dan membaca berita tersebut.

Lelaki paruh baya tadi kembali menjelaskan tentang ketergantungan terhadap dolar. Di akhir penjelasan, ia menyampaikan tentang kemandirian bangsa. “Jika ingin jadi bangsa yang maju, maka mandiri.” Secara berulangkali ia sampaikan sebelum menutup penjelasan.

Bagi saya ini sungguh nasihat yang patut direnungkan. Kemandirian menjadi salah satu kunci menjadi bangsa besar. Begitu maksud dari penyampaiannya. Paling tidak, ia ingin menyampaikan dampak dari lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Hal itu disebabkan belum adanya kemandirian dari berbagai hal dan ini bukan persoalan mudah.

“Berapa semuanya?  Dua buah goreng pisang, satu batang rokok kretek, dan segelas kopi.” Tanya lelaki paruh baya itu pada pemilik lapau. “Sepuluh ribu.” Jawab pemilik lapau. Jawaban itu membuat lelaki itu terkejut.

“Samuanya sudah naik, harga minyak naik, rokok naik, terpaksa dinaikan pula sedikit harga dagangan kita.” Jawab pemilik lapau. Jawaban itu ternyata mengundak gelak tawa semua pengunjung lapau, termasuk lelaki paruh baya itu.

“Sudah kita, ternyata sampai ke sini juga dampak kuatnya dolar ini.” Ujar lelaki paruh baya itu sambil cengengesan mengeluarkan pecahan sepuluh ribuan dari saku celana. Ia pun berpamitan ke semua rekan sebelum meninggalkan lapau.

Sungguh momen berharga dari sebuah pembicaraan menarik. Tentu saja harus direnungkan. Sudah seberapa mandiri kita saat ini?

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Konstruksi Perempuan dalam Iklan Rabbani Kerudung

Berita Sesudah

Definisi Kata Lucu bagi Perempuan

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Berita Sesudah
Berbagai Istilah Sebutan untuk Manusia

Definisi Kata Lucu bagi Perempuan

Discussion about this post

POPULER

  • Operasi Patuh Singgalang 2026 di Pariaman Ditunda, Polisi Tunggu Instruksi Mabes

    Operasi Patuh Singgalang 2026 di Pariaman Ditunda, Polisi Tunggu Instruksi Mabes

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Soroti Usulan Larangan BBM Subsidi bagi Kendaraan Menunggak Pajak: Fokus Awasi Mafia BBM, Bukan Membatasi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RSAM Bukittinggi Butuh 500 Kantong Darah per Bulan, Golongan AB Paling Langka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026