Kamis, 22/10/26 | 00:59 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Mengenal Predikasi dan Struktur Argumen dalam Klausa/Kalimat

Minggu, 13/11/22 | 07:00 WIB

Oleh: Mita Handayani
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Linguistik FIB Universitas Andalas)


Pelajarilah olehmu
 bahasa, niscaya kamu akan mengetahui (sebagian hakikat) manusia. Pesan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Jufrizal, M.Hum. seorang linguis asal Sumatera Barat dalam bukunya yang berjudul “Tata Bahasa Minangkabau”. Agar dapat berbahasa, seseorang harus memahami bunyi, kata, frasa, klausa, dan kalimat. Hal itu agar pembelajar bahasa dapat mengaplikasikannya dalam tulisan maupun tuturan.

Kali ini saya akan membahas tentang predikasi dan struktur argumen dalam sebuah kalimat yang merupakan ranah kajian  sintaksis. Dalam ilmu kebahasaan, istilah predikasi setara dengan proposisi. Proposisi merupakan bongkahan kata yang memiliki makna. Kac dalam Jufrizal (2013: 99) telah menjelaskan bahwa predikasi adalah konstruksi dalam bentuk klausa (kalimat sederhana) yang terdiri atas predikat dan argumen-argumennya. Apa pun bahasanya, wujud ideal sebuah klausa tersusun atas unsur-unsur yang mempredikati (predicating elements) dan unsur-unsur yang bukan mempredikati (non-predicating elements). Van Vallin Jr dan Lapolla telah membuat sebuah rumus untuk mengetahui struktur klausa ini. Formula tersebut yakni argumen inti + predikat + bukan argumen inti.

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Secara sederhana, argumen bisa dipahami sebagai “teman-teman predikat”. Argumen inti terdiri dari subjek (S), objek langsung (OL) dan objek tidak langsung (OT). Sementara itu, yang bukan argumen inti diisi oleh adjungta, oblik, dan preposisi. Keberadaan bukan argumen inti adalah manasuka. Artinya, kehadirannya boleh ditiadakan atau tidak wajib hadir. Jika bukan argumen inti tidak dilibatkan dalam sebuah kalimat, kalimat tersebut tetap dapat dipahami.

Predikasi sangat berkaitan erat dengan valensi. Dalam ilmu linguistik, valensi berbicara tentang sejauh mana kemampuan verba (yang menempati unsur predikat) mampu mengikat argumen-argumennya. Oleh sebab itu, yang menjadi sentra dalam ruang lingkup ini adalah predikat. Jenis predikat akan menentukan apa dan berapa banyak argumen yang akan hadir. Dalam dunia sintaksis, dikenal dua jenis verba secara umum. Kedua verba tersebut adalah verba intransitif dan verba transitif. Verba intransitif adalah verba yang tidak menuntut kehadiran objek. Sementara itu, verba transitif adalah verba yang menuntut kehadiran objek. Di sisi lain, Van Vallin Jr. dan LaPolla dalam Yusdi (2012:208) mengemukakan bahwa ada tiga jenis verba, yakni verba intransitif, monotransitif (ekatransitif), dan bitransitif (dwitransitif).

(2a) I believe. (saya percaya)

(2b) Mamak mamakai sarawa randai. (Paman memakai celana randai)

(2c) Pak Juprianto mengajarkan bahasa Inggris pada mahasiswa minggu kemarin.

Klausa pada (2a) adalah contoh dari verba intransitif. Ciri verba ini adalah menginginkan kehadiran satu argumen inti. Dalam hal ini, argumen yang diikat adalah subjek (I). Kemudian, verba believe juga tidak menuntut kehadiran objek. Maksudnya, klausa ini tetap dapat dipahami pembaca/pendengar meskipun tidak ada objek yang mengikutinya. Kalimat (2b) adalah contoh dari verba monotransitif (ekatransitif). Verba ini menuntut kehadiran dua argumen inti. Hal ini dapat terjadi karena adanya pemarkahan morfologi prefix ma– dalam verba mamakan (memakan). Kondisi morfologis menaikkan ketransitifan verbanya. Oleh sebab itu, verba mamakan menuntut kehadiran dua argumen inti, yakni subjek (mamak) dan objek (sarawa randai). Verba jenis ini sangat menuntut hadirnya sebuah objek. Apabila objek tidak dilibatkan, akan menimbulkan keambiguan dalam pemaknaan.

Sementara itu, kalimat (2c) berjenis verba bitransitif/dwitransitif meminta kehadiran tiga argumen inti. Adanya pemarkahan morfologis afiks me– dan –kan pada kata mengajarkan menyebabkan hadirnya argumen inti berupa subjek (Pak Juprianto), objek langsung (bahasa Inggris) dan objek tidak langsung (mahasiswa). Dalam kasus ini, turut pula hadir yang bukan argumen intim, yaitu adjungta (minggu kemarin).  Frasa minggu kemarin hanyalah sebuah bentuk keterangan waktu (adverb of time) tentang kapan kejadian itu terjadi. Jika frasa ini dihilangkan, kalimatnya tetap bisa dimaknai.

Sebenarnya, posisi predikat tidak hanya dapat diisi oleh verba, tetapi juga bisa ditempati oleh nonverba seperti adjektiva, nomina, pronominal, numeral, dan prepoposional. Untuk lebih lanjut, masing-masing predikat nonverba tersebut akan digambarkan dalam bahasa Minangkabau berikut ini:

(3a) Mamak bangih cako (Paman marah tadi)

(3b) Anaknyo tukang angkek di Pasa Aua. (Anaknya kuli di Pasar Aua)

(3c) Rumahnyo ampe. (Rumahnya empat)

(3d) Sumando di rumah. (Semenda di rumah)

Dalam contoh (3a), predikat diisi oleh adjektiva (bangih/marah). Predikat pada (3b) diisi oleh nomina (tukang angkek/kuli). Kemudian, posisi predikat pada (3c) ditempati oleh numeral (ampek/empat) dan (3d) adalah predikat prepoposional (di rumah).

Keterikatan informasi antara predikat (verba/nonverba) dan argumen-argumennya akan membentuk sebuah struktur argumen. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, argumen ini terdiri dari argumen inti (subjek, objek langsung dan objek tidak langsung) dan bukan argumen inti (adjungta, oblik dan preposisi). Konstruksi klausa/kalimat dari predikat beserta teman-temannya ini yang akan membentuk suatu informasi utuh yang dinamakan sebagai struktur argumen.

Demikian ulasan tentang predikasi dan struktur argumen dalam klausa/kalimat. Ternyata, belajar sebuah bahasa tidak sesulit itu ya, Sobat Bahasa. Intinya, pembelajar bahasa harus mengerti  poin-poin kunci saat mempelajari sebuah bahasa. Apabila hal ini sudah dilakukan, belajar bahasa terasa lebih menyenangkan. Lain kali, kita akan bahas hal-hal menarik lainnya terkait dengan ilmu kebahasaan.

Tags: #Mita Handayani
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mitos Menstruasi hingga Kini

Berita Sesudah

Imbuhan –isme dan Maknanya

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Berita Sesudah
Menilik Penggunaan Kata Paracetamol dan Parasetamol

Imbuhan –isme dan Maknanya

Discussion about this post

POPULER

  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Asap Karhutla, Nakes di Dharmasraya Diminta Jemput Bola Tangani Pasien ISPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bagikan Masker di Lubuk Alung, Firdaus: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Evaluasi Kinerja Perumda Tirta Solok Nan Indah, Bupati Solok Bidik 30.000 Pelanggan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026