Rabu, 22/7/26 | 05:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Cerita Anak: Hutan yang Sebetulnya Kusut

Minggu, 23/10/22 | 12:01 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Herdiana Hakim melalui “Seeking  “Unity in Diversity”: Contemporary Children’s Books in Indonesia”, menyayangkan bahwa sebagian besar buku cerita anak di Indonesia cenderung sebagai sarana penyampai pesan. Buku tersebut mengeyampingkan aspek sastra dan terlalu terlalu didaktik dalam penyampaian pesan moral. Padahal, pesan moral tetap dapat dipahami melalui cerita yang menarik dan karakter yang kuat.

Hunt mengungkap bahwa seringkali sastra anak dipandang sebagai pilar terakhir dari filosofi dulce et utile. Akan tetapi, bila ditujukan untuk fungsi praktis dan kreasi belaka, hal itu anggapan yang kurang bijaksana. Cerita anak tidak sesederhana itu. Ia dapat diibaratkan sebagai hutan yang rimbun dan kusut. Memasukinya tidak melulu membuat orang dapat menelusurinya dengan mudah, baik dalam membacanya, menulisnya, atau melakukan studi tentangnya.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Bahkan, Hunt mengatakan bahwa orang-orang yang terlibat dengan subjek sastra anak-anak, sering tanpa disadari telah berada di garis depan teori sastra dan kritis. Hal yang sama tampaknya juga berlaku bagi penulisnya karena menciptakan percakapan antara diri masa lalu dan diri di masa kini.

Menulis cerita anak dapat lebih sulit dikarenakan menuntut elemen seperti penokohan yang kuat, plot yang menarik, dan bahasa yang lugas. Hal itu kemudian menjadi lebih kompleks dikarenakan memerlukan kemampuan untuk melihat suatu persoalan dari sudut pandang anak-anak. Karya tersebut kemudian dibaca atau dipahami oleh anak-anak dengan cara yang juga sering tak terduga. Berdasarkan hal itu pulalah Peter Hunt menyatakan sisi kompleks dari sastra anak.

Misalnya, membaca Na Willa yang ditulis oleh Reda Gaudiamo membawa kita pada dunia anak-anak yang tidak sekadar hitam dan putih. Cerita anak yang tidak menggurui atau berakhir dengan amanat-amanat yang didiktekan seperti berkhotbah. Na Willa, dapat dikatakan sebagai refleksi tentang bagaimana seharusnya anak-anak dipahami dan diperlakukan.

Hal yang sama juga ditemukan ketika membaca tetralogi Mata Okky Madasari. Tetralogi tersebut memiliki latar penceritaan yang berbeda-beda serta bukanlah serial yang harus dibaca urut. Hal yang cukup dominan dinarasikan melalui Mata ialah mengenai isu lingkungan serta sejarah. Sekilas hal itu tampak berat untuk dihadapkan kepada anak-anak. Akan tetapi, anggapan itulah yang sebetulnya keliru.

Di Indonesia, cerita anak dianggap kurang penting dan cenderung dianggap begitu sederhana. Hal ini dapat dilihat melalui distribusi buku anak di Indonesia. Buku anak meliputi buku aktivitas yang dapat menunjang keseharian anak-anak, misalnya buku mewarnai, dongeng bergambar, dan buku penunjang pelajaran.

Herdiana Hakim dengan mengutip Prinsloo mengatakan bahwa ketiga bentuk buku anak di atas mendominasi pangsa pasar di Indonesia pada tahun 2019. Akan tetapi, Patjar Merah yang tahun-tahun sebelumnya rutin mengadakan festival buku menemukan bahwa ada satu jenis buku anak yang justru berkebalikan dari ketiga buku anak sebelumnya, yaitu cerita anak.

Windy Ariestanty, penggagas Patjar Merah, mengemukakan beberapa alasan terkait minimnya persebaran cerita anak. Di antaranya, kurangnya peran orang tua dalam memberi contoh aktivitas membaca kepada anak-anak. Selain itu, juga disebabkan oleh masih terbatasnya penulis di Indonesia yang fokus menulis cerita anak. Kemudian, cerita anak yang ditulis masih cenderung dipenuhi oleh nasihat dan petuah yang menggurui.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dari Nirlaba hingga Nirleka

Berita Sesudah

Asal-usul Kata “Parasetamol”

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Ria Febrina

Asal-usul Kata “Parasetamol”

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026